Tiga Hari PPKM Darurat, Pusat Nilai Mobilitas DIY Turun 13-15%

Tiga Hari PPKM Darurat, Pusat Nilai Mobilitas DIY Turun 13-15% Dok Humas

SINARPAGINEWS.COM, YOGYAKARTA – Tiga hari setelah pelaksanaan PPKM Darurat, pemerintah pusat menilai tingkat mobiltas masyarakat di wilayah DIY cenderung menurun 13-15%. Hal tersebut disampaikan dalam Rapat Koordinasi Penanganan Covid-19 yang dipimpin Menko Kemaritiman dan Investasi RI, Luhut Binsar Panjaitan.

Rapat tersebut dihadiri secara daring oleh Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X dari Gedhong Pracimosono, Kompleks Kepatihan, Selasa (06/07) siang. Sri Sultan hadir didampingi Wakil Gubernur DIY, KGPAA Paku Alam X yang juga menjabat sebagai Ketua Gugus Tugas Covid-19 DIY; Sekretaris Daerah DIY, Kadarmanta Baskara Aji; dan Kepala OPD DIY terkait.

Pada kesempatan tersebut, Ngarsa Dalem turut menyampaikan bahwa kenaikan kasus positif selama pelaksanaan PPKM Darurat cenderung fluktuatif. Kenaikan tertinggi ada pada Minggu (04/07) sebanyak 1.615 kasus, sementara pada masa awal, Sabtu (03/07) sebanyak 1.358 dan hari ketiga, Senin (05/07) sebanyak 1.465 kasus.

Sri Sultan juga menyoroti jumlah kasus meninggal di DIY selama 3 hari pelaksanaan PPKM. “Pada Sabtu (03/07), jumlah yang meninggal ada 36, selanjutnya, Minggu (04/07) ada 38, dan hari ketiga, Senin (05/07) turun menjadi 32. Semoga turun terus sehingga jumlahnya akan semakin baik,” ujar Sri Sultan.

Di sisi lain, Sri Sultan juga menaruh perhatian pada tingginya tingkat keterisian bed perawatan di Rumah Sakit Rujukan Covid-19. “Sampai dengan Senin (05/07), jumlah keterisian bed occupancy rate di RS jumlahnya mencapai 94,22%. Kami terus melakukan upaya yang terbaik agar persentasenya dapat menurun,” ungkap Sri Sultan.

Dalam rapat tersebut, turut hadir secara daring Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin. Terdapat beberapa poin penting yang disampaikan Menteri Budi terkait penanganan Covid-19 di daerah. “Sekarang bagaimana caranya bahwa tidak semua orang yang terindikasi positif langsung dirawat di Rumah Sakit. Ada tiga kriteria pasien dengan diagnosa positif yang bisa langsung dirujuk ke Rumah Sakit yakni saturasi oksigen dibawah 95, ada gejala sesak napas, dan memiliki komorbid,” jelasnya.

Atas dasar tersebut, Menteri Budi mengutarakan pasien yang tidak memiliki tiga kriteria di atas, bukan menjadi prioritas untuk dirawat di RS. “Mereka bisa menjalani isolasi mandiri di rumah ataupun di fasilitas/shelter yang disediakan. Untuk memudahkan operasional selama isolasi mandiri, kami telah bekerjasama dengan penyedia layanan kesehatan secara daring dengan meluncurkan telemedicine,” jelasnya.

Menurut Budi, telemedicine ini dapat digunakan pasien positif Covid-19 yang tengah menjalani isolasi mandiri sehingga dapat berkonsultasi secara gratis dengan tenaga kesehatan terkait keluhan ataupun tindak lanjut. “Selanjutnya, tenaga medis akan mengirimkan obat yang sesuai dengan keluhan pasien ke alamat pasien bersangkutan,” tukas Menteri Budi.

Selain yang disampaikan Menteri Budi, Menteri Luhut menambahkan pesan terkait dengan ketersediaan oksigen di Jawa-bali selama pelaksanaan PPKM. Secara khusus, Menteri Luhut berpesan kepada seluruh Provinsi dan Kabupaten, untuk selalu memantau ketersediaan oksigen melalui Satgas Oksigen yang dibentuk masing-masing wilayah.

Berdasarkan perhitungan pusat, lanjut Menteri Luhut, pihaknya telah melakukan perhitungan soal kemungkinan terburuk semakin melonjaknya jumlah pasien positif Covid-19. “Saat ini perhitungan kami soal oksigen itu untuk penambahan 40.000 pasien per hari. Namun sebenarnya, kita juga sudah pikirkan kemungkinan terburuk, yaitu untuk 60.000 penambahan per hari sebagai antisipasi,” terangnya.

Sementara itu, ditemui usai Rakor, Sekretaris Daerah DIY, Kadarmanta Baskara Aji, menekankan kembali beberapa hal yang disampaikan pemerintah pusat. “Menurut catatan dari pusat, mobilitas masyarakat di DIY cukup bagus penurunannya, berkisar 13-15% dari sebelumnya. Paling bagus ada di Gunungkidul, penurunan mobilitasnya tinggi. Memang target dari PPKM Darurat ini adalah mobilitas penduduk, supaya tidak terlalu banyak aktivitas yang dilakukan masyarakat sehingga dapat memutus rantai penularan Covid-19,” ujar Aji.

Selain pembahasan tersebut, Aji menambahkan bahwa disebutkan pula pembahasan mengenai distribusi oksigen dan juga mengatur soal penambahan bed di RS Rujukan Covid-19 di DIY serta shelter isolasi di DIY. “Terkait shelter, jumlah daya tampungnya total sekitar 927 kamar dan tersebar di seluruh Kabupaten/Kota di DIY. Untuk bisa mengaksesnya, bisa melalui Satgas Covid-19 masing-masing Kabupaten/Kota atau langsung ke nomor telepon shelter yang bersangkutan,” tutupnya. [spn/vin]

Editor: Red

Bagikan melalui:

Komentar