Gelar Workshop Pendidikan, Dede Yusuf singgung bedakan antara Guru dan Politisi

Gelar Workshop Pendidikan, Dede Yusuf singgung bedakan antara Guru dan Politisi Ahmad spn Dede Yusuf M Efendi didampingi tenaga ahli M. Hailuki bersama unsur kementerian pendidikan saat menggelar workshop, Jum'at (25/11/2022) di grand Sunshine Soreang, Kab. Bandung.
BANDUNG - Kementerian dan Kebudayaan Riset dan Teknologi (Kemendikbud Ristek) menggelar Workshop pendidikan bertepatan di Hari Guru Nasional pada 25 November 2022.
 
Workshop tersebut digelar di Grand Sunshane Soreang, Kabupaten Bandung, Jum'at (25/11/2022). Selain unsur Kemendikbud Ristek menjadi pembicara, turut hadir Wakil Ketua Komisi X, Dede Yusuf Macan Effendi.
 
Dalam paparannya, Dede Yusuf M Effendi mengatakan, guru saat ini dihadapkan dengan konsep merdeka belajar. Selain itu, siswa diberi keleluasaan mengembangkan diri sesuai minat dan bakatnya.
 
“Dalam konsep merdeka belajar ini saya melihat justru gurunya yang belum merdeka. Masih banyak beban administrasi yang justru menjerat para guru,” kata Dede pada Workshop pendidikan tersebut.
 
Sebelumnya, diawal paparan, Dede Yusuf mengaku bisa membedakan antara guru dan politisi, caranya cukup dengan melihat saat mendengarkan sebuah pidato.
 
“Guru saat mendengarkan pidato atau sambutan biasanya langsung pegang alat tulis. Sementara seorang politisi biasanya langsung utak atik handphone. Saya lihat, 90 persen di sini pasti guru,” singgung politikus Partai Demokrat ini kepada para peserta hadir.
 
Sementara itu, Plt Direktur Pendidikan Masyarakat dan Pendidikan Khusus Dr Aswin Wihdiyanto menyebut pemeritah sedang memulihkan pembelajaran. Hal itu dampak krisis pandemi yang lebih dua tahun menyebabkan pembelajaran tersendat.
 
“Asesmen Nasional sebagai pengganti Ujian Nasional sekarang ini dilakukan sebagai refleksi hasil pembelajaran. Bukan untuk menilai apalagi menghukum guru dan murid,” jelas Aswin yang juga menjadi pembicaran pada workshop pendidikan tersebut.
 
Berbeda dengan UN (ujian nasional), lanjut Aswin, AN (asesmen nasional) tidak dilakukan di semua satuan pendidikan. Tidak menyasar seluruh aiswa. Dan tidak untuk menentukan kelulusan.

Editor: Dimas Madia

Bagikan melalui:

Komentar