Dengan Media Komposter Ember Tumpuk, Mahasiswa KKN UAD Manfaatkan Sampah Organik sebagai Kompos

Dengan Media Komposter Ember Tumpuk, Mahasiswa KKN UAD Manfaatkan Sampah Organik sebagai Kompos

SINARPAGINEWS.COM, BANTUL - Sampah merupakan hasil sisa dari berbagai macam kegiatan manusia. Dalam hal ini sampah terbagi menjadi dua jenis, yaitu sampah organik dan anorganik.

Sampah organik adalah sampah yang mudah untuk terurai, yang biasanya berasal dari makhluk hidup ataupun tumbuhan seperti sisa makanan, daun-daun kering dan bangkai hewan.

Kemudian, sampah anorganik adalah sampah yang membutuhkan waktu lama untuk terurai seperti plastik, logam, styrofoam dan sebagainya.

"Sampah dapat menjadi sebuah masalah lingkungan, jika tidak dilakukan pengelolaan dengan baik, khususnya di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta," kata Umar Faruq Alghozi, Ketua KKN UAD periode ke-119 Unit XV C.2, yang menambahkan sampah menjadi permasalahan besar yang sedang dihadapi saat ini.

Hal tersebut dikarenakan kondisi TPS Piyungan, Bantul, yang menjadi tempat pembuangan sampah akhir di DIY sudah dalam kondisi penuh sehingga menyebabkan warga memilih untuk menimbun dan membuang sampah tersebut sembarangan.

Ditambahkan Soviyah, M.Hum selaku DPL (Dosen Pembimbing Lapangan), sampah yang tidak dikelola dengan baik akan menimbulkan berbagai macam masalah. "Seperti masalah lingkungan dan masalah kesehatan," tandasnya.

Tumpukan sampah yang tidak dikelola dengan baik, kata Soviyah, akan menimbulkan bau yang tidak sedap dan akan menimbulkan adanya organisme baru di dalamnya seperti belatung maupun lalat. "Dari organisme tersebut dapat menyebabkan dampak negatif bagi manusia karena berperan sebagai vektor penyebab penyakit, salah satunya adalah penyakit diare," ungkap Soviyah.

Banyaknya sampah yang ada di sebuah wilayah bisa disebabkan oleh tingginya jumlah penduduk. Selain itu, juga dapat dipengaruhi oleh tingkat kesadaran masyarakat yang masih rendah terhadap kondisi lingkungannya.

Kemudian, tingginya frekuensi sampah di sebuah wilayah juga dapat disebabkan oleh kurangnya pengetahuan masyarakat akan pengelolaan sampah.

Masyarakat Padukuhan Degan 1, Kalurahan Banjarum, Kapanewon Kalibawang, Kabupaten Kulonprogo, masih menganggap sampah hanyalah barang sisa yang harus dibuang dan tidak bisa dimanfaatkan kembali.

Untuk itulah perlu dilakukan perubahan paradigma yang selama ini tertanam di masyarakat. Pada dasarnya sampah masih bisa dimanfaatkan menjadi sebuah hal yang bermanfaat dan memiliki nilai jual.

Hal tersebut yang mendorong 9 orang mahasiswa KKN periode ke-119 Unit XV C.2 Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta untuk melakukan inisiasi. "Sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan dan masyarakat," kata Umar Faruq Alghozi, mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat angkatan 2020.

Menurut Umar, bentuk inisiasi tersebut berupa sosialisasi mengenai pengelolaan sampah organik dengan media komposter. Dan tujuan dari dilaksanakannya kegiatan tersebut untuk meningkatkan pengetahuan warga masyarakat Padukuhan Degan 1 terkait sampah. Selain juga tata cara pengelolaannya.

Kegiatan tersebut dilaksanakan sebanyak dua kali, bersamaan dengan pertemuan ibu-ibu PKK dan pada 17 Februari 2024 bersamaan dengan pertemuan arisan bapak-bapak di Dukuh Degan 1.

Pemilihan komposter sebagai media yang digunakan untuk mengolah sampah organik menjadi pupuk karena komposter mudah dibuat, relatif memiliki harga yang lebih terjangkau serta cara kerjanya yang mudah untuk dipahami dan dilakukan.

Komposter ini merupakan sebuah alat atau media yang digunakan untuk mengubah sampah organik menjadi pupuk cair. Jika dilakukan dengan baik, sampah organik yang diolah dalam komposter akan berubah hingga menjadi pupuk cair dengan kisaran waktu antara 3 - 4 minggu.

Dengan dilakukannya sosialisasi dan pelatihan pengolahan sampah organik melalui media komposter ini, diharapkan warga masyarakat menjadi tahu dan meningkatkan kesadaran bahwa sampah organik masih dapat digunakan kembali.

Pupuk yang dihasilkan juga bisa memiliki nilai jual sehingga dapat meningkatkan taraf ekonomi masyarakat. Selain itu, bisa mendorong terwujudnya lingkungan yang bersih dan sehat karena kurangnya jumlah frekuensi sampah pada wilayah Padukuhan Degan 1. (Fan)

Editor: Red

Bagikan melalui:

Komentar