Cabut Surat Rekomendasi Saat Turnamen, Perbasi Dituntut Rp 21,2 Miliar

Cabut Surat Rekomendasi Saat Turnamen, Perbasi Dituntut Rp 21,2 Miliar Chairul Cabut Surat Rekomendasi, Perbasi Dituntut Rp 21,2 Miliar

SINARPAGINEWS.COM, JAKARTA - Pengurus Pusat Persatuan Basket Seluruh Indonesia (PP Perbasi) terancam digugat Rp 21, 2 miliar oleh PT. Kuy Digital Indonesia selaku penyelenggara ajang Gunadarma Java International Basketball Tournament (GJIBT) karena Perbasi mencabut dan membatalkan surat rekomendasi saat turnamen masih berlangsung. Adapun rinciannya, PT. Kuy Digital Indonesia menggugat kerugian materil sebesar Rp 1,2 Miliar karena Perbasi mencabut dan membatalkan surat rekomendasi saat turnamen masih berlangsung. Selain itu, PT Kuy Digital juga akan menggugat kerugian imateril sebesar Rp 20, 2 Miliar.

Perbasi dinilai bertindak arogan karena menghentikan secara sepihak turnamen basket yang diselenggarakan PT Kuy Digital Indonesia bersama Kemenparekraf.  Adapun turnamen basket GJIBT tersebut rencananya berlangsung di kampus Gunadarma Depok pada 1-7 Juli 2024. Sayangnya, agenda yang melibatkan banyak klub basket dari dalam dan luar negeri itu dihentikan oleh Perbasi. Adapun duduk perkaranya diduga karena persoalan wasit. 

Dengan adanya pencabutan surat rekomendasi tersebut maka penyelenggaraan GJIBT dihentikan, sehingga tidak terjadi sebuah pembinaan kemampuan, keterampilan ribuan pelajar dan para atlet basket di Indonesia.

Sehingga tak satu pun dari mereka yang berhasil meraih prestasi. Padahal jika penyelenggaraan GJIBT selesai maka akan didapatkan sejumlah kelompok juara atau pemenang dari klub basket yang saling adu prestasi dalam bermain basket.

Peristiwa tersebut tentunya membingungkan pihak panitia dan penyelenggara. Sebab menurut ketua panitia, pihak GJIBT telah bertindak sesuai aturan dengan menerima rekomendasi dari Perbasi Kota Depok pada 21 April 2024 dan rekomendasi dari Perbasi Jawa Barat pada 23 April.

Ketua panitia GJIBT, Gatot Wijonarko mengatakan kalau tujuan penyelengaraan event tersebut tak lain adalah hanya untuk melakukan pembinaan dan pemberian pengalaman bertanding dengan klub atau kelompok pemain bola basket dari 4 (empat) negara tanpa harus pergi ke luar negeri dengan biaya yang besar.

“Tujuan kami menyelenggarakan event internasional ini agar teman-teman pesaket di Indonesia dikelompokkan umur pembinaan dapat merasakan bertanding dengan tim-tim bola basket dari luar negeri di negaranya sendiri dengan biaya yang sangat minimal tanpa harus membeli tiket pesawat, membayar sewa hotel hingga uang saku yang besar,” papar Gatot Wijonarko pada Konferensi Pers di kawasan Depok, Jawa Barat, Rabu, (10/07/2024).

Sementara itu pengacara event GJIBT, Deolipa Yumara mengatakan dengan dicabutnya surat rekomendasi penyelenggaraan tersebut, pihak panitia penyelenggara mengalami kerugian materi dan imateril. Karenanya pihaknya akan mengajukan juga gugatan ganti rugi beredar 21,2 miliar.

“Dengan kasus ini, panitia takhanya menjadi korban saja dan mengalami kerugian. Untuk materi penyelenggaraan sebanyak 1,2 miliar sedangkan kerugian imateril sebesar 20 miliar. Dengan demikian semua menjadi 21,2 miliar rupiah yang akan kita ajukan sebagai ganti rugi secara keseluruhan,” papar Deolipa Yumara.

Ditempat yang sama, penanggung jawab event GJIBT, Suri Agung Prabowo menyerahkan penyelesaian kasus tersebut dan meminta maaf kepada seluruh peserta, orangtua peserta, peserta dari luar negeri dan para sponsor yang telah ikut berpartisipasi dalam turnamen bola basket internasional tersebut.

“Saya meminta maaf kepada para peserta dalam negeri, peserta luar negeri dari empat negara, orangtua peserta dan sponsor. Alhamdulillah selain peserta sponsor pun dapat memahami situasinya, terima kasih, pungkas Suri Agung Prabowo yang akrab disapa Agung ini. 

Editor: Chairul

Bagikan melalui:

Komentar