Pembimbing Kemasyarakatan Lakukan Analisa Residivisme Pada Kasus Pencurian

Pembimbing Kemasyarakatan Lakukan Analisa Residivisme Pada Kasus Pencurian Dok SPN

SINARPAGINEWS.COM, SEMARANG - Rabu (18/05/2022) - Asisten Pembimbing Kemasdsyarakatan Penyelia Bapas Kelas I Semarang ASny Orbayatun, _ melakukan penetian kemasyarakatan terhadap AKR yang terlibat kasus pencurian di Rumah Tahanan Negara Kelas II B Demak. Sebagai catatan klien tersebut telah dua kali melakukan tindak pidana yang sama sebelum menjalani pidana kali ini.

Hal ini tentunya menjadi catatan tersendiri mengingat sebelumnya klien tersebut pernah menjalani pembimbingan dan pengawasan integrasi Cuti Bersyarat dan Pembebasan Bersyarat dengan Bapas Semarang dan berhasil menyelesaikan masa percobaan dengan baik.

Dari hasil wawancara dan penelusuran ke penjamin dalam hal ini istri sebagai orang terdekat di ketahui bahwa selain karena himpitan ekonomi, adanya rekan yang mengajak kemabli melakukan pencurian sering kali membuat klien kalap dan melakukan tindak pidana kembali.

Istri selaku penjamin sudah berulang kali mengingatkan, namun tanpa ada komitmen yang kuat dari dalam diri klien akhirnya tindak pidana terjadi lagi.
Menyikapi fenomena ini perlu dilakukan pengkajian penyebab seseorang menjadi residivis, khususnya dalam kasus pencurian. Hasil kajian ini nantinya dapat digunakan untuk mewujudkan tujuan sistem pemasyarakastan yaitu mewujudkan kesatuan hidup dan penghidupan warga binaan pemasyarakatan.

Tindak kejahatan merupakan fenomena yang umum di masyarakat terlepas dari ringan atau pun berat kejahatan tersebut.
Menurut Kartono (2014) dalam Jurnal Empati, kejahatan adalah bentuk tingkah laku yang bertentangan dengan moral kemanusiaan (immoral), merugikan masyarakat, sifatnya asosiasi dan melanggar hukum serta undang-undang pidana atau tindak kejahatan dilakukan oleh pelaku kejahatan, yaitu seseorang atau sekelompok orang yang melakukan tindakan melanggar hukum pidana atau peraturan yang berlaku di teritori di mana pelanggaran dilakukan, kemudian diadili dan dijatuhi hukuman dalam suatu prosesi peradilan.

Sanksi pidana merupakan suatu dasar untuk merehabilitasi perilaku dari pelaku perbuatan pidana tersebut, namun sanksi pidana tersebut masih belum memberikan efek jera terhadap pelaku perbuatan pidana, sebab orang justru menjadi lebih jahat setelah menjalani pidana penjara.
Inilah yang menjadi salah satu faktor dominan munculnya seseorang setelah menjalani pidana penjara melakukan kejahatan lagi yang sejenis atau oleh undang-undang dianggap sejenis yang tidak lewat waktu 5 (lima) tahun atau disebut sebagai recidive.

Residivis adalah istilah dalam hukum untuk jenis kejahatan yang tidak dapat dihentikan akan tetapi hanya dapat dicegah. Dalam Kamus Bahasa Indonesia (2008), istilah residivis diartikan sebagai orang yang pernah dihukum mengulangi tindak kejahatan yang serupa atau biasa disebut penjahat kambuhan.

Salah satu konsep yang paling mendasar dalam sistem peradilan pidana adalah residivisme. Residivis berasal dari bahasa Prancis yang di ambil dua kata latin, yaitu re dan co, re berarti lagi dan cado berarti jatuh. Maka recidivis berarti suatu tendensi berulang kali hukum karena telah berulang kali melakukan kejahatan, dan mengenai resividis adalah berbicara tentang hukum yang berulang kali sebagai akibat perbuatan yang sama atau serupa.
Residivis adalah orang yang melakukan kejahatan berulang kali. Artinya orang tersebut setelah menerima hukuman atas kejahatan yang dilakukan kembali kembali ke perilaku kriminal. 

Dia terbiasa melakukan kejahatan. Misalnya, seseorang melakukan pembunuhan dan untuk ini dia dipenjara dan setelah selesai hukuman ketika dia keluar dari penjara dia melakukan pembunuhan lagi. 
Sebagai akibat dari pengulangan kejahatan yang ditangkap kembali, hukuman kembali terjadi. Residivis adalah orang-orang yang memiliki cukup keberanian untuk melakukan kejahatan lagi dan lagi bahkan setelah menerima hukuman. Mereka tetap selalu sengaja melakukan kejahatan secara terus menerus dengan cara yang diperhitungkan.

 Sebagai suatu istilah hukum, pelaku pengulangan delik atau recidivist disebut juga menggunakan istilah “bromocorah”.
Andi Hamzah dalam bukunya “Terminologi Hukum Pidana” memberi makna bromocorah sebagai “orang yang mengulangi delik dalam jangka waktu yang ditentukan undang-undang; misalnya, perbuatan melakukan delik lagi dalam jangka waktu 12 tahun sejak putusan hakim yang berkekuatan hukum yang tetap atau sejak pidana dijalani seluruhnya, atau sebagainya”.

Penyebab Residivisme
Penyebab residivisme adalah kombinasi dari faktor personal, sosiologis, ekonomi, dan gaya hidup. Berikut ini adalah penyebab residivisme yang kerap terjadi:

Pendidikan yang kurang
Kurangnya pendidikan seseorang membuatnya menjadi residivis. Misalkan mengambil contoh dua orang, satu orang mendapatkan pendidikan, mengembangkan keterampilannya, mempelajari hal-hal baru sedangkan orang lain tidak mendapatkan pendidikan yang layak sehingga ia tetap tidak terampil. 
Akibatnya dalam dunia persaingan saat ini yang kemudian tidak dapat berdiri dengan orang yang memiliki keterampilan yang cukup. Jadi untuk mencari nafkah, orang-orang mulai memanjakannya dalam kegiatan kriminal.

Kemiskinan
Salah satu penyebab kemiskinan adalah pengangguran. Untuk menjalankan mata pencaharian seseorang memilih satu atau lain cara untuk mendapatkan uang dan sebagian besar waktu ditemukan bahwa orang tersebut memanjakan dirinya dalam kegiatan kriminal. 
Juga ditemukan bahwa pelaku setelah keluar dari penjara mereka menghadapi penolakan. Orang-orang menolak pelaku karena aktivitas kriminal mereka di masa lalu. 
Hanya masyarakat yang tidak mengizinkan pelaku untuk melakukan reformasi. Akibatnya mereka kesulitan mencari uang dan menjalankan mata pencaharian yang berujung pada kemiskinan. Dengan demikian, mereka kembali melakukan tindak kriminal.

Tidak mengubah gaya hidup atau lingkaran sosialnya
Untuk seorang pelaku rehabilitasi yang berhasil setelah mulai dibebaskan harus menjauhkan diri dari semua orang yang terlibat dalam kegiatan kriminal. Jika pelaku tetap bersama orang yang terlibat dalam jenis tindak pidana tersebut, maka kemungkinan besar orang tersebut dapat kembali untuk melakukan jenis kejahatan tersebut lagi. 

Namun permasalahannya adalah setelah pelaku dibebaskan dari penjara, menjadi sulit bagi pelaku untuk mendapatkan teman baru karena semua teman baru akan mengabaikannya untuk kegiatan kriminalnya di masa lalu. Dengan demikian pelaku kembali ke teman lama yang terlibat dalam

Kegiatan kriminal.
Depresi dan Kehancuran
Pelaku menderita masalah mental yang serius di penjara dan tanpa perawatan yang tepat mereka dibebaskan. Bahkan setelah dibebaskan mereka menghadapi banyak stigma seperti pengangguran, ketidaktahuan, kurangnya dukungan yang memaksa mereka untuk masuk ke dalam keadaan depresi yang lebih dalam dan menyebabkan melibatkan diri mereka sendiri dalam penggunaan narkoba dan terlibat dalam kegiatan

Kriminal.
Tidak Rehabilitasi yang Tepat
Penjara menyatakan bahwa tujuan mereka adalah untuk merawat dan merehabilitasi mereka. Tetapi ditemukan bahwa pelanggar tidak direformasi dengan benar. Di penjara para pelanggar menderita tekanan mental. Jadi setelah keluar dari penjara mereka kembali bergabung dengan kegiatan kriminal.

 

Editor: Ahmad Wahidin

Bagikan melalui:

Komentar