Menejemen Resiko Mesti Diperhitungkan.

Fluktuasi Rasio NPL Dimasa Pandemi

Fluktuasi Rasio NPL Dimasa Pandemi Ismet spn Fluktuasi Rasio. Foto: Ist.
INDONESIA telah terkena pandemi Covid-19 pada awal bulan maret 2020. Hal itu mengakibatkan banyak resiko yang terjadi diberbagai lembaga. Salah satu bidang yang terkena risiko adalah di lembaga keuangan.
 
Menurut Undang-undang Nomor 7 Tahun 1992, ”Lembaga keuangan adalah semua badan yang melalui kegiatan-kegiatannya di bidang keuangan, menarik uang dari dan menyalurkan ke dalam masyarakat.” Dari semua badan di bidang keuangan, yang termasuk ke dalam lembaga keuangan salah satunya adalah bank.
 
“Bank adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan atau bentuk-bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak.” Sebagaimana yang telah tercantum dalam Undang-undang Nomor 10 Tahun 1998.
  
Dunia perbankan memiliki kegiatan manajemen, salah satunya adalah manajemen risiko. Meskipun perbankan memiliki manajemen risiko, akan tetapi risiko tidak dapat dihindari. Salah satu risiko yang terjadi adalah risiko kredit. Dimana banyak nasabah tidak mampu memenuhi kewajibannya kepada pihak bank.
 
Rasio untuk mengukur berapa risiko yang terjadi disebut rasio Non Performing Loan (NPL). Non Performing Loan (NPL) adalah jumlah tunggakan kredit debitur pada bank selama periode tertentu yang dinyatakan dalam persentase.
 
Source : Statistik Perbankan Indonesia
 
Berdasarkan grafik di atas, terlihat bahwa rasio Non Performing Loan (NPL) pada bulan November 2018 – 2020 mengalami fluktuasi. Grafik rasio Non Performing Loan (NPL) yang terjadi sebelum pandemi memang sudah mengalami fluktuasi, akan tetapi fluktuasi nilai tersebut berada di angka yang masih rendah.
 
Sedangkan fluktuasi yang terjadi pada saat awal pandemi terjadi hingga sekarang masih berlangsung, berada di angka yang terbilang tinggi.
 
Rasio Non Performing Loan (NPL) yang paling rendah sebesar  2,39% terjadi pada bulan Desember 2018, sebelum terjadi pandemi Covid-19. Sedangkan rasio Non Performing Loan (NPL) yang paling tinggi sebesar 3,22% terjadi pada bulan Juli-Agustus 2020, sedang terjadinya pandemic Covid-19.
 
Maka, dapat disimpulkan bahwa pada masa pandemi terdapat banyaknya nasabah yang tidak dapat memenuhi kewajibannya kepada bank. Hal itu dibuktikan dengan tingginya rasio Non Performing Loan (NPL) pada bulan Juli-Agustus 2020.
 
Dengan adanya resiko kredit tersebut bank dapat melakukan beberapa mitigasi. Diantaranya dengan analisis 5C dan restruktrurisasi kredit. 
 
Di Indonesia, banyak bank yang menggunakan rekstrukturisasi kredit. Rekstrukturisasi kredit adalah upaya yang dilakukan bank dalam rangka membantu nasabah. Hal itu dilakukan agar nasabah dapat menyelesaikan kewajibannya.
 
Retrukturisasi hanya diberikan bagi nasabah yang mengalami penurunan kemampuan pembayaran. Selain itu, diberikan kepada nasabah yang memiliki prospek usaha yang baik dan mampu memenuhi kewajiban setelah di restrukturisasi.
 
Pelaksanaan restrukturisasi wajib di dukung dengan analisis dan bukti yang memadai dan didokumentasikan dengan baik. Contohnya seperti laporan keuangan yang menunjukan perbaikan kinerja, sumber pembayaran lain yang jelas.
 
 
 
Penulis:
 
Cindy Ramadanty, Nova Riyanti, Wida Widiya Ningsih (Mahasiswa Perbankan Syariah Sekolah Tinggi Ekonomi Islam Bina Muda Bandung).
 
 
 
Editor:
 
Andi

Editor: Dimas Madia

Bagikan melalui:

Komentar