Alat Swab Antigen Marak Di Jual Online, Bolehkah Di Lakukan Sendiri?

Alat Swab Antigen Marak Di Jual Online, Bolehkah Di Lakukan Sendiri?

Pada saat ini, rapid test antigen menjadi syarat wajib perjalanan bagi penumpang pesawat terbang dan kereta api. Kebijakan ini merujuk pada Surat Edaran Kementerian Perhubungan Nomor 23 tahun 2020 yang berlaku sejak 22 desember lalu. Hal ini dilakukan untuk mengendalikan angka penyebaran Covid-19 di tanah air yang semakin merajalela, terutama pada saat event liburan.

Jika bicara mengenai rapid test, sebagian orang langsung menuju pada tes darah yang jika nanti didapatkan hasil reaktif akan dilanjutkan dengan pemeriksaan swab PCR, namun sebenarnya itu merupakan rapid test antibodi. Sebaliknya, Rapid Test Antigen adalah pemeriksaan serologi yang dilakukan untuk mendeteksi keberadaan antigen spesifik dari virus corona SARS-Cov-2. Antigen adalah molekul yang dapat merangsang respon daya tubuh.

Ahli patologi klinik, dr. Muhammad Irhamsyah menjelaskan, Rapid test atau swab antigen dilakukan pada pasien dengan mengambil spesimen melalui swab atau usapan pada bagian dalam hidung dan tenggorokan atau nasofaring dan orofaring. Oleh karena itu, tes ini hanya dapat dilakukan di laboratorium atau rumah sakit oleh petugas yang kompeten.

Ditambah lagi, alat Rapid Test Antigen Covid-19 sedang marak-maraknya dijual eceran di Internet. Pengguna bisa dengan leluasa menemukannya di beberapa e-commerce besar di tanah air. Harga alat swab antigen   pun sangat terjangkau, bahkan ada yang menjual dibawah Rp 50,000. Lantas, apakah aman jika dijual secara online?

Produk Rapid Test Antigen Yang Di Jual Online Terbukti Aman?

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung Ditjen P2P Kemenkes Siti Nadia Tarmizi menambahkan, bahwa ada dua jenis penjual alat kesehatan. Pertama adalah distributor alat kesehatan yang menjadi tempat transaksi jual beli fasilitas pelayan kesehatan (fasyankes), seperti klinik hingga rumah sakit.

Kedua adalah pedagang alat kesehatan yang jadi tempat jual beli masyarakat umum. Tetapi ia menekankan bahwa alat kesehatan seperti Rapid Test Antigen ini tidak boleh dijual dalam jumlah banyak untuk masyarakat umur, karena itu aturannya.

Statement diatas menyatakan bahwa alat-alat kesehatan semacam Rapid Test Antigen dan sejenisnya yang ditawarkan pedagang alat kesehatan hanya bisa dibeli oleh fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes) di E-commerce terpercaya seperti Blibli. dan jumlahnya tidak dalam jumlah besar Kemudian, ia pun menambahkan bahwa jika pembelian test cepat Covid-19 dibutuhkan dalam jumlah besar, ia menyebutkan fasyankes bisa langsung membeli ke distributor alat-alat kesehatan.

Terlebih lagi, Kementerian Kesehatan sebagai regulator yang mengeluarkan izin edar alat tersebut pun angkat suara mengenai ini. Arianti Anaya selaku Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kemenkes, mengatakan bahwa pihaknya memastikan produk yang dijual di lapangan, telah mendapatkan izin edar. Namun, ia meminta agar penggunaan alat rapid test antigen tidak dilakukan secara mandiri.

“(tes) antigen harus dilakukan oleh tenaga yang sudah terlatih, mendapat pelatihan untuk tracing. Karena, kalau yang melakukannya tidak memiliki kemampuan, kesalahan fatal bisa terjadi”, ujar Arianti.

Bahaya! Jangan sekali-sekali melakukan rapid test antigen sendiri di rumah

Beberapa bulan lalu pernah beredar sebuah video di media sosial Tiktok yang merekam seseorang tengah mencoba menggunakan alat tes swab antigen yang dibelinya secara daring. Video yang diunggah pada 18 Februari 2021 ini menyertakan narasi cara penggunaan alat tes dengan air liur dan menyebut harga yang ia beli di toko online, yaitu sebesar Rp 75,000 sampai Rp 85,000. Hingga hari ini, video tersebut telah ditonton 980 ribu kali dan mendapatkan 19,000 Like

Jika rapid test antibodi prosedur pemeriksaannya sangat mudah dan dapat dilakukan sendiri oleh orang awam, lain halnya dengan rapid test antigen. Karena pengambilan sampel untuk rapid test antigen adalah dengan swab hidung dan tenggorokan, maka bagi orang awam tidak dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan swab antigen sendiri dirumah, karena cara dan posisi pengambilan sampel swab yang tidak tepat akan menghasilkan hasil pemeriksaan yang tidak akurat. Berikut bahaya nya jika melakukan Rapid Test Antigen Mandiri

1. Tidak Pakai APD
Salah satu syarat pengambilan sampel saat test adalah penggunaan alat pelindung diri (APD), bagi petugas. Tujuan dari APD adalah mencegah risiko penularan virus. Rapid Test Antigen mandiri memberi peluang bagi peningkatan risiko penularan.

2. Tempat Tes
Tepat pada Agustus 2020, pemerintah sempat menetapkan ketentuan tempat pengambilan sampel untuk tes Covid-19 dengan menggunakan bioseptilab, yang menerapkan protokol ketat dan tidak boleh ada sembarangan orang masuk. Dengan Rapid Test Antigen Mandiri, ketentuan itu akan dilanggar.

3. Limbah Medis
Prosedur dan panduan tes yang dirancang sedemikian rupa itu dikarenakan agar limbah medis tidak mencemari lingkungan hidup. Limbah infeksius ini adalah limbah medis yang beresiko menularkan atau telah tercemar dari penyakit pasien. Jadi tidak boleh sembarang membuang nya.

4. Tidak Ada Pelaporan
Setiap tes Covid-19 yang dilakukan harus dilaporkan kepada pemerintah. Data inilah yang menjadi acuan jumlah atau tingkat testing di suatu negara.

5. Pemahaman Yang Masih Minim
Di luar hal diatas, yang paling mengkhawatirkan adalah pemahaman masyarakat terhadap interpretasi bahwa sebenarnya hasil dari tes antigen tidak dapat sepenuhnya akurat. Yang dimaksud disini adalah interpretasi dimana hasil yang positif hanya dapat terdeteksi pada fase Akut, dan fase akut berbeda dengan keparahan penyakit Covid-19.

Ketua Umum Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Klinik dan Kedokteran Laboratorium Indonesia, Prof. Dr. Aryati, MS, Sp. PK (K) mengatakan bahwa keterbatasan dari tes antigen adalah hanya dapat mendeteksi positif pada 5 sampai 7 hari pasca seseorang terinfeksi atau terpapar virus corona.

“Kalau lebih dari 7 hari, disesuaikan dengan PCR ada CT Value, itu maksimumnya 40, dibawah 20 aja dia terdeteksi. Padahal di atas 25-30 saja dia sudah bisa menularkan, ujar Aryati”. Artinya, jika seseorang terserang virus diatas 7 hari dan terdeteksi negatif, seseorang itu beresiko untuk menularkan.

Oleh karena itu, penting bagi anda dan setiap orang untuk tetap menjalankan protokol kesehatan 5M meski hasil tes antigen menunjukkan reaksi negatif. Namun tidak bisa dipungkiri, bahwa banyak masyarakat yang membeli Rapid Test Antigen sendiri untuk stok dirumah. Namun ingat, selalu libatkan petugas kesehatan. Anda bisa membawa swab antigen yang dibeli dan berikan ke petugas kesehatan di area terdekat anda. Salam sehat selalu!

Editor: Red

Bagikan melalui:

Komentar