Sertifikat Rupiah Bank Indonesia (SRBI): Upaya Menjaga Stabilitas Rupiah dan Cadangan Devisa Negara

Sertifikat Rupiah Bank Indonesia (SRBI): Upaya Menjaga Stabilitas Rupiah dan Cadangan Devisa Negara Ket foto:(Abdulloh Mubarok (Dosen Tetap Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pancasakti Tegal)

SINARPAGINEWS.COM, TEGAL - Berbagai upaya dilakukan BI guna memperkuat stabilisasi nilai tukar Rupiah mulai dari intervensi di pasar valas sampai transaksi perdagangan Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder. Intervensi di pasar valas berfokus pada transaksi di pasar spot, yaitu dengan menjual dolar AS dan di pasar forward Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) dalam denominasi rupiah. Sementara terkait SBN, BI berusaha meningkatkan penerimaan investasi portofolio asing melalui imbal hasil SBN yang menarik. Ini dilakukan dengan menaikan yield SBN tenor jangka pendek dan struktur yield SBN jangka panjang yang lebih rendah. BI juga dapat membeli SBN yang dilepas investor asing. Hal ini dilakukan ketika nilai tukar rupiah sudah jauh dari level fundamentalnya.

Upaya lain yang baru baru ini diperkenalkan BI adalah penerbitan Sertifikat Rupiah Bank Indonesia (SRBI), dimana lelang perdana akan dilakukan pada 15 September 2023. SRBI merupakan surat berharga utang jangka pendek dalam mata uang rupiah dengan underlying (jaminan) SBN yang dibeli dari Pemerintah. SRBI memiliki karakteristik antara lain pertama, sekuritas ini menggunakan underlying asset berupa SBN. Dengan jaminan SBN maka SRBI termasuk instrumen investasi kategori low risk. Hingga 9 September 2023, BI memiliki SBN yang dibeli dari pemerintah cukup besar dengan total nilai bruto tercatat mencapai Rp1.360,9 triliun. SRBI merupakan bentuk optimalisasi pengelolaan imbal hasil surat utang Indonesia. Sekuritas BI ini memberikan imbal hasil lebih tinggi dari tingkat imbal hasil saat ini. Kedua, surat berharga ini memiliki durasi jangka pendek mulai satu minggu sampai dengan 12 bulan. BI merencanakan pada tahap awal, SRBI akan diterbitkan pada tenor mulai dari 3 bulan, 6 bulan, hingga 12 bulan. Kedua, SRBI diterbitkan dengan tanpa warkat. Artinya diperdagangkan tanpa adanya fisik efek berupa sertifikat. Ketiga SRBI diterbitkan dan diperdagangkan dengan sistem diskonto. Artinya masyarakat akan mendapatkan SRBI dengan harga di bawah nilai nominalnya. Tidak ada spread kupon dan keuntungan diambil dari selisih harga beli dan jual. Keempat, sertifikat BI ini nantinya dapat dipindahtangankan. Tahap awal penerbitan SRBI dilakukan melalui lelang dan hanya diikuti bank umum peserta operasi pasar terbuka (OPT) konvensional baik secara langsung atau melalui lembaga perantara. Setelah itu, melalui pasar sekunder, SRBI dapat dipindahtangankan dan dapat dimiliki lembaga non-bank, seperti perusahaan pengelola aset dan investor ritel. Kelima, melalui pasar sekunder, SRBI bisa dimiliki oleh masyarakat secara umum dan luas, baik penduduk maupun non-penduduk (warga negara asing). Karakteristik ini diharapkan dapat meningkatkan minat investor luar negeri untuk membeli sekuritas berjangka pendek.

Secara konsep penerbitan SRBI merupakan salah satu penerapan instrumen kebijakan moneter, khususnya kebijakan moneter kontraktif. Kebijakan moneter kontraktif merupakan kebijakan yang dibuat oleh otoritas moneter (bank sentral) guna memperlambat kegiatan ekonomi. Tujuannya adalah untuk memelihara kestabilan nilai rupiah baik kestabilan terhadap barang dan jasa (tercermin pada laju inflasi) ataupun kestabilan terhadap mata uang negara lain (tercermin pada fluktuasi nilai tukar). SRBI merupakan merupakan wujud instrumen kebijakan moneter “operasi pasar terbuka”, yaitu instrumen bank sentral melalui kegiatan jual beli surat-surat berharga jangka pendek. Penerbitan surat berharga BI ini diharapkan direspon masyarakat secara luas dalam bentuk pembelian dengan jumlah besar. Ini berdampak pada aliran masuk uang rupiah ke BI sehingga jumlah peredarannya berkurang di masyarakat. Berkurangnya peredaran uang tersebut diharapkan dapat mengurangi kenaikan harga barang (inflasi) sekaligus menguatkan nilai tukar rupiah. Apabila pembelinya adalah non-penduduk (investor asing) maka akan terjadi aliran masuk modal asing dalam bentuk investasi portfolio. Modal asing ini nantinya mampu mengisi dan menambah cadangan devisa negara. Jadi secara umum SRBI diharapkan mampu menjaga stabilitas rupiah sekaligus memelihara cadangan devisa Negara.(***).

PENULIS: Abdulloh Mubarok

(Dosen Tetap Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pancasakti Tegal)

 

Editor: A.Wahidin

Bagikan melalui:

Komentar