Putri Azizzah Khairunisa

Mojang Priangan Yang Ingin Menjaga dan Melestarikan Seni Budaya Pencak Silat

Mojang Priangan Yang Ingin Menjaga dan Melestarikan Seni Budaya Pencak Silat Asep Ruslan Putri Azizzah Khairunisa (Dok. Pribadi)

Generasi muda harus tahu, dimana dalam Prasasti Galunggung ada penggalan kalimat yang berbunyi "moal aya zaman now mun taya zaman old" artinya tidak akan ada zaman sekarang kalau tidak ada zaman dulu.

SINAR PAGI NEWS, KABUPATEN GARUT - Sejatinya perkembangan zaman berbanding lurus dengan perkembangan seni budaya, namun pada kenyataannya tidak sedikit perkembangan zaman malah mengiris tatanan seni budaya sehingga menciptakan dekadensi moral. Dimana saat ini generasi muda rata-rata hampir melupakan seni budaya, sudah jarang generasi muda yang mau belajar apalagi melestarikan seni budaya.

Contohnya anak-anak remaja zaman now lebih suka belajar Tarian Luar Negeri dan Goyang TikTok dibandingkan belajar Jaipong atau Tarian daerah lainnya di Indonesia. Saat ini anak-anak remaja generasi muda lebih banyak memilih belajar seni beladiri dari luar dibandingkan dengan belajar Pencak Silat seni beladiri warisan leluhur yang kaya dengan philosophy kehidupan. Bahkan karena kekayaan philosophy yang tersirat dalam Pencak Silat itu, Pencak Silat pernah diklaim milik Negara Malaysia.

Berkat perjuangan keras pemerintah Indonesia dan para sesepuh Pencak Silat Indonesia, dimana dua orang diantaranya adalah Guru Besar Panglipur yaitu Asep Gurwawan dan Agus Irwan, akhirnya pada tanggal 12 Desember 2019, UNESCO memutuskan bahwa Pencak Silat adalah Warisan Budaya Tak Benda Milik Indonesia. Keputusan UNESCO tersebut direspon cepat oleh Gubernur Jawa Barat Mochammad Ridwan Kamil atau Kang Emil yang waktu itu masih menjabat sebagai Walikota Bandung, dengan mendeklarasikan bahwa setiap tanggal 12 Desember, adalah Hari Pencak Silat Jawa Barat, yang Insha Allah akan menjadi hari Pencak Silat Nasional.

Guru Besar HPS Panglipur Asep Gurwawan bersama Presiden Paguyuban Asep Dunia (PAD) Asep Ruslan (Foto. Asep)

Kembali ke perkembangan zaman yang menggerus seni budaya, kita tidak bisa 100% menyalahkan generasi muda sekarang kalau sampai mereka tidak mau mempelajari dan melestarikan seni budaya, ini tanggung jawab bersama pemerintah, swasta dan masyarakat.

Generasi muda harus tahu, dimana dalam Prasasti Galunggung ada penggalan kalimat yang berbunyi "moal aya zaman now mun taya zaman old" artinya tidak akan ada zaman sekarang kalau tidak ada zaman dulu.

Jadi kita harus sama-sama bahu membahu bergerak bersama untuk menjaga dan melestarikan seni budaya, jangan sampai punah dan diakui oleh negara lain. Mari kita sama-sama kampanyekan : "Ikuti zamanmu, Jangan Lupakan Budayamu. Ngamumule Budaya Lamun Teu Ku Urang Rek Kusaha, Lamun Teu Ayeuna Rek Iraha."

Putri Azizzah Khairunisa

Disela kekhawatiran akan hilangnya generasi muda yang masih mau menjaga dan melestarikan seni budaya khususnya Pencak Silat, alhamdulillah kita diperkenalkan dengan Gadis Cantik Mojang Priangan Bernama Putri Azizzah Khairunisa (13th), yang biasa dipanggil Azizzah. Anak pertama dari pasangan Buce Fachry Shahertian Wiriaatmadja dan Anten Puji Asmara Hernanda.

Juara 1 Olimpiade Siswa Nasional di Garut (Dok. Pribadi)

Prestasi Azizzah di Pencak Silat :

  1. Juara I Pencak Silat Putri (TGR) Olimpiade Siswa Nasional di Garut (2 Maret 2019).
  2. Juara Harapan III Tunggal Anak Putri "Pasanggiri Sinar Pusaka Putra Open" di Garut 25-28 April 2019
  3. Peserta Jambore Cabang Kabupaten Garut 27-30 Agustus 2019
  4. Juara III Perorangan Usia Dini Putri Festival Pencak Silat se - Kab Garut "Dispora Cup 14-15 September 2019
  5. Juara I Tanding SD Kelas F Pusaka Nagara Open 2019 se - Jabar dan Banten, di Garut 15-17 November 2019
  6. Juara I Tanding SD Kelas F Mardini Open 2 Antar Pelajar se - Asia Tenggara di Sumedang 19-22 Desember 2019
  7. Juara Utama II Rampak Putri Pasanggiri Seni Ibing Pencak Silat di Garut 29-31 Desember 2019
  8. Juara Utama I Tunggal Remaja Putri Pasanggiri Seni Ibing Pencak Silat di Garut 29-31 Desember 2019
  9. Juara I Tunggal Putri IPSI tangan kosong SD Perisai Diri Cup Open XIII se - Pulau Jawa di Ciamis 24-26 Januari 2020
  10. Juara I Tanding SD Putri Kelas H Perisai Diri Cup Open XIII se - Pulau Jawa di Ciamis 24-26 Januari 2020
  11. Juara III Tanding SD Putri BMI Championship 2 di Bandung 26-29 February 2020
  12. Juara 1 Madya Tunggal Dewasa Putri Pasanggiri Cilawu Open 28-30 Agustus 2020
  13. Juara II Perorangan Pra Remaja Putri Festival Pencak Silat se - Kab Garut 13-15 Nopember 2020
  14. Juara II Rampak Remaja Putri Pasanggiri dan Festival IPSI Kadungora 29-31 Desember 2020

Juara I Tunggal Putri IPSI tangan kosong SD Perisai Diri Cup Open XIII se - Pulau Jawa di Ciamis 24-26 Januari 2020 (Dok. Pribadi)

Cerita Perjuangan Azizzah

Di balik deretan prestasi Azizzah, ada cerita perjuangannya yang menarik dalam mencapai prestasi tersebut. Azizzah kecil beberapa kali berhenti belajar pencak silat, hanya karena takut tampil dihadapan orang banyak bila ikut didaftarkan peserta pasanggiri. Sempat suatu saat ketika HPS Panglipur tampil ayahnya Azizzah menawarkan untuk masuk belajar di HPS Panglipur, tapi tetap saja Azizzah merasa ketakutan apabila tampil dihadapan banyak orang.

Disinilah peran orang tua dan lingkungan sekitar sangat dibutuhkan untuk tumbuh kembang seorang anak. Kerja keras dan kesabaran orang tuanya dalam memotivasi Azizzah membuahkan hasil, secara perlahan Azizzah menuntut Ilmu Pencak Silat di Perguruan Sinar Pusaka Putra Kopo Garut.

Dibawah bimbingan Bapak Iso Guru Besar SPP Kopo Garut Azizzah tumbuh jadi remaja putri pemberani, tidak takut lagi untuk tampil dihadapan orang banyak, bahkan sekarang setelah beberapa kali mendapatkan gelar juara, percaya dirinya semakin tumbuh kuat, semangat belajar mendalami pencak silat semakin tinggi.

Azizzah bersama Guru Besar SPP Bapak Iso (Dok. Pribadi)

Azizzah ingin ikut menjaga dan melestarikan Pencak Silat, bahkan cita-citanya sangat mulia ingin mengembangkan Pencak Silat sampai ke mancanegara, meneruskan cita-cita mulia para sesepuh pencak silat yang sudah terlebih dahulu memperkenalkan pencak silat ke luar negeri.

"Azizzah sangat terinspirasi oleh Almarhumah Ibu Eni Sekarningrat Maestro Pencak Silat Perempuan satu-satunya di dunia dari HPS Panglipur, Azizzah ingin seperti beliau," kata Azizzah.

Selain itu Siswi kelas 1 SMPN 3 Leles Garut ini mengatakan, selain kedua orang tuanya banyak sekali pihak-pihak yang mensupport dirinya agar terus memperdalam Ilmu Pencak Silat, salah satunya pamannya Ketua Paguyuban Asep Dunia (PAD) DPD Jakarta Barat, Asep Sunda Taruna, salah satu pengurus di HPS Panglipur.

“Beliau selalu mengingatkan Azizzah “Ngamumule Budaya lamun teu ku urang, rek Kusaha, Lamun Teu Ku Ayeuna Rek Iraha, Ikuti zamanmu Jangan Lupakan Budayamu,” ungkap Azizzah.

Sangat terinspirasi oleh Alm. Ibu Eni Sekarningrat Maestro Pencak Silat Perempuan dari HPS Panglipur (Dok. Pribadi)

Tidak lupa Azizzah mengucapkan terima kasih untuk kedua orang tuanya dan Bapak Iso Guru Besar Perguruan Pencak Silat Sinar Pusaka Putra Kopo yang sudah sangat sabar membimbing dia sampai saat ini.

Azizzah juga menyampaikan bahwa besar harapan dia agar generasi generasi muda lainnya agar dapat Mencintai seni Budaya Warisan Leluhur agar bisa sama sama Melestarikan seni Budaya jangan sampai punah, karena jika diawali dengan mencintai maka akan merasa memiliki.

"Semua ini berawal dari cinta, dan disebabkan oleh cinta, maka kita akan menyesaikannya dengan cinta" Dalam Hidup Jangan Pernah Berharap Ada Orang Yang Tepat Untuk Menghampiri Hidup Kita, Lebih Baik Menjadi Orang Yang Tepat Untuk Menghampiri Hidup Orang Lain,” pungkas Azizzah, mengutip kata-kata sang paman Asep Sunda Taruna yang melekat erat dalam ingatannya.

Dari cerita Azizzah diatas, peran serta orang tua dan lingkungan sangat besar pengaruhnya dalam membentuk karakter, mental dan spiritual seorang anak.

Asep Sunda Taruna selaku paman dari Azizzah mengatakan, sebagai orang tua mari kita sama-sama kembali ke pakem kita, jangan sampai 100% menyerahkan pendidikan anak kepada tenaga Pengajar atau guru, karena sejatinya Madrasah Pertama buat anak-anak adalah orangtuanya.

“Dari cerita Azizzah ini diharapkan dukungan dari berbagai intansi terkait agar lebih memfokuskan lagi pelestarian seni budaya. Karena diluar sana, sangat banyak Azizzah Azizzah lainnya yang punya cita-cita mulia untuk menjaga dan melestarikan budaya agar tidak punah dan dikenal oleh dunia,” ujar Asep Sunda Taruna.

Asep Sunda Taruna (pakai iket) bersama pengurus HPS Panglipur Pusat dan Presiden PAD (Foto. Asep)

Menurut Asep, berikan mereka wadah yang tepat untuk mewujudkan semua itu jangan sampai potensi-potensi terbaik bumi pertiwi ini layu sebelum berkembang karena tidak memiliki wadah aspirasinya, masa depan bumi pertiwi ini ada dipundak mereka. Seni Budaya adalah ciri suatu bangsa, bila seni budaya itu hilang, maka hilanglah bangsa itu.

“Hirup Nu Miboga Ajen Luhung Teh Iwal ti Nyampeikeun Karya Nu Nyata, Imut Nu Salawasna Mapaes Poe, Bari Jeung Ka Ikhlasan Nu Taya Reureuhna” artinya Hidup yang mempunyai arti luhur itu hanya dengan menyampaikan karya yang nyata, Senyum yang senantiasa menghiasi hari dan keikhlasan yang tidak pernah berhenti,” pungkas paman Azizzah.

Editor: Asep Ruslan

Bagikan melalui:

Komentar