SEJARAH: Makna dibalik kerasnya Rosululloh terhadap kekufuran.

Keyakinan dan Kekuatan Cinta Rasulullah SAW

Keyakinan dan Kekuatan Cinta Rasulullah SAW Rubrik Opini, Penulis: Dimas Madia, Jurnalis, Wakil Pemimpin Redaksi Sinarpaginews.com. Foto: Dok Redaksi.

DALAM perjuangannya, rintangan demi rintangan terus diatasi Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Beliau terus berusaha memperbaiki kualitas jihad yang sedang dibangun bersama pengikutnya. Salah satu rahasia besar kesuksesan beliau adalah keyakinan yang amat kuat kepada Allah Subhanahu Wata'ala dan rasa Cinta yang begitu besar.

Suatu ketika dalam Perang Dzatur Riqa di tengah perjalanan yang begitu melelahkan, pasukan muslimin menemukan sebuah pohon rindang. Para sahabat meminta Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam beristirahat di bawah pohon itu, sementara mereka sendiri berpencar mencari tempat berlindung dari sengatan matahari.

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam menggantungkan pedangnya di pohon tersebut dan tertidur. Tiba-tiba muncullah seorang musyrik. Dengan cerdik ia berjalan tenang seolah-olah dirinya merupakan bagian dari pasukan muslim.

Ditujunya tempat Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam berteduh, lalu dengan cepat berniat jahat ia mengambil pedang Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dan menodongkannya ke dada beliau hingga Rosululloh terbangun.

"Apakah engkau takut kepadaku?" seringai orang itu.

"Tidak," jawab Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam tegas dan tenang.

Orang itu merasa heran karena sudah pasti sesaat lagi ia akan menusukkan pedangnya. "Lalu siapa yang bisa menghalangimu dari tindakanku?" tanya orang itu kepada Rosululloh.

"Allah!" Kembali Rosululloh jawab dengan tenang.

Seketika itu juga, orang musyrik itu gemetar, pedangnya terlepas dan tanpa daya ia duduk di hadapan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Dengan tangkas, beliau segera mengambil kembali pedangnya dan mengacungkannya ke dada orang itu.

"Sekarang siapa yang bisa menghalangimu dari diriku?" tanya Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam kepada musuh yang berbalik terancam.

Orang itu berharap tidak dibunuh dengan menjawab Rosululloh, "Jadilah sebaik-baik orang yang menjatuhkan hukuman." Ucapnya sambil terdesak.

Beliau bersabda, "Kalau begitu bersaksilah bahwa tiada ilah selain Allah dan bahwa aku adalah utusan Alloh," ajak Rosululloh.

"Aku berjanji kepadamu untuk tidak memusuhimu dan tidak akan bergabung bersama orang-orang yang memusuhimu," kata orang itu.

Beliau memanggil para sahabatnya dan menceritakan apa yang telah terjadi. Beliau sama sekali tidak memarahi orang itu. Bahkan beliau melepaskan orang itu yang kemudian pulang dan berkata kepada kaumnya, "Aku baru saja menemui orang yang paling baik." Seraya orang itu dihadapan umum.

Keyakinan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam berasal dari kekuatan cinta kepada Allah.

Beliau berdoa, "Ya Allah aku memohon dan meminta agar aku selamanya mencintaiMu, dan mencintai orang yang cinta kepadaMu serta mencintai pekerjaan yang dapat membawa aku untuk mencintaiMu. Ya Allah, jadikanlah cinta kepadaMu itu lebih daripada aku mencintai diriku dan keluargaku dan lebih dari rinduku pada air yang tawar pada kala panas." Doanya.

Manifestasi perjuangan rosululloh adalah rasa Cinta, Cinta terhadap keselamatan seluruh makhluknya dihadapan sang kholik.

Rosululloh berjihad dijalan alloh agar seluruh manusia mendapatkan keselamatan ketika manusia dinaungi oleh islam.

Maka, perjuangan dengan mengorbankan harta, jiwa, raga hingga nyawanya adalah kesucian Cinta Rosululloh.

Manusia yang menolak Islam sebagai pedoman hidupnya akan mendapatkan siksa dari Alloh Swt. Maka, rosululloh berjuang agar manusia terlepas dari siksa atas perbuatannya.

Itulah keyakinan didalam islam, bahwa Alloh sebagai payung hukum, tiada hak yang lain atas sesuatu hukum selain hukum Alloh. Sehingga, tegaknya islam sebagai hukum adalah tujuan dalam perjuangannya.

"Apakah hukum jahiliah yang mereka kehendaki? (Hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang meyakini (agamanya)?" (QS. Al-Ma'idah 5: Ayat 50)

 

Wassalam..

 

 

Siroh Nabawiyah

Rubrikasi Opini

Editor: Dimas Madia

Bagikan melalui:

Komentar