Kekhawatiran PBB atas Kejahatan Israel terhadap Rakyat Palestina

Kekhawatiran PBB atas Kejahatan Israel terhadap Rakyat Palestina Doglas Bali Sekjen PBB Antonio Guterres

SINARPAGINEWS, GAZA - Sekjen Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Antonio Guterres mengaku khawatir atas kondisi sulit kemanusiaan dan perusakan luas infrastruktur vital di Jalur Gaza.

Dilansir dari Pars Today, Melalui tweetnya di media sosial Twitter, Guterres menulis, "Kita menyaksikan penderitaan kemanusiaan luas di Jalur Gaza dan penghancuran rumah serta infrastruktur vital. Saya meminta komunitas internasional untuk memastikan ketersediaan sumber finansial yang cukup untuk aksi kemanusiaan di Gaza."

Statemen ini dirilis ketika serangan udara Israel ke Jalur Gaza terus berlanjut meski ada protes dan penentangan dunia internasional. Serangan brutal ini telah menewaskan dan melukai ratusan warga Palestina termasuk sejumlah besar wanita dan anak-anak.

Laporan terbaru menunjukkan bahwa cadangan bahan bakar di Jalur Gaza habis total, sementara menurut PBB, tugas Israel sebagai penjajah adalah memberi iji bagi pengiriman bantuan kemanusiaan termasuk makanan, bahan bakar dan peralatan medis ke wilayah tersebut. PBB Selasa (18/5/2021) menyatakan bahwa serangan terbaru Israel ke Gaza memaksa sedikitnya 72 ribu orang mengungsi.

Di sisi lain, pakar HAM PBB di statemennya meminta masyarakat dunia menghentikan segera kekerasan di Gaza dan bumi pendudukan serta mengambil keputusan tegas untuk menyelesaikan akar utama konflik yaitu pengingkaran kolektif dan hak individu rakyat Palestina.

Poin penting yang secara eksplisit dinyatakan dalam pernyataan ini adalah serangan rudal Israel berbagai wilayah padat penduduk di Gaza sama halnya dengan serangan membabi-buta dan tidak tepat terhadap warga sipil, dan ada potensi dinyatakan sebagai pelanggaran terhadap hukum perang serta sebuah kejahatan perang.

Pakar HAM PBB juga mengutuk serangan Israel ke gedung kantor berbagai media internasional dan menekankan bahwa kekerasan atau ancaman terhadap wartawan khususnya jurnalis di kawasan konflik, sebuah pelanggaran terhadap kebabasan berekspresi dan hak penyebaran berita oleh media.

Penjelasan pakar HAM bahwa serangan udara Israel terhadap warga Gaza termasuk kejahatan perang, kembali menjadi penekanan bahwa rezim ini tidak memiliki garis merah dalam melakukan beragam kejahatan dan bahkan tak segan-segan menggunakan bom fosfor terhadap warga Palestina di Gaza. Padahal penggunaan senjata ini dinyatakan ilegal oleh hukum internasional.

Dukungan penuh Barat khususnya Amerika Serikat dan sejumlah negara Eropa seperti Jerman atas serangan militer Israel terhadap warga Palestina di Gaza dengan dalih membela diri, dengan baik menunjukkan esensi tak manusiawi dan bermuka dua negara ini yang mengklaim mendukung HAM.

Sementara itu, jumlah korban jiwa dan kerugian besar finansial akibat kehancuran rumah dan infrastruktur di Gaza menunjukkan bahwa Tel Aviv dengan dalih membalas serangan roket muqawama Palestina, secara praktis ingin melakukan genosida dan pemusnahan massal warga Gaza.

Kini rezim Zionis tidak memiliki batasan di serangannya ke sebuah wilayah atau titik dan dengan demikian secara terang-terangan menarget rumah-rumah warga sipil dengan harapan membantai lebih banyak warga Gaza.

Mark Lowcock, deputi sekjen PBB bidang kemanusiaan dan koordinator bantuan darurat PBB seraya mengungkapkan penyesalannya atas kondisi warga Palestina di Gaza mengatakan, "Kami sangat khawatir atas berbagai laporan mengenai berlanjutnya aksi pemboman Israel di Gaza. Tidak ada lokasi aman di Gaza yang selama 13 tahun lalu sebanyak dua juta orang dipaksa mengungsi ke berbagai penjuru dunia."

Di sisi lain, Amerika Serikat sebagai sponsor utama Israel hari Selasa di sidang Dewan Keamanan PBB, untuk keempat kalinya menghalangi perilisan statemen oleh dewan ini yang mengecam aksi-aksi kejahatan Israel dan tuntutan untuk dihentikannya segera serangan membabi-buta dan sadis ini.

Duta Besar Palestina di PBB, Riyad Mansour menilai sangat memalukan ketidakmampuan Dewan Keamanan merilis resolusi terkait peristiwa saat ini atau merilis statemen untuk mengakhiri agresi Israel ke Gaza.

Faktanya, Amerika Serikat dengan memanfaatkan hak vetonya, sampai saat ini sebanyak 44 kali mencegah perilisan resolusi Dewan Keamanan untuk mengecam israel dan pemerintah dari kubu Demokrat AS, Joe Biden yang mengklaim sebagai pendukung HAM masih tetap melanjutkan proses bias dan tak manusiawi ini. (MF)

Editor: Red

Bagikan melalui:

Komentar