Saling Bantu dan Gotong Royong, Jangan Ambil Untung Sendiri Saat Pandemi!

Saling Bantu dan Gotong Royong, Jangan Ambil Untung Sendiri Saat Pandemi! Dok Ilustrasi (Mindra Purnomo)

SINARPAGINEWS.COM, PEREMPUAN - Pandemi itu membuat susah semua orang. Susah mendapat pekerjaan, susah mendapatkan penghasilan, susahnya belajar, sampai susahnya mendapatkan pengobatan bagi pasien pengidap Covid-19.

Beragam kesusahan yang dialami oleh masyarakat, masih ada saja oknum yang menjadikan pandemi sebagai ladang bisnis. Padahal, seharusnya semua elemen masyarakat turut membantu untuk pemulihan.

Di awal 2020 tepatnya virus korona masuk ke Indonesia, beberapa oknum memanfaatkan untuk menimbun masker dan menjualnya dengan harga yang mahal. Hal itu membuat sebagian orang geram atas kejadian itu.

Belum lama, modus layanan pemeriksaan cepat (Rapid Test) Antigen di Lantai Mezzanine, Bandara Internasional Kualanamu, Deliserdang digrebek polisi.

Ternyata, oknum tersebut memakai alat daur ulang terbongkar setelah digerebek petugas Polda Sumatera Utara (Sumut), Rabu (27/4/2021).

Di Jawa Timur, Ditreskrimum Polda Jawa Timur menyita 129 tabung oksigen berbagai ukuran yang dijual melebihi Harga Eceran Tertinggi (HET).

Pelaku diketahui menimbun seratusan tabung oksigen itu dan dijual diatas HET yaitu Rp750 ribu bahkan harga yang dijual oleh penimbun tabung oksigen itu bisa sampai 2 hingga 3 kali lipat.

Terbaru, oknum yang menimbun obat untuk pasien Covid-19. Terkini, Polisi menutup gudang obat milik PT ASA pada Jumat (9/7/2021) lantaran kedapatan menimbun obat-obatan yang digunakan dalam penanganan Covid-19. Gudang tersebut berlokasi di Jalan Peta Barat, Kalideres, Jakarta Barat.

Sebagai informasi, PT ASA diketahui sebagai salah satu Pedagang Besar Farmasi (PBF) yang dapat menyalurkan obat dalam jumlah banyak.

Menurut Kapolda Metro Jaya, Irjen Pol Fadil Imran polisi telah menangkap tiga kelompok penimbun obat-obatan maupun alat kesehatan yang berkaitan dengan penanganan Covid-19.

"Untuk penimbun obat-obatan terkait dengan Covid-19, kami sudah tangkap 3 kelompok. Baik itu (menimbun) avigan, ivermectin, dan tabung oksigen. Sekarang sedang diproses," kata Fadil,

"Tim juga terus bekerja mulai dari hulunya, mulai dari pabriknya, distributornya, kemudian kami kawal sampai ke toko-toko obat dan apotek agar tidak ada kebocoran distribusi obat," kata dia.

Fadil mengungkapkan, polisi juga mengawal pendistribusian obat agar stoknya tetap tersedia. Pengawalan itu juga dilakukan agar harga obat tak melebihi harga eceran tertinggi (HET) yang telah ditentukan.

Polisi sempat menutup sebuah toko di kawasan Matraman, Jakarta Timur, lantaran menjual ivermectin di atas HET. Pemilik toko berinisial R juga sudah diamankan polisi.

"Ada yang mencoba bermain nakal. Harga ini ditemukan sekitar Rp 475.000 per satu kotak (ivermectin)," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Yusri Yunus.

Langkah Polri menindak oknum nakal yang memanfaatkan pandemi sebagai ladang bisnis diapresiasi oleh Ketua Komisi III DPR RI, Herman Hery. Ia mengatakan langkah cepat Polri menindak mafia yang menimbun obat untuk para pasien Covid-19 sangat bagus. Hal itu merupakan tindakan tegas kepada para oknum tersebut.

"Saya sangat mengapresiasi langkah cepat Polri, mengingat masyarakat khususnya penderita Covid-19 sangat membutuhkan obat-obatan tersebut," ujar Herman.

Saling bantu dan gotong royong

Alangkah baiknya, semua elemen masyarakat turut membantu mengatasi pandemi saat ini. Mereka perlu tingkatkan gotong royong tanpa mengambil keuntungan ‘jorok’ dari pandemi.

Ketua DPR RI, Puan Maharani menyayangkan pernyataan sejumlah pihak yang berpotensi melukai hati rakyat. Menurutnya, sikap seperti itu tak pantas karena terlihat ingin mengambil keuntungan secara politik saat pandemi Covid-19.

"Yang kita butuhkan saat ini adalah imun, rasa empati, dan gotong royong yang kuat untuk bisa sama-sama keluar dari masa-masa sulit ini. Bukannya ucapan yang saling melemahkan dan mengikis persatuan," ujarnya.

Ketua DPP PDIP itu meminta semua pihak menyingkirkan perbedaan dan bergotong-royong untuk mengatasi virus corona, yang merebak sejak tahun lalu di Indonesia.

"Singkirkan dulu segala perbedaan itu untuk menjawab persoalan kemanusiaan ini dengan berempati dan bergotong-royong agar kita bisa melakukan yang terbaik untuk ikut membantu menanggulangi wabah ini," katanya.

Puan mengatakan virus corona menginfeksi tanpa memandang suku, agama, ras, dan kelompok. Maka dari itu, kata dia, segala perbedaan harus dikesampingkan dulu demi melawan virus yang sudah menyusahkan hidup masyarakat Indonesia selama lebih dari satu tahun ini.

Editor: Red

Bagikan melalui:

Komentar