Dari SMART Sampai Ke Belanda

Dari SMART Sampai Ke Belanda

SINARPAGINEWS.COM, - SULTENG - Mengubah takdir bukanlah jawaban dari semua keputusasaan, namun kita bisa merekonstruksi kembali masa lalu yang kelam untuk mimpi di masa depan. Meski sulit namun patut kita coba. Di tulisan ini aku tertarik menengok kembali jejakku yang sedikit tak terarah hingga aku bisa merekonstruksi kembali masa laluku.

Namaku Ahmad Faisal, pada 2003 silam aku lahir di Kobbae, daerah terpencil di Sulawesi Selatan, aku hidup bersama orang tua dan lima saudara. Saat aku menempuh sekolah menengah pertama di situlah aku paham arti susah dan penuh kendala.

Walaupun uang bukanlah segalanya, akan tetapi aku merasa gara-gara uang ibuku stres memikirkan biaya sekolahku. Aku merasa egois, seolah keuangan di rumah hanya untuk biaya sekolahku saja. Namun aku tak berputus asa, aku mulai bergerilya mencari beasiswa yang sesuai. Rasanya ingin menyerah karena sulit sekali, tapi Alhamdulillah Allah mempertemukanku dengan SNB SMART Ekselensia Indonesia di Instagram. Bahagia? Jelas, dan di saat bersamaan aku merasa tertantang. Akhirnya kuberanikan diri mengikuti ragam prosesnya. Iya proses demi proses serta persyaratan aku penuhi tanpa terkecuali Masa-masa itu seakan-akan seru untuk dikenang kembali. Proses seleksi SNB memang panjang tapi aku tertantang untuk terus melaju dan bersaing.

Selama proses seleksi berlangsung aku berusaha mencari tahu tentang SMART, aku yakin bisa lolos, yakin sekali. Meski begitu ekspektasiku tidak terlalu tinggi, karena aku merasa SMART terlalu wah untuk seorang Ahmad Faisal. Namun takdir berkata lain, Allah merestuiku untuk bersekolah di sana. Aku mengucap syukur tanpa henti maka melengganglah aku ke Bogor. Ini kali pertama aku ke Jawa Barat dan kali pertama aku merantau. Aku bertekad menata diri di sini hingga bisa berkata:

“Aku tak menyesal sekolah di SMART”.

Saat orang bertanya, apa yang telah kamu dapatkan di SMART selama dua tahun? Jangan heran kalau aku tidak bisa berkata-kata. Memang kesannya melebih-lebihkan tetapi memang kenyataannya begitu. Di sini aku belajar arti saling menghargai, saling menyayangi sebagai saudara meski beda ibu dan bapak, belajar bagaimana mengendalikan diri, dan belajar berpikir dewasa.

Aku tidak perlu membahas tentang akademik SMART, karena sudah jelas kurikulum SMART tergolong sangat baik. Apalagi prestasi-prestasinya. Alhamdulillah di SMART aku bisa berprestasi bersama sahabatku, Wildani Fadhillah. Kami berdua menjadi peraih silver medals dalam Kompetisi Penelitian Siswa Indonesia (KoPSI) 2020.

Aku sangat berterima kasih kepada guru-guruku di SMART, berkat keuletan dan kesabaran para guru aku bisa lolos Breda University of Applied Sciences, Belanda. Sebuah berkah yang tak pernah kusangka bisa berkuliah di Belanda. Bersekolah di SMART menjadi revolusi terbesar dalam hidupku. Doakan aku ya.

Oleh: Ahmad Faisal, Alumni SMART Angkatan 13

Editor: Red

Bagikan melalui:

Komentar