Pemasangan Baliho Masih Efektif di Era Digitalisasi

Pemasangan Baliho Masih Efektif di Era Digitalisasi Dok poto primaintiadv.com

SINARPAGINEWS.COM, PEREMPUAN - Fenomena pemasangan baliho tokoh politik tengah menjadi pembicaraan publik. Pasalnya, tokoh - tokoh tersebut dinilai sedang kampanye untuk maju ke Pemilihan Presiden 2024.

Para pengamat politik beranggapan bahwa dengan adanya baliho tokoh politisi merupakan tanda sebagai pemanasan menuju Pilpres 2024.

Lantas, di era digitalisasi ini apakah efektif memasang baliho untuk branding?

Menurut pengamat politik, kampanye yang paling mungkin adalah lewat alat peraga yang bisa dilihat semua orang yaitu atribut media-media di luar ruangan. Baliho sampai hari ini jadi alat memperkenalkan diri paling mungkin.

Selain itu, kampanye dengan baliho atau spanduk itulah yang paling efektif dan efisien. Ada memang model kampanye lain yang bisa meningkatkan elektabilitas yaitu blusukan.

Salah tokoh yang sedang ramai dibicarakan karena balihonya bertebaran, adalah Puan Maharani. Salah satunya di Jawa Timur, Surabaya.

Baliho berukuran besar itu hanya menampilkan foto diri Puan berbaju merah khas PDIP dengan tulisan minimalis: Mbak Puan.

Baliho Puan terlihat di antaranya di Jalan Pasar Kembang, Dukuh Kupang, Gunung Sari, Jemur Andayani, Karah Agung, Menur Pumpungan, dan Jalan Kendangsari yang tak jauh dari kantor DPD PDIP Jawa Timur. Juga di Kecamatan Kanigaran, Probolinggo. Keberadaan baliho Puan itu berbarengan dengan isu dirinya bakal maju di Pemilihan Presiden 2024.

Pengamat politik dari Universitas Trunojoyo Madura Surokim Abdussalam berpendapat, munculnya baliho Puan sebagai tanda pemanasan Pilpres 2024. Menurutnya, hal itu sejalan dengan pernyataan sejumlah elite PDIP yang ingin memajukan putri dari sang ketua umum, Megawati Soekarnoputri itu.

"Saya menganggapnya sebagai pemanasan dan ekspansi basis dukungan agar lebih dekat dengan pemilih nasional. Ya, semacam penguatan untuk kampanye udara. Upaya itu juga bisa dibaca sebagai ikhtiar untuk menguatkan basis dukungan internal di basis-basis PDIP," kata Surokim.

Menurut peneliti senior Surabaya Survey Center itu, Puan dan PDIP memang sudah waktunya melakukan ekspansi basis dukungan. Tidak lagi sekadar mengandalkan Jawa Tengah yang menjadi basis konstituennya. Jawa Timur dan Jawa Barat yang secara demografis sangat menentukan juga perlu diperhatikan dan diperkuat.

"Puan ini sekarang kan, medan kontestasinya nasional. Jadi sudah waktunya ekspansi basis dukungan, daerah-daerah yang punya basis pendukung PDIP kuat seperti Surabaya harus juga menjadi perhatian bagi mbak Puan agar kian dikenal, disukai dan akan membentuk elektabilitasnya," tandas Surokim.

Dalam banyak hal, Puan disebutnya memiliki modal yang tidak dimiliki oleh semua politisi, seperti darah biru dari Presiden RI pertama Soekarno. Namun, dalam konteks pemilihan langsung, papar Surokim, Puan membutuhkan popularitas dan elektabilitas yang memadai.

"Dalam konteks pemilu langsung kekinian, publik yang kian kritis juga menuntut Mbak Puan terlihat smart dan menjadi komunikator publik yang andal. Jadi, Mbak Puan juga perlu meningkatkan kapasitas, kompetensi komunikasi publiknya dan yang paling penting juga menjadi media darling agar modal gen darah biru itu juga menjadi komplemen dari kapasitas politik beliau sebagai tokoh nasional," kata Surokim.

Ia menilai pemasangan baliho berdampak positif secara politik bagi Puan. Semakin banyak baliho dipasang maka semakin banyak pula masyarakat yang tahu tentang Puan dan kiprahnya.

“Minimal bisa memantik rasa ingin tahu publik serta menguatkan nama beliau dibenak pemilih non-PDIP. Sebagai kader genuine PDIP dan memiliki trah darah biru, saya pikir potensi Mbak Puan tetap kuat untuk ke 2024," ujar Surokim.

Kerja Nyata

Tak hanya mengenalkan diri melalui baliho, Puan Maharani juga turun langsung menyapa masyarakat melalui kunjungan kerjanya. Bisa dibilang, Puan memiliki personalitas yang sederhana, simple, konsisten, lugas dan tegas dalam berkata dan bersikap.

Beliau menghargai apapun komitmen, tugas yang diembannya. Lebih memilih bekerja dalam senyap atau beraksi tanpa perlu sesumbar untuk sebuah popularitas.

Maka dari itu, ia sempat menyindir pemimpin yang hanya bermain Menurutnya pemimpin sebaiknya juga dikenal di dunia nyata oleh para pendukungnya. Puan tak menyebut nama siapa yang disindirnya ini.

"Pemimpin itu ke depan adalah pemimpin yang ada di lapangan bukan di sosmed. Pemimpin yang memang dilihat teman-temannya, orang-orang yang mendukungnya. Ada di lapangan, bukan hanya di media," kata Puan.

Editor: Red

Bagikan melalui:

Komentar