Menilik Lebih Jauh Adaptasi Pendidikan di Era New Normal

Menilik Lebih Jauh Adaptasi Pendidikan di Era New Normal Dok Kredit visual: akun IG @nadiem.makariem

SINARPAGINEWS.COM, PEREMPUAN - Dunia pendidikan Indonesia memiliki sejumlah tantangan akibat adanya pandemi. Bagaimana tidak, dalam kondisi seperti ini masyarakat dituntut untuk bersikap adaptif terhadap transformasi yang terjadi dalam berbagai sektor kehidupan, tak terkecuali dalam dunia pendidikan.

Terhitung sejak Maret 2020, kondisi pandemi di Indonesia belum juga memperlihatkan kondisi membaik. Pembatasan sosial yang telah tertuang dalam Peraturan Pemerintah nomor 21 tahun 2020 dalam rangka Percepatan Penanganan Covid-19 di Indonesia telah memaksa sekitar 68 juta pelajar dirumahkan dalam proses pembelajaran. Pandemi Covid-19 juga telah merenggut hak dan kebebasan para pelajar dalam mengembangkan potensi diri baik dalam pendidikan formal maupun non-formal.

Perubahan cara belajar masa pandemi atau dikenal dengan istilah pembelajaran daring nyatanya bukan sebuah formula dalam mengatasi permasalahan pendidikan di Indonesia. Perubahan tersebut justru mengakibatkan kegagapan dalam menjawab tantangan di setiap perubahan yang terjadi.

Melalui kebijakan pembelajaran daring tersebut banyak pihak terkait yang terlihat belum siap. Ini dapat kita lihat dari sisi penguasaan IT pendidik, ekonomi siswa, jangkauan teknologi menurut letak geografis dan lain-lain.

Menteri pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim mengatakan “kita harus jujur dalam proses adaptasi ke online learning juga sangat sulit, paling tidak masih ada pembelajaran terjadi daripada sama sekali tidak ada pembelajaran”.

Mencermati kondisi pendidikan yang demikian, tidak menutup kemungkinan akan terjadi loss generation atau bahkan education death. Ini berarti bahwa pendidikan selama pandemi sebagai proses yang mengiringi pembelajaran tak hadir secara nyata dan bahkan mengarah pada kepunahan.

Namun, menurut pengamat Pendidikan dari Universitas Negeri Padang (UNP) Dr. Hadiyanto, M. Ed menilai pembelajaran daring tidak harus menjadi kendala untuk pendidikan karakter di sekolah. Sebab, metode ajar bisa disesuaikan dengan kondisi.

"Pendidikan karakter ini lebih mudah diajarkan dengan menunjukkan keteladanan. Guru bersikap sesuai nilai dan norma kebaikan yang bisa dicontoh secara langsung oleh murid. Secara tatap muka pembelajarannya mungkin lebih maksimal, tetapi secara daring hal itu tentu tetap bisa dilakukan," katanya.

Ia mencontohkan sebelum memberikan materi pendidikan secara daring melalui rekaman video atau aplikasi lain, guru tetap memulai dengan berdoa sesuai keyakinan masing-masing. Dengan demikian, nilai religius sebagai salah satu pondasi pendidikan karakter tetap bisa tertanam.

Guru juga bisa menyelipkan cerita tentang keteladanan dalam materi ajar sehingga murid terpancing untuk ingin tahu lebih jauh. Atau bisa juga dengan memberikan tugas bagi siswa yang berkaitan dengan nilai-nilai pendidikan karakter seperti kejujuran, belas kasih, keberanian, kerjasama dan kerja keras.

"Intinya keteladanan itu bisa diajarkan dengan banyak cara, termasuk secara daring," katanya.

Namun, ia mengakui cukup banyak juga guru yang saat ini belum terlalu fasih dengan teknologi. Apalagi, pandemi Covid-19 yang datang secara tiba-tiba juga memaksa sistem pembelajaran daring dilakukan secara tiba-tiba pula, tanpa persiapan.

Kendala itu bisa menjadi persoalan tersendiri. Sedangkan guru yang fasih teknologi belum tentu mampu berinovasi memberikan materi pembelajaran daring, apalagi guru yang gagap teknologi.

Sebab, itu sudah menjadi sebuah keharusan bagi guru untuk memahami teknologi. Setidaknya yang bisa dimanfaatkan untuk mengajar secara daring meskipun ada solusi lain yang bisa dilakukan yaitu dengan meminta bantuan dari guru-guru Teknologi dan komunikasi (TIK).

PTM Terus Dievaluasi

Saat ini telah dilaksanakan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) hari pertama. Hal itu agar murid sekolah bisa belajar dengan efektif. Tentu hal itu dibarengi oleh pembelajaran daring oleh sejumlah sekolah.

Melihat hal itu, Ketua DPR RI Puan Maharani meminta sekolah melakukan berbagai evaluasi. Hal ini menurutnya penting untuk melakukan perbaikan-perbaikan PTM ke depannya.

"Evaluasi juga bertujuan agar pihak sekolah bisa mengetahui berbagai kekurangan dalam pelaksanaan pembelajaran tatap muka sehingga bisa segera melakukan perbaikan-perbaikan yang akan lebih menunjang pelaksanaan sekolah tatap muka terbatas," kata Puan.

Sejumlah daerah yang berada dalam status Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Level 3-1 hari ini mulai menerapkan PTM terbatas, termasuk DKI Jakarta. Pelaksanaan sekolah tatap muka ini dilakukan secara bergantian dengan membagi siswa dalam beberapa kelompok belajar, mengingat ada syarat kapasitas dalam setiap kelas.

Puan mengingatkan pihak sekolah agar menjalankan protokol kesehatan (Prokes) yang ketat di sekolah. Pedoman Prokes ini sudah diatur dalam SKB 4 Menteri tentang Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran di Masa Pandemi Covid-19

"Jalankan standar Prokes sesuai pedoman, dan tenaga pendidik harus lebih ekstra dalam membimbing anak-anak, khususnya untuk siswa SD di tingkat terkecil, agar selalu tertib menjaga jarak dengan teman-temannya," jelasnya.

Puan meminta pihak sekolah mengutamakan prinsip kehati-hatian dan terus melakukan mitigasi protokol kesehatan sesuai imbauan dari Satgas Penanganan Covid-19. Kemudian, fasilitas dan sarana prasarana penunjang sekolah tatap muka di era pandemi Covid-19 harus disiapkan sebaik-baiknya.

"Juga selalu ingatkan siswa agar tidak berkerumun dan pastikan mereka untuk langsung pulang ke rumah setelah PTM selesai," tambahnya.

Puan pun meminta agar pihak sekolah tetap memberikan pelayanan terbaik kepada siswa yang tidak mendapatkan izin mengikuti PTM dari orangtuanya. Sekolah harus bisa memahami kekhawatiran maupun ketidaksiapan orangtua melepas anaknya ke sekolah.

"Maka saya mendorong daerah untuk cepat menyelesaikan program vaksinasi kepada anak-anak yang telah memenuhi syarat mendapatkan vaksin. Dengan begitu, kekhawatiran orangtua akan berkurang saat mengirimkan anak-anaknya kembali belajar ke sekolah," imbau Puan.

Politikus PDIP itu mendukung pembelajaran tatap muka dilakukan di daerah-daerah yang memenuhi syarat dan di sekolah-sekolah yang telah siap menerapkannya. Sebab menurut Puan, ada banyak kendala yang muncul dari pelaksanaan sekolah daring selama ini.

"Untuk pihak sekolah, Disdik, orangtua dan wali murid, mari awasi secara bersama pelaksanaan sekolah tatap muka ini, demi keamanan belajar anak-anak kita," ujar Puan.

Editor: Red

Bagikan melalui:

Komentar