Perempuan Mampu dalam Berbagai Bidang Pembangunan

Perempuan Mampu dalam Berbagai Bidang Pembangunan Dok Kredit visual: freepik.com

SINARPAGINEWS.COM,PEREMPUAN - "Yang miskin tambah miskin, yang kaya makin kaya" mungkin ungkapan itu bisa mewakili sebagian masyarakat Indonesia. Belum lagi bagi kaum perempuan Indonesia.

Perempuan miskin di Indonesia mengalami ketimpangan dalam mendapatkan haknya. Ini bisa diamati dari berbagai bidang pembangunan.

Menurut, Deputi Bidang Pembangunan Manusia, Masyarakat, dan Kebudayaan Kementerian PPN/Bappenas Subandi mengatakan bahwa dari sisi perlindungan sosial, ada 29 persen dari perempuan keluarga miskin belum terdaftar jaminan kesehatan nasional-kartu Indonesia sehat pada 2007.

“Di ketenagakerjaan, partisipasi kerja perempuan di keluarga miskin lebih timpang 42 persen dibandingkan partisipasi kerja laki-laki di kelompok yang sama yaitu 77 persen. Artinya, banyak perempuan miskin yang tidak bekerja,” katanya

Subandi menjelaskan bahwa selama 12 tahun terakhir, kekerasan terhadap perempuan meningkat. Pada 2019 ada 431.000 kasus ditemui.

“Ketimpangan makin parah di situasi pandemi Covid-19. Hasil dampak sosial dari Badan Pusat Statistik, penurunan pendapatan di masa PSBB, justru terjadi pada 71 persen dari pendapatan rendah meski ini lebih sulit bagi perempuan yang merupakan kepala keluarga, lansia, dan disabilitas,” jelasnya.

Berdasarkan data tersebut, program penanggulangan kemiskinan di tingkat nasional dan daerah harus bisa dipastikan untuk meningkatkan partisipasi kesejahteraan perempuan.

“Untuk itu perlu bagi kami menganalisa data lebih dalam dan memahami konteks di masing-masing daerah apa yang menjadi faktor pendorong dan penghambat perempuan miskin,” terang Subandi.

Adapun, ketimpangan gender di Indonesia masih tinggi membuat perempuan sulit mendapatkan hak baik dari sisi sosial hingga ekonomi. Berdasarkan catatan Global Gender Gap Report, posisi Indonesia di 83 dari 153 negara. Subandi mengatakan bahwa dari sisi ekonomi, kesenjangan kemiskinan antara perempuan dan laki-laki sangat timpang.

“Kemiskinan perempuan lebih tinggi hampir di semua tingkatan umur dan di hampir semua wilayah. Umur harapan hidup perempuan yang panjang mengalami periode kemiskinan yang lama,” katanya.
Menurut laporan Kesenjangan Gender Global 2021 yang dirilis Forum Ekonomi Dunia pada Maret 2021 mengungkapkan karena dampak pandemi covid-19 terus dirasakan, untuk menutup kesenjangan gender global telah meningkat satu generasi dari 99,5 tahun menjadi 135,6 tahun.

Kemajuan menuju kesetaraan gender terhenti di beberapa sektor ekonomi dan industri besar. Ini sebagian karena perempuan lebih sering bekerja di sektor-sektor yang paling terpukul oleh penguncian (lockdown). Selain itu, beban mereka semakin bertambah di rumah dengan adanya penutupan sekolah.

Selain itu, memasuki tahun ke-15, menjadi tolok ukur evolusi kesenjangan berbasis gender di empat bidang, yakni partisipasi dan peluang ekonomi, pencapaian pendidikan, kesehatan dan kelangsungan hidup, serta pemberdayaan politik.

Sementara itu, kesenjangan gender di bidang ekonomi hanya mengalami sedikit perbaikan sejak edisi 2020 dan diperkirakan akan memakan waktu 267,6 tahun lagi untuk menutupnya.

Kemajuan yang lambat disebabkan oleh tren yang berlawanan - sementara proporsi perempuan di antara profesional terampil terus meningkat, kesenjangan pendapatan tetap ada dan hanya sedikit perempuan yang terwakili dalam posisi manajerial.

Dengan begitu, kesenjangan gender dalam pendidikan dan kesehatan hampir tertutup. Di bidang pendidikan, meski 37 negara telah mencapai kesetaraan gender, dibutuhkan waktu 14,2 tahun lagi untuk sepenuhnya menutup kesenjangan ini karena kemajuan yang melambat. Di bidang kesehatan, lebih dari 95% kesenjangan gender ini telah ditutup, mencatat penurunan marjinal sejak tahun lalu.

Melihat hal itu, Ketua DPR RI Puan Maharani terus memperjuangkan kesetaraan gender di Indonesia. Saat ia didaulat menjadi salah satu panelis dalam '13th Summit of Women Speakers of Parliament' di Wina, Austria, Puan diminta menjadi panelis karena perannya dalam komite persiapan yang bertugas menyiapkan substansi pertemuan para ketua parlemen perempuan dunia tersebut.

Dalam forum itu, Puan menyatakan dukungan terhadap akses dan peran perempuan yang lebih besar dalam penanganan pandemi Covid-19. Dia menyampaikan, peringkat vaksinasi Indonesia yang berada di ranking ke-7 dunia, juga tidak terlepas dari peran perempuan yang menjadi tenaga kesehatan dan vaksinator.

"Kami mendorong terus pemerataan vaksin secara cepat kepada seluruh rakyat. Di Indonesia tingkat vaksin pertama dan kedua telah mencapai 100 juta (penyuntikan)," kata Puan.

Sebelumnya pada sesi 'Women on The Pandemic: A Tribute to Every Day Heroes,' para peserta menyampaikan pandangan pro dan kontra terkait tema apakah perempuan yang bekerja di garda terdepan selama pandemi Covid-19 lebih efektif dalam memberikan perawatan dan pelayanan dibandingkan laki-laki di bidang yang sama.

Dalam isu ini, Puan menyatakan kesetaraan gender dapat dicapai dengan partisipasi dan dukungan seluruh elemen masyarakat, baik perempuan maupun laki-laki. Sehingga, tak perlu mengkontradiksi peran perempuan atau laki-laki.

Editor: Red

Bagikan melalui:

Komentar