Tradisi vs Alam, Ketika 1.400 Lumba-Lumba Jadi Korban Tradisi di Kepulauan Faroe, Denmark

Tradisi vs Alam, Ketika 1.400 Lumba-Lumba Jadi Korban Tradisi di Kepulauan Faroe, Denmark Dok SPN Kredit visual: Freepik.com

SINARPAGINEWS.COM,PEREMPUAN - Tradisi nenek moyang tak selalu bersandingan dengan alam. Beberapa tradisi justru mengeruk kekayaan alam dengan rakus. Seharusnya, manusia yang bijak mampu mengambil jalan tengah, mengambil hanya yang diperlukan dari alam dan merawatnya agar tetap lestari.

Budaya perburuan lumba-lumba di Kepulauan Faroe, Denmark, kini menjadi sorotan dunia. Perburuan yang katanya sudah menjadi budaya dan identitas Faroe sejak abad ke-9 ini telah membunuh 1.400 lumba-lumba dalam satu hari yang kelam pada Minggu, 12 September 2021.

Lumba-lumba bersisi putih alias white-sided dolphin atau leucopleurus acutus ini digiring dari tengah laut menuju perairan dangkal oleh kapal. Ribuan lumba-lumba terperangkap di antara kapal dan tebing terjal di wilayah Atlantik Utara itu.

Mereka menggeliat, mencoba berenang bebas, namun mereka tak punya celah untuk kabur. Akhirnya ratusan lumba-lumba terdampar di daratan, sebagian lain menggeliat mencoba bertahan di perairan dangkal pantai Skalabotnur di Eysturoy.

Lalu, sekumpulan warga Kepulauan Faroe yang telah bersiap, mulai membantai lumba-lumba tersebut. Mamalia yang tak berdaya itu harus melihat teman dan kerabatnya mati satu per satu, sambil menghirup air yang berubah warna kemerahan, menunggu giliran ajalnya tiba.

Ratusan warga mengitari pantai, menonton pembantaian tersebut. Kemudian, tubuh lumba-lumba ditarik ke darat dan dibagikan kepada mereka untuk dikonsumsi.

Memecahkan rekor

Perhatian internasional kini tertuju pada kisah memilukan itu. Jumlah lumba-lumba yang dibunuh itu memecahkan rekor tangkapan sepanjang masa sejak pertama perburuan dilakukan di Kepulauan Faroe.

Perburuan mamalia laut, terutama paus, adalah tradisi yang telah dipraktikkan selama ratusan tahun di Kepulauan Faroe yang terpencil. Perburuan mamalia laut dikenal sebagai grind atau Grindadrap dalam bahasa Faroe.

Tradisi tersebut memang sudah mengantongi izin resmi pemerintah. Pemerintah Faroe pun mengatakan rata-rata sekitar 600 paus pilot ditangkap setiap tahun. Biasanya, lumba-lumba sisi putih ditangkap dalam jumlah yang lebih rendah, seperti 35 pada tahun 2020 dan 10 pada tahun 2019.

Menurut Bjarni Mikkelsen, seorang ahli biologi kelautan dari Kepulauan Faroe, jumlah lumba-lumba yang dibunuh Minggu lalu adalah rekor terbesar dalam satu hari di Kepulauan Faroe, wilayah otonomi Denmark.

Dia mengatakan rekor sebelumnya adalah 1.200 pada tahun 1940, lalu 900 pada tahun 1879, kemudian 856 lumba-lumba pada tahun 1873, dan 854 ekor pada tahun 1938.

Pro dan kontra

Kelompok pendukung penangkapan mamalia laut mengatakan, perburuan paus adalah cara berkelanjutan untuk mengumpulkan makanan dari alam dan bagian penting dari identitas budaya Faroe.

Namun begitu, tak semua orang sependapat. Para aktivis hak-hak hewan telah lama tidak setuju dan menganggap tradisi pembantaian lumba-lumba itu sebagai tindakan yang kejam dan tidak perlu.

Sea Shepherd, organisasi internasional yang berfokus pada perlindungan satwa dan ekosistem laut, juga mengamini bahwa pembantaian lumba-lumba tersebut kemungkinan adalah yang terbesar dalam sejarah.

Robert Read, Direktur Kampanye Sea Shepherd Conservation Society, mengatakan bahwa hal tersebut benar-benar bencana yang sangat tak terduga.

Sea Shepherd pun menyebutkan, pembunuhan lumba-lumba dan paus pilot jarang terjadi secepat yang dilakukan pemerintah Faroe. Perburuan Grindadrap, menurut mereka, bisa berubah menjadi pembantaian yang berlarut-larut dan seringkali tidak terorganisir.

Paus pilot dan lumba-lumba dapat dibunuh dalam waktu lama di depan kerabat mereka saat terdampar di pasir dan batu atau ketika berjuang di air dangkal, lanjut Sea Shepherd.

Sebenarnya, kritikan tersebut sudah sejak lama dilontarkan banyak pihak. Namun, pemerintah setempat tak menggubrisnya, apalagi warga Faroe yang memang merasa tindakan itu sebagai tradisi yang harus dipenuhi.

Sebelum kejadian Minggu lalu, kritik atas praktik perburuan tersebut juga pernah ditayangkan dalam film dokumenter Seaspiracy yang populer di Netflix awal tahun ini. Pembantaian lumba-lumba terus terjadi, setiap tahun di Kepulauan Faroe.


Reaksi internasional telah mendorong dilakukannya jajak pendapat. Survei menunjukkan bahwa kebanyakan orang menentang pembantaian massal lumba-lumba di Kepulauan Faroe.

Pada hari Minggu, reaksi nasional adalah "kebingungan dan keterkejutan karena jumlah yang luar biasa besar", kata Trondur Olsen, seorang jurnalis untuk penyiar publik Faroe Kringvarp Foroya.

Pihaknya pun melakukan jajak pendapat singkat menanyakan apakah warga Faroe harus terus membunuh lumba-lumba ini. Hasilnya, Lebih dari 50% mengatakan tidak, dan lebih dari 30% mengatakan ya.

Sebaliknya, kata dia, jajak pendapat terpisah menunjukkan bahwa 80% mengatakan mereka ingin melanjutkan pembunuhan paus pilot. Jajak pendapat ini memberikan gambaran opini publik terhadap pembunuhan mamalia laut.

(Yogiyani – Anggota Perempuan Indonesia Satu)

Editor: Red

Bagikan melalui:

Komentar