"The Ambush" Film Kisah Nyata di Uni Emirat Arab, Sajikan Banyak Ledakan dan Aksi Baku Tembak

"The Ambush" Film Kisah Nyata di Uni Emirat Arab, Sajikan Banyak Ledakan dan Aksi Baku Tembak Administrator Humas XX1 pemain dan kru yang mayoritas berasal dari UEA, ‘The Ambush’

SINARPAGINEWS.COM, JAKARATA - Kisah Tembak-Tembakan Seru Ketika tiga tentara Uni Emirat Arab disergap di wilayah yang bermusuhan, komandan mereka memimpin misi berani untuk menyelamatkan mereka.

‘The Ambush‘ bisa dibilang sebagai proyek ambisius Uni Emirat Arab di bidang film. Dirilis dengan nama ‘Al-Kameen’ pada November tahun lalu, film ini memiliki anggaran yang sangat besar. Untungnya, mereka berhasil meraup keuntungan yang melimpah, menjadikan mereka sebagai film Uni Emirat Arab (UEA) dan berbahasa Arab tersukses yang pernah ada.

Kesuksesan itu juga berkat tangan dingin sutradara ternama Pierre Morel (Taken, The Gunman, Overdrive) dalam meramu film yang diangkat dari kisah nyata ini. Bersama dengan seluruh jajaran pemain dan kru yang mayoritas berasal dari UEA, ‘The Ambush’ menyajikan banyak ledakan dan aksi baku tembak yang biasa kita lihat di film-film Hollywood.

Dengan skala produksi yang besar, tak heran jika ‘The Ambush’ sangat berambisi untuk bisa menawarkan sesuatu yang baru terhadap penikmat film di luar sana. Dibekali dengan adegan aksi yang mumpuni, film ini urung menghadirkan cerita yang menggugah semangat menonton dan cenderung dragging.

Sinopsis

Saat pemerintah Yaman sedang terlibat perang sipil dengan kelompok bersenjata setempat, mereka meminta bala bantuan kepada rekan-rekannya dari negara lain. Perminataan itu akhirnya menyebabkan negara-negara Arab lainnya melakukan intervensi di negara tersebut untuk misi kedamaian.

Pasukan militer UEA adalah salah satu yang terlibat di misi itu dan memiliki pangkalannya sendiri. Kegiatan harian yang mereka lakukan mencakup patroli untuk mengawasi pergerakan masyarakat sipil, berjaga-jaga jika gejolak kembali terjadi.

Di tengah patroli, Sersan Mayor Bilal Al Saadi (Khalifa Al Jassem) bersama dengan dua sersannya, Sersan Ali Al-mismari (Marwan Abdulla Saleh) dan Sersan Al Hindasi (Mohammed Ahmed) dikepung oleh kelompok militan bersenjata di sebuah ngarai. Kendaraan militer yang mereka kendarai pun dihujani peluru dan misil RPG. Di tengah gempuran itu, mereka hanya bisa menunggu bala bantuan sambil mencari cara agar tidak terbunuh oleh kelompok tersebut.

‘The Ambush’ menunjukkan bahwa larinya anggaran besar yang mereka pakai adalah ke berbagai macam adegan ledakan. Film ini mengandalkan banyak serangan yang mengenai kendaraan militer UEA. Tak hanya ledakan akibat dari peluru RPG yang digunakan oleh kelompok teroris, namun ada juga ledakan dari jebakan yang mereka tanam di jalanan para kendaraan militer UEA lalui.

Semua itu perlahan meluluhlantakkan pasukan militer UEA, termasuk mereka yang hendak datang sebagai bala bantuan. Para kelompok militer ini ternyata cukup cerdik. Mereka sudah merencanakan ini sedemikian rupa agar pasukan militer UEA bisa terus terperangkap di tengah-tengah ngarai tersebut. Satu senjata yang cukup membuat para petinggi militer UEA adalah mortar yang terus menembakkan peluru-peluru mematikan.

Meski begitu, pihak UEA tak tinggal diam. Mereka mengirim apache untuk melumpuhkan mortar yang dari awal sudah meresahkan. Satu per satu mortar coba ditumbangkan, namun ternyata eksekusi kadang memang tidak selalu sejalan dengan rencana awal. Kolonel Jamal Al Khatri (Mansoor Alfeeli) sadar bahwa pasukannya harus lebih bijak dalam melakukan penyerangan. Salah sedikit, bisa-bisa nyawa anggotanya menghilang begitu saja.

Di tengah serbuan peluru yang tak kunjung berhenti, ‘The Ambush’ mencoba untuk menyelipkan unsur emosional ke dalam film melalui tiga tentara yang sedang terjebak. Di situ, Sersan Ali baru mengetahui bahwa istrinya sedang mengandung bayi baru di dalam perutnya. Sadar akan hal itu, Ali yang harapannya semakin menipis mulai menitipkan pesan kepadan rekan-rekannya agar kelak bisa menjaga anaknya jika ia tidak selamat.

Namun, rekan-rekannya tidak ingin Ali berakhir tragis. Sersan Mayor Bilal dan Sersan Hindasi selalu memberi dukungan moral agar Ali tak patah semangat. Sejak saat itu, para tentara itu selalu kompak dalam melakukan tindakan karena apapun langkahnya pasti berpotensi untuk mengakhiri nyawa mereka.

Selain solidaritas, ‘The Ambush’ juga menunjukkan kepemimpinan yang patut dicontoh dari seorang Kolonel Jamal. Dengan kepala dingin, ia perlahan mencari rencana terbaik agar seluruh anak buahnya bisa keluar dari ngarai itu dengan selamat. Ia tidak gegabah, tidak juga terlihat panik.

Sayangnya, ‘The Ambush’ memiliki cerita yang kurang oke untuk sebuah film perang. Filmnya sangat formulaic, di mana alurnya dapat tertebak dengan mudah. Tidak ada gebrakan atau twist yang bisa membuat film ini menjadi lebih “hidup”. Memang, film ini berdasarkan dari kisah nyata sehingga tidak etis kalau merubah banyak dari alur sebenarnya. Namun, setidaknya bisa lebih ditambah lagi bumbu-bumbu yang bisa membuat film ini lebih menggugah ketegangan.

Dari awal, film ini juga sudah sangat dragging atau dengan kata lain memiliki pace yang sangat pelan. Film dibuka hanya dengan potongan klip yang memperlihatkan kejadian di dunia nyata, lalu langsung memperlihatkan karakter utama yang akan muncul. Tidak ada awalan yang “wah” hingga akhir film.

Jangan salah. Film perang memang esensinya, ya, tembak-tembakan dan ledak-ledakan yang dahsyat. Namun,  jika membandingkan rentetan ledakan di film ini dengan apa yang Michael Bay lakukan di ’13 Hours: The Secret Soldiers of Benghazi’ tentu akan sangat berbeda. Ledakan di ‘The Ambush’ tidak diiringi oleh cerita yang matang, jadinya sulit untuk bisa terhubung ketika para pemainnya dikelilingi oleh ledakan yang heboh ini.

‘The Ambush’ menjadi nafas segar bagi industri perfilman dunia, di mana film dengan skala sebesar ini tak lagi hanya datang dari Hollywood. Negara dari Jazirah Arab juga mampu untuk memproduksi film dengan ledakan-ledakan dahsyat dan menyuguhkan aksi perang yang layak ditonton. Tetapi, semua itu tidak akan berarti tanpa cerita yang memadai. Itu lah yang menjadi kekurangan film ini.

Editor: Chairul Ichsan

Bagikan melalui:

Komentar