Efektivitas Bimbingan Kepribadian Dalam Bentuk Bimbingan Keagamaan Bagi Warga Binaan Pemasyarakatan

Efektivitas Bimbingan Kepribadian Dalam Bentuk Bimbingan Keagamaan Bagi Warga Binaan Pemasyarakatan Dok SPN ilustrasi

SINARPAGINEWS.COM, SEMARANG - Rabu (18/05/2022), Penjara merupakan institusi yang diharapkan berperan untuk melakukan transformasi seorang kriminal menjadi warga negara yang baik. Namun ternyata banyak narapidana melakukan kejahatan kembali setelah keluar dari penjara. Bahkan tidak jarang penjara berfungsi menambah ilmu kejahatan bagi para narapidana. Tulisan ini memberikan analisis tentang kekurangan penjara di Indonesia yang menyebabkan ketidakefektifan lembaga tersebut untuk memutus rantai kejahatan dan masalah sosial. Untuk itu intervensi yang diberikan lapas kepada para narapidana tidak bisa parsial, namun multidisiplin. Keterampilan dan pendidikan diberikan kepada narapidana agar mereka mempunyai bekal untuk mendapatkan pekerjaan dan uang yang halal.

Bimbingan dan konseling diberikan agar seorang narapidana menemukan rasa ketuhanan dan keagamaan sehingga menjadi pribadi yang religious. Selain intervensi di dalam penjara dibutuhkan intervensi sosiologi di luar penjara dalam tahap terminasi, berupa penyaluran dan garansi untuk melunturkan label atau steriotip negatif yang melekat dalam diri mereka sebagai mantan narapidana.

Penjara atau lembaga pemasyarakatan atau LP atau lapas merupakan institusi yang diciptakan oleh negara untuk melakukan transformasi kriminal atau pelaku kejahatan menjadi warga negara yang baik. Dengan masuk ke LP seorang pelaku kejahatan mendapatkan intervensi berupa pendidikan dalam berbagai bidang sehingga setelah masa “penebusannya” diharapkan dapat kembali hidup di tengah masyarakat dan tidak lagi melakukan perbuatan yang melanggar hukum.

Konseling, pendidikan mental spiritual (agama), pendidikan formal, dan ketrampilan diberikan negara kepada para narapidana. Bahkan di Pekanbaru, napi atau yang sering disebut warga binaan LP tidak saja mendapatkan keterampilan, namun juga mendapatkan kesempatan untuk kuliah sambil menjalani hukuman.Lapas memberikan penanaman nilai-nilai baru atau cuci otak agar para narapidana dapat hidup normal sesuai norma masyarakat dan aturan negara. Pemberian pendidikan dan ketrampilan kepada narapidana di lapas merupakan salah satu intervensi untuk memberi bekal kepada mereka agar mampu hidup normal kembali sehingga tidak mengulangi perbuatannya. Tidak masuk penjara lagi merupakan ukuran keberhasilan proses transformasi di lapas.

Namun kasus-kasus yang terjadi menunjukan hal yang sebaliknya, banyak narapidana setelah keluar dari penjara tetap menjalankan perbuatan lamanya. Inilah yang disebut dengan terjadinya siklus kriminal, dimana penjara tidak mampu untuk menjadikan narapidana menjadi warga negara yang baik, bahkan di beberapa kasus, mereka malah menjadi semakin ahli dalam melakukan tindak kejahatan.
Dalam kajian agama, seorang manusia melakukan kejahatan oleh karena bisikan setan. Setan melakukan bujuk rayu kepada manusia sehingga manusia dikuasai setan.

Meskipun demikian, manusia mempunyai kemampuan untuk berlatih mengendalikan nafsu atau bujukan-bujukan setan dengan berpegang pada agama. Dalam Islam, setiap tahun umat yang telah memenuhi syarat di wajibkan untuk berpuasa sebagai bentuk latihan mengendalikan nafsu jahat yang dibisikan setan.

Pendekatan keagamaan juga tidak tunggal dalam menafsir kejahatan. Beberapa doktrin menganggap orang melakukan kejahatan karena bisikan setan yang terbuat dari api. Dengan demikian untuk menghilangkan pengaruh setan yang terbuat dari api maka manusia harus dimandikan atau berwudlu sehingga setan yang terbuat dari api akan pergi. Beberapa pendekatan, bahkan melakukan pemasungan dan penghilangan nyawa pelaku kejahatan karena menganggap setan harus dimusnahkan karena telah merasuk ke dalam tubuh.

Dalam pendekatan keagamaan juga muncul pendekatan yang hampir sama dengan penjelasan para psikologi 

sosial, khususnya teori perkembangan yang percaya bahwa pada dasarnya manusia baik dan kondisi lingkunganlah yang mempengaruhi penyimpangan-penyimpangan prilaku. Pengaruh lingkungan dan pendidikan yang tidak tepat, menyebabkan seorang anak yang baik berprilaku menyimpang.
Berdasar asumsi pendekatan ini, banyak orang tua memproteksi pergaulan anak dan berusaha mensosialisasikan, menginternalisasi nilai-nilai anaknya sehingga si Anak mempunyai filter agar tidak tercemari lingkungan sosial yang buruk.

Dalam kajian psikologi perkembangan, terdapat keyakinan bahwa manusia berkembang dengan tahapan-tahapan yang berbeda dan unik. Tahapan-tahapan perkembangan ini tidak bisa dipertukarkan satu dengan yang lain. Dalam setiap tahapan memerlukan penanganan yang berbeda-beda. Paradigma ini percaya bahwa penanaman nilai etika dan moral di usia dini akan menentukan pembentukan karakter, kepribadian di masa selanjutnya. Penanaman nilai-nilai moral ini dapat menghindarkan seorang anak untuk berprilaku menyimpang dan kriminal. Anak nakal merupakan hasil dari penanaman nilai-nilai yang gagal di masa kecil.

Terciptanya masyarakat aman bebas dari masalah sosial merupakan cita-cita semua orang. Langkah pertama yang dapat dilakukan adalah melakukan pendidikan yang baik kepada anak di usia emas, seperti konsep perkembangan kepribadian.

Asumsi yang dibangun adalah jika 18 18 semua keluarga mendidik anaknya dengan benar maka tidak akan ada prilaku yang menyimpang termasuk kriminalitas.

2.Jika keluarga tidak mampu memberikan pendidikan karakter yang baik sehingga muncul tindakan kejahatan maka benteng terakhir untuk melakukan transformasi nilai adalah penjara.

3.Penjara merupakan institusi yang bertugas untuk melakukan transformasi nilai agar seorang kriminal berubah menjadi warga negara yang baik. Penjara di Indonesia tidak diciptakan untuk melahirkan rasa jera dalam bentuk hukuman, tetapi proses penyadaran dan pendidikan. Namun persoalannya, banyak narapidana melakukan kejahatannya kembali setelah keluar dari penjara. Tidak ada rasa kapok seorang pelaku kejahatan setelah dipenjara, bahkan tidak jarang penjara berfungsi menambah ilmu kejahatan bagi para narapidana.

4. Salah satu bentuk intervensi yang tidak diperhatikan oleh pengelola lembaga pemasyarakatan adalah proses terminasi dan pemantauan. Dibutuhkan bimbingan tidak saja ketika di penjara, namun yang paling penting adalah proses terminasi berupa bimbingan dan jaminan kepada mereka ketika keluar dari penjara agar situsi di luar penjara tidak memaksanya kembali melakukan perbuatan jahat.

Editor: Red

Bagikan melalui:

Komentar