Tradisi Minta Maaf Pada Saat Lebaran

Tradisi Minta Maaf Pada Saat Lebaran Dok SPN Sumarno, S.E. M.Si.Dosen Fakultas Ekonomi Dan Bisnis Universitas Pancasakti Tegal.

Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, wa lillahilham. Lebaran telah tiba. Lebaran (Idul Fitri) merupakan pintu ampunan telah terbuka lebar. Lebaran membawa setiap orang untuk saling bertemu dalam suasana hangat untuk meminta maaf atas kesalahan yang sengaja diperbuat maupun tidak sengaja, baik lisan maupun perbuatan, baik lahir maupun batin.

Penerima maaf pun akan memberikan maaf dengan sukarela.

Melakukan aktifitas Ramadan secara benar dan sungguh-sungguh dengan selalu mengikuti tuntunan syari`at, seorang anak manusia akan mendapatkan ampunan dari Tuhan atas dosa-dosanya yang telah lalu. Artinya dalam hubungannya dengan Tuhan atau Hablumin Allah seseorang yang telah mendapatkan ampunan, tentu dapat dikatakan telah kembali kepada fitrah atau kesucian tersebut.

Dengan meminta maaf kepada sesama manusia (Habluminannas), yang dalam perjalanan hidupnya pasti pernah berbuat salah dan khilaf, kemudian terlupakan oleh sebagian besar umat Islam. Mengapa kita mudah meminta maaf dan memberikan maaf saat Lebaran, tapi amat sulit melakukannya saat hari-hari biasa?.

Nabi Muhammad S.A.W. sendiri memberikan isyarat untuk hal ini dalam salah satu hadisnya yang berbunyi: Barang siapa yang berpuasa Ramadan (dalam sebuah riwayat lainnya melakukan ibadah di malam Ramadan) dengan didasari iman dan hanya semata mencari keridaan Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni oleh-Nya. Demikian pula tidak akan merasa berat untuk meminta maaf atas segala kesahannya tersebut.

Hal ini tentu berbeda dengan kondisi di luar idul fitri, dimana cukup banyak contoh orang tidak mau mengakui kesalahan yang diperbuatnya, dan bahkan kesalahan yang dilakukannya tersebut diupayakan agar tampak benar. Pada kondisi yang demikian dia juga antipati tidak mau meminta maaf atas kesalahan dan kekhilafannya, dia akan lebih mengedepankan gengsi dan reputasinya di hadapan publik, meskipun hal itu tidak tepat dan tidak dapat menolongnya.

Islam mengajarkan umatnya untuk menjaga keseimbangan dalam konsep Hablumin Allah dan Habluminannas. Takwa dan Akhlak yang baik. Islam juga mengajarkan, hubungan baik dengan Allah saja tidak cukup. Rajin ibadah seperti shalat, zakat, dan puasa tidak cukup, namun juga harus diimbangi dengan hubungan yang baik dengan sesama manusia.

Dalam pengertian syariah, makna hablum minallah sebagaimana yang dijelaskan di dalam tafsir At-Thabari, Al-Baghawi, dan tafsir Ibnu Katsir adalah: “Perjanjian dari Allah, maksudnya adalah masuk Islam atau beriman dengan Islam sebagai jaminan keselamatan bagi mereka di dunia dan di akhirat”.

Allah S.W.T. berfirman dalam QS. An-Nisa ayat 36 yang artinya: “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, Ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri.”
Hablumminannas adalah dengan akhlaqul karimah (akhlak mulia). Hablumiannas dengan sesama muslim adalah "ruhamau bainahum".

"Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka" (QS Al-Fath: 29).

Contoh Habluminannas dengan nonmuslim adalah toleransi sebagaimana diajarkan dalam QS Al-Kafirun.

Hablumminannas adalah hubungan baik dengan sesama manusia. Harmoni sosial, dengan tetangga, teman kerja, lingkungan, dll. Pedoman Hablumin Allah dan Habluminannas antara lain dalam hadits Nabi Saw berikut ini “Dari Abu Dzar Jundub bin Junadah dan Abu Abdirrahman Muadz bin Jabal radhiyallahu ‘anhuma, dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda, “Bertakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada. Iringilah keburukan dengan kebaikan, niscaya kebaikan tersebut akan menghapuskan (keburukan). Dan pergauilah manusia dengan akhlak yang mulia.” (HR. At-Tirmidzi, dan dia berkata: Hadits Hasan Shahih).

Takwa yang diperintahkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengenal tempat. Bertakwalah di mana pun berada, baik saat sunyi sendirian terlebih lagi ketika berada di tengah keramaian. Inilah sebenar-benarnya takwa dan merupakan takwa yang paling berat. Dalam hadits tersebut Rasulullah S.A.W. juga berwasiat agar bersegera melakukan kebaikan tatkala terjerumus dalam keburukan. Hadits ini juga menjelaskan perintah untuk segera bertobat kepada Allah. Karena taubat merupakan amal shalih yang paling mulia dan harus disegerakan pengerjaannya.

Seorang Muslim yang senantiasa menjaga keseimbangan habluminallah dan habluminannas memiliki banyak keutamaan. Ia akan mendapatkan pahala amal kebaikan yang utuh di sisi Allah S.W.T. Dengan mendoakan keselamatan saudara kita dalam keadaan apapun, maka keberkahan dan keselamatan akan bersama kita di dunia dan akhirat. Seorang Muslim yang menjaga baik hubungannya dengan manusia lain akan mendapatkan ridho Allah S.W.T.
Semoga bermanfaat, Aamiin.(*)

Oleh: Sumarno, S.E. M.Si. (Kyai Kampung) Dosen Fakultas Ekonomi Dan Bisnis Universitas Pancasakti Tegal.

Editor: Red

Bagikan melalui:

Komentar