Meminimalisir Penggunaan Plastik Sebagai Solusi Mencegah Limbah Plastik

Meminimalisir Penggunaan Plastik Sebagai Solusi Mencegah Limbah Plastik Chairul Ichsan

SINARPAGINEWS.COM, JAKARTA — Penggunaan plastik sekali pakai tidak dapat dipungkiri telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari dan telah dilihat menjadi sesuatu yang normal. Hal ini tidak terkecuali pada sektor makanan dan minuman yang membuatnya menjadi kontributor besar pada peningkatan penggunaan plastik sekali pakai. Menurut sebuah studi, diperkirakan lebih dari satu juta plastik telah mencemari laut setiap tahunnya di Indonesia, sebuah angka yang tidak kecil dan akan menjadi kontributor besar terhadap pencemaran lingkungan dan krisis iklim.

Sebagai bentuk kampanye terhadap dampak negatif dari sampah plastik sekali pakai, Koleksi vol. 2: Plasti-City hadir dengan upaya untuk mendorong gaya hidup guna ulang dan alternatif model bisnis guna ulang bagi masyarakat. Mulai dari tanggal 6 sampai 21 Agustus 2022, inisiatif Koleksi akan mengadakan rangkaian kegiatan kampanye, dimulai dengan pameran foto, pameran karya, serta seri diskusi dan edukasi publik yang akan melibatkan beragam pihak, seperti komunitas seni, pengusaha makanan dan minuman, dan pemangku kebijakan.

“Produk plastik sekali pakai sudah menjadi terlalu ‘normal’ di kehidupan sehari-hari kita, terutama di konsumsi makanan dan minuman. Melalui inisiatif Koleksi vol. 2: Plasti-city ini, kami berharap dapat memulai diskusi dengan masyarakat, terutama anak muda, bahwa gaya hidup guna ulang bisa menjadi ‘normal yang baru’,” kata Stevan Suryono, salah satu pendiri Kedai Kopi Dab - Kedai Tanpa Plastik.

Koleksi vol. 2: Plasti-City merupakan kegiatan kampanye kedua yang diinisiasi dan diorganisir oleh Kedai Kopi Dab melalui inisiatif Koleksi. Kedai Kopi Dab - Kopi Tanpa Plastik adalah sebuah kedai kopi yang berlokasi di Joglo, Jakarta Barat yang mencoba memberikan alternatif untuk menyajikan kopi tanpa plastik dan mendorong model bisnis guna ulang. Koleksi vol. 2: Plasti-City didukung oleh proyek Rethinking Plastics - Circular Economy Solutions to Marine Litter yang didanai oleh European Union dan German Federal Ministry for Economic Cooperation and Development (BMZ) dan diimplementasikan oleh Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit (GIZ) GmbH dan Expertise France.

National Advisor proyek Rethinking Plastics dari GIZ Indonesia, Rocky Pairunan, menyampaikan bahwa berkaitan dengan konsumsi dan produksi plastik yang berkelanjutan, Uni Eropa atau European Union (EU) telah mengeluarkan peraturan pembatasan konsumsi 10 jenis plastik sekali pakai, seperti kantong plastik dan wadah dan peralatan makanan dan minuman termasuk sedotan.

Peraturan ini diberlakukan untuk mempercepat pengurangan timbulan sampah plastik sekali pakai dan juga dapat mendorong inovasi dari pihak-pihak terkait. Hal inilah yang mendorong proyek Rethinking Plastics, yang dibiayai oleh Uni Eropa dan Pemerintah Jerman, untuk mendukung inovasi serupa di sektor makanan dan minuman, seperti konsep yang diusung oleh Kopi Dab dan dikampanyekan dalam inisiatif Koleksi vol. 2: Plasti-City.

Ujang Solihin Sidik, Kasubdit Tata Laksana Produsen Direktorat Pengurangan Sampah menyampaikan apresiasi untuk kedai-kedai yang sudah melakukan usaha untuk pengurangan plastik sekali pakai. "Jika kedai yang kecil saja bisa menerapkan inisiatif seperti ini, saya optimis produsen yang besar juga bisa mencapai target Phase Out atau pengurangan bertahap pelarangan beberapa jenis plastik sekali pakai seperti kantong belanja plastik, sedotan plastik, dan wadah styrofoam. Bisnis yang berkelanjutan adalah bisnis masa depan, ini sudah bukan pilihan lagi tapi akan menjadi kebutuhan nantinya," jelasnya.

Sementara itu, Adithiyasanti Sofia, Communication and Programme Manager Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik juga mengatakan kita harus mendukung berbagai inisiatif dan bisnis guna ulang maupun yang telah menerapkan pembatasan pemakaian plastik sekali pakai karena perubahan butuh dukungan dan kolaborasi semua pihak

Subkoordinator Urusan Perdagangan Luar Negeri, Badia Raja H. Siregar mengatakan, surat edaran tentang larangan penggunaan plastik bagi pelaku usaha yang telah berjalan merupakan tindak lanjut dari Pergub Nomor 142 Tahun 2019 tentang Kewajiban Penggunaan Kantong Belanja Ramah Lingkungan pada Pusat Perbelanjaan, Toko Swalayan dan Pasar Rakyat.

"Jurus utama untuk mengakhiri polusi plastik adalah meminimalkan atau membiasakan serta membudayakan tidak menggunakan plastik. Namun demikian, produk-produk yang dipilih harus bisa dipastikan dapat didaur ulang kembali agar tidak menjadi limbah. Jurus ini harus dilakukan secara simultan . " pungkasnya.

Editor: Chairul Ichsan

Bagikan melalui:

Komentar