Hanung Bramantyo: Agama dan Sejarah Tak Pernah Jauh dari Film Saya

SINARPAGINEWS.COM, JAKARTA — Bagi sutradara Hanung Bramantyo, agama dan sejarah bukan dua tema yang datang secara kebetulan dalam film-filmnya. Keduanya menjadi bagian dari kegelisahan personal yang terus ia bawa ke layar lebar, termasuk melalui Lobang Buaya: 309 Hari Sebelum Tragedi Berdarah.

Hanung mengatakan ketertarikannya terhadap dua tema tersebut tumbuh dari upaya membaca kembali persoalan yang dekat dengan kehidupan masyarakat Indonesia. Melalui film, ia tidak sekadar ingin menyampaikan cerita, tetapi juga membuka ruang bagi penonton untuk mempertanyakan kembali keyakinan, sejarah, dan pengalaman sosial yang membentuk mereka.

“Di semua film saya, saya selalu ya mulainya dari Perempuan Berkalung Sorban, kemudian ada ? (Tanda Tanya), terakhir apa, Tuhan, Izinkan Aku Berdosa. Saya konsisten cuma dua hal: agama, keyakinan, Islam sebagai mayoritas penduduk di Indonesia, terus kemudian sejarah,” ujar Hanung dalam konferensi pers Lobang Buaya di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Jumat, (25/9/2026).

Bagi Hanung, pilihan terhadap isu agama bukan berarti film harus berubah menjadi ceramah. Ia justru menggunakan karakter dan konflik untuk memperlihatkan bagaimana keyakinan dapat berhadapan dengan persoalan sosial, kekuasaan, maupun pilihan manusia.

Tema sejarah juga memiliki posisi serupa. Hanung beberapa kali menjadikan peristiwa masa lalu sebagai latar untuk mempertanyakan bagaimana masyarakat mengingat sebuah tragedi dan bagaimana generasi berikutnya menerima cerita tentang masa tersebut.

Lobang Buaya dan Ingatan 1965

Dalam Lobang Buaya, Hanung membawa cerita ke Indonesia pada 1964, setahun sebelum peristiwa politik besar pada 1965. Film produksi Adhya Pictures dan Dapur Film itu menggabungkan misteri pembunuhan dengan atmosfer horor.

Hanung tidak memilih horor semata-mata untuk menghadirkan ketakutan. Genre tersebut digunakan untuk menggambarkan suasana yang menurut dia sudah lama melekat pada cara masyarakat mengenang periode 1965.

“Memang serem ternyata. Jadi peristiwa 1965 itu dibuat serem karena memang tujuannya untuk menakut-nakuti bahwa ideologi komunis itu ideologi yang sangat berbahaya,” ujar Hanung saat ditemui dalam gala premiere Lobang Buaya di Epicentrum XXI, Jakarta, Kamis, 25 September 2026.

Hanung sendiri lahir pada 1 Oktober 1975. Ketika kecil, ia kerap menyaksikan tayangan mengenai Gerakan 30 September yang diputar di televisi setiap tahun.

Pengalaman tersebut membentuk ingatannya bahwa sejarah 1965 tidak hanya hadir sebagai informasi mengenai sebuah peristiwa, tetapi juga sebagai cerita yang dibungkus dengan ketegangan dan ketakutan.

Karena itu, Lobang Buaya tidak ditempatkan Hanung sebagai film dokumenter. Ia mempertemukan fiksi dengan latar sejarah Indonesia yang menjadi konteks cerita.

“Ini adalah film yang fiksi dipertemukan dengan satu titik temu dengan sejarah latar belakang negara kita yang sampai hari ini belum terungkap,” kata Hanung.

Berangkat dari Keresahan Saat Pandemi

Gagasan membuat Lobang Buaya juga tidak lahir dalam waktu singkat. Hanung mengatakan proyek tersebut merupakan bagian dari karya personal yang muncul dari proses perenungan selama pandemi.

Ketika aktivitas banyak terhenti, ia memiliki lebih banyak waktu untuk melihat kembali berbagai persoalan yang selama ini mengendap dalam pikirannya.

“Film ini adalah bagian dari rangkaian film personal saya. Ibaratnya pada saat saya pandemi, situasinya kan kita gak bisa ngapa-ngapain ya, jadi kita berkontemplasi di situ dan menghasilkan karya,” ujar Hanung.

Menurut Hanung, proses tersebut membuatnya kembali melihat tema-tema yang selama ini berulang dalam perjalanan kreatifnya. Agama, keyakinan, dan sejarah menjadi bagian dari persoalan yang terus ia pertanyakan melalui karya.

Ia juga tidak menutup perhatian terhadap sejarah kelam Indonesia lainnya, termasuk peristiwa 1998.

“Karena kita tidak pernah, terutama sejarah kelam dua peristiwa besar, yaitu ’65 dan ’98. ’65 tadi sudah saya ceritakan, ’98 sampai hari ini juga masih belum terjawab di mana mereka yang pada tidak pulang ke keluarganya, ke anaknya, ke istrinya. Di mana mereka?” ujar Hanung.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa bagi Hanung, sejarah bukan sekadar latar waktu dalam sebuah film. Sejarah menjadi ruang untuk membicarakan ingatan, kehilangan, dan pertanyaan yang belum memperoleh jawaban.

Misteri Pembunuhan Setiap Tanggal 30

Cerita Lobang Buaya berpusat pada Letnan Soegeng yang diperankan Baskara Mahendra. Ia ditugaskan menyelidiki serangkaian pembunuhan di Desa Lobang Buaya.

Sejumlah tokoh penting ditemukan meninggal satu per satu. Kejanggalan muncul karena kematian tersebut memiliki pola dan terus terjadi setiap tanggal 30.

Soegeng kemudian bergerak dari satu petunjuk ke petunjuk lainnya. Namun, informasi mengenai kasus tersebut tidak langsung diberikan kepada penonton.

Baskara mengatakan kondisi itu menjadi tantangan dalam memerankan Soegeng. Karakternya harus terus mengalami perubahan pemahaman seiring terbukanya informasi baru.

“Setiap scene, setiap adegan pasti akan berbeda sama adegan sebelumnya. Sedikit dibuka terus sama skripnya, dibuka lagi apa yang terjadi,” ujar Baskara.

Soegeng, kata Baskara, dibuat sebagai mata penonton. Apa yang belum diketahui Soegeng juga belum tentu diketahui penonton.

Hanung sengaja mempertahankan pola tersebut agar Lobang Buaya tidak berhenti pada pertanyaan mengenai siapa pelaku pembunuhan. Ia ingin penyelidikan berkembang menjadi pencarian yang lebih menyeluruh.

“Yang saya inginkan adalah ada semacam rekonsiliasi atau investigasi yang benar, yang menyeluruh, sehingga kemudian ada jawaban dengan pasti,” kata Hanung.

Dengan pendekatan itu, penonton tidak hanya diarahkan mengikuti teka-teki pembunuhan, tetapi juga melihat bagaimana sebuah tragedi dapat terbentuk dalam konteks sosial dan sejarah tertentu.

Film sebagai Jembatan Generasi Muda

Pemeran Sukarya, Mathias Muchus, melihat film tersebut memiliki peluang untuk menjadi jembatan bagi generasi muda yang ingin mengenal sejarah Indonesia.

“Film ini bisa menjembatani anak-anak muda kalau dia ingin tahu sejarah, setidak-tidaknya mengenai pengorbanan sekian ribu orang yang bergelimpangan secara misterius,” kata Mathias.

Namun, Lobang Buaya tetap merupakan karya fiksi. Latar sejarah digunakan sebagai konteks, sementara misteri pembunuhan menjadi penggerak cerita.

Hanung memilih pendekatan tersebut agar pembicaraan mengenai sejarah tidak hanya berlangsung melalui buku atau dokumentasi, tetapi juga melalui medium populer yang dapat menjangkau penonton lebih luas.

Pemain Persiapkan Mental

Bobot cerita membuat para pemain juga melakukan persiapan khusus. Anya Zen, pemeran Ningsih, mengatakan persiapan dilakukan dari sisi karakter, fisik, hingga mental.

Ia bahkan berdiskusi dengan psikolog untuk menjaga batas antara dirinya dan karakter yang diperankan.

“Saya perlu menjaga supaya saya tidak merasa apa yang terjadi kepada Ningsih itu terjadi kepada Anya,” ujar Anya.

Sementara itu, Carissa Perusset yang memerankan Arum melakukan pendalaman karakter melalui diskusi dan workshop bersama pemain lain. Proses tersebut dilakukan untuk membangun hubungan antarkarakter sebelum syuting.

Adhya Pictures Siapkan Universe

Selain film layar lebar, Adhya Pictures membuka kemungkinan mengembangkan Lobang Buaya sebagai intellectual property atau IP dalam jangka panjang.

Badewung, mewakili Adhya Pictures, mengatakan pihaknya ingin cerita tersebut tidak berhenti pada satu film.

“Kita ingin membuat sebuah film atau produk yang IP-nya itu bisa berlangsung panjang, jadi ada universe-nya,” ujar Badewung.

Belum ada penjelasan lebih rinci mengenai bentuk pengembangan universe tersebut.

Untuk saat ini, Lobang Buaya menjadi ruang bagi Hanung Bramantyo mempertemukan horor, misteri pembunuhan, agama, dan sejarah dalam satu karya. Film tersebut tidak menawarkan sejarah sebagai jawaban yang selesai, melainkan sebagai sesuatu yang terus dipertanyakan dan dibaca kembali.

Lobang Buaya: 309 Hari Sebelum Tragedi Berdarah dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia mulai 1 Oktober 2026.**

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *