Ini Sejarah dan Bagaimana Eksistensi Wayang Potehi Sampai Masa Pandemi

Ini Sejarah dan Bagaimana Eksistensi Wayang Potehi Sampai Masa Pandemi Dok SPN

SINARPAGINEWS.COM, JATENG – Bagi warga Solo atau Kabupaten Surakarta, adanya pertunjukan seni Wayang Potehi (glove puppetry) yang digelar di Klenteng Tien Kok Sie, Solo pada 4-8 November 2021 lalu, telah menjadi hiburan tersendiri bagi mereka.

Toni Harsono, salah satu dalang terkenal asal Kecamatan Gudo, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, juga berkesempatan manggung sehari bergantian dengan para dalang lainnya. Ia juga merupakan pendiri Museum Potehi Gudo Jombang sekaligus Ketua Yayasan Fu He An.

Disampaikan Ocdy Susanto, MM selaku pemerhati kebudayaan Tionghoa di Jawa Tengah asal ibukota Jakarta melalui sambungan whatsapp, wayang ini mulai berkembang pesat di nusantara sejak era Presiden RI Ke-5 yaitu KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Selasa (16/11/2021).

Almarhum menyukai wayang ini karena dianggapnya dapat menambah tradisi dan kebudayaan masyarakat Indonesia.

“Sebelumnya, kesenian wayang potehi seolah dikerdilkan dan sangat sulit dipentaskan terkait perizinan, padahal kala itu para penggiat wayangnya sebagian besar adalah pribumi,” bebernya.

Ocdy menilai betapa besar apresiasi mereka kala itu terhadap kebudayaan yang bisa dikatakan bukan asli Indonesia. Bisa dikatakan juga masa sulit bagi perkembangan wayang potehi. Hal itu dikarenakan tindakan represif penguasa itu terhadap budaya Tionghoa kala itu, padahal nilai-nilai budaya yang dibawa oleh orang Tionghoa sejak berabad-abad lalu telah tumbuh bersama budaya lokal dan menjadi budaya Indonesia.

Jadi, setelah era reformasi berjalan dibawah pemerintahan Presiden Gus Dur, tentu saja penghapusan larangan manggung bagi wayang potehi seolah membawa angin segar bagi kesenian asal Tiongkok bagian selatan ini. Namun sayangnya, dengan mulai dihidupkannya wayang potehi di era Gus Dur, para pelakunya sudah mulai sepuh/menua dan tidak didukung regenerasi yang baik, dikarenakan adanya pelarangan pada era-era sebelumnya.

Lebih endetail dijelaskan Ocdy Susanto tentang flashback wayang potehi, kesenian dari Tiongkok ini sudah berumur sekitar 15 abad. Potehi berasal dari kata pou adalah kain, te kantong, dan hi wayang. Jadi arti kata potehi adalah wayang boneka dari kantong kain.

Awal sejarahnya, seni wayang ini dilakukan oleh 5 orang tahanan yang dijatuhi hukuman mati di sebuah penjara. Empat orang langsung bersedih, namun orang kelima mempunyai ide cemerlang, yaitu daripada bersedih menunggu ajal maka lebih baik menghibur diri.

Orang kelima ini mengambil perkakas yang ada di sel seperti panci dan piring, kemudian menabuhnya sebagai pengiring permainan wayang kain buatan mereka. Bunyi yang keluar dari tabuhan mereka terdengar juga oleh kaisar, yang mereka berlima diberikan pengampunan.

Menurut sejarah, wayang ini diperkirakan sudah ada pada masa Dinasti Jin (265-420 Masehi), kemudian berkembang pada Dinasti Song (960-1279). Kemudian untuk masuk ke Indonesia sekitar tahun 1970-1990 an (abad 16-19), melalui orang-orang Tionghoa yang masuk ke nusantara. Pada periode ini, wayang potehi dipentaskan dalam bahasa hokkian, kemudian untuk dalang seniornya adalah Almarhum Tio Tiong Gie dari Semarang, Jateng.

Saat sekarang ini, pertunjukan wayang potehi yang memiliki fungsi sosial dan ritual, bukan sekedar dipertunjukkan bagi etnis Tionghoa saja, namun juga bagi khalayak umum atau non-Tionghoa dikarenakan bahasa pentas saat ini juga bisa menggunakan bahasa Indonesia.

“Biasanya wayang potehi digelar di klenteng-klenteng dan menjadi salah satu kegiatan ritual bagi masyarakat Tionghoa, namun saat ini pementasannya bisa dilakukan di tempat umum sesuai permintaan,” sambung Alumni Universitas Trisakti 2005 jurusan Magister Manajemen itu.

Seperti wayang-wayang lain di Indonesia, beberapa lakon yang sering dimainkan juga sudah mengambil cerita-cerita di luar kisah klasik Tiongkok, yaitu seperti cerita novel Sam Pek Eng Tay dan Se Yu (pilgrimage to the west) dengan tokoh kera sakti Sun Go Kong yang tersohor itu.

Untuk tokoh-tokoh yang kerap dimainkan saat pertunjukan wayang potehi sudah diadaptasi dari tokoh-tokoh di dalam kesenian lokal ketoprak. Seperti misalnya tokoh Si Jin Kui yang diadopsi menjadi menjadi tokoh Joko Sudiro, kemudian tokoh Prabu Lisan Puro yang ternyata diambil dari tokoh Li Si Bin yang merupakan kaisar kedua Dinasti Tong (618-907 M), serta lakon peristiwa pertempuran 10 November 1945 di Surabaya, dimana rakyat Tionghoa juga ikut angkat senjata melawan penjajah Belanda.

“Dalang juga akan melawak saat memainkan beberapa karakter wayang saat pementasan kisah klasik Tiongkok seperti legenda dinasti-dinasti, maupun saat memainkan cerita-cerita lain yang dikombinasikan dengan berbagai cerita populer dan akulturasi budaya,” tandasnya.

Lanjut Ocdy, beberapa wayang karakternya bisa diubah-ubah sang dalang, namun tidak untuk Koan Kong, Utti Kiong, dan Thia Kau Kim. Itu dikarenakan ketiganya mempunyai warna muka yang tidak bisa berubah.

Untuk pementasannya, sang dalang akan memasukkan tangannya ke dalam kain wayang kemudian memainkannya seperti wayang jenis lainnya dengan diiringi sejumlah alat musik seperti gembreng/lo, simbal/kecrek, suling, gitar, rebab, tambur, terompet, dan piak-kou (gitar tradisional Tiongkok).

Ocdy menambahkan, kalau bukan generasi saat ini yang melestarikan salah satu budaya bangsa ini maka siapa lagi. Kalau bukan sekarang maka kapan lagi mumpung para sesepuh masih ada yang hidup walaupun usianya senja.

Menurutnya juga, bangsa Indonesia besar dan menjadi daya tarik wisatawan karena mempunyai beraneka ragam budaya.

Saat ini masyarakat umum bisa mengunjungi Museum Wayang di Banyumas, Gudo Jombang, Museum Wayang Fatahilah di Jakarta, dan Komunitas Rumah Cinta Wayang di Depok, untuk melihat secara langsung sejarah dan berbagai pernak-pernik wayang potehi.

Untuk komunitas di Depok tersebut, sebelum pandemi covid-19 juga rutin menggelar pentas di Taman Kaldera pada minggu keempat setiap bulan, untuk melestarikan kesenian ini. Di taman ini juga rutin digelar pertunjukan wayang khususnya wayang-wayang yang hampir punah seperti wayang beber dan wayang kulit China-Jawa.

Kemudian untuk dalang Toni Harsono sendiri, pihaknya juga telah berimprovisasi dengan pementasan wayang potehi keliling GoPot (Go Potehi), yaitu menggunakan mobil yang didesain khusus sebagai panggung pentas berukuran 120 cm x 50 cm dan tingginya 150 cm.

Ini merupakan salah satu upaya untuk terus mengenalkan dan melestarikan wayang potehi dengan konsep kekinian, sehingga memudahkan masyarakat yang akan menanggap wayang dan untuk lebih menghemat biaya bagi orang yang menanggapnya, baik untuk kepentingan ritual keagamaan di klenteng, tolak bala di rumah, tempat usaha, ulang tahun, hingga perayaan kelahiran.

Dengan sistem jemput bola dengan GoPot itu maka diharapkan juga akan dapat menjaga kelangsungan hidup dari para seniman potehi yang tergabung dalam Yayasan Fu He An. Pasalnya, tanpa pertunjukan maka mereka akan mengalami kesulitan keuangan.

“Di masa pandemi yang masih berlangsung sampai saat ini, pelestarian wayang potehi dilakukan secara virtual atau dengan youtube, seperti pementasan di Klenteng Tien Kok Sie, Solo, pada 4-8 November 2021 lalu. Dengan cara ini maka senimannya bisa terbantu dengan penghasilan sebagai youtuber Potehi,” pungkasnya. (Aan)

Editor: Red

Bagikan melalui:

Komentar