OPINI

Mengenal Desain Islam dalam Menghadapi Bencana

Mengenal Desain Islam dalam Menghadapi Bencana Red Yuyun Suminah A.Md, Penggiat Literasi. Foto: Ist.
BENCANA merupakan kejadian yang bisa kapan saja menghampiri tanpa kita ketahui, namun penyebab kenapa terjadinya bencana bisa manusia prediksi sendiri dengan bantuan para ahli, teknologi dan ilmu modern. Indonesia mulai memasuki musim penghujan, itu artinya perlu siap siaga menghadapi kemungkinan terjadinya bencana seperti bencana banjir, longsor dan lainnya.
 
Di Jawa Barat sendiri dibayangi bencana mulai dari ancaman gempa sesar Lembang hingga potensi bencana hidrometeorologis. Menurut Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprakirakan awal musim hujan datang lebih awal di Jawa Barat. BMKG menyebut ada sekitar 150 titik yang tersebar di 14 kabupaten/kota di Jawa Barat yang berstatus waspada banjir atau banjir bandang, prakiraan itu berdasarkan prakiraan cuaca berbasis dampak (IBF). (Detik.com 15/09/21)
 
Bencana hidrometeorologis berulang setiap tahunnya, juga ancaman sesar Lembang selalu mengintai namun pemerintah dengan fokus pada pencegahan bencana. Bencana terjadi bukan tanpa sebab, diantara sebabnya yaitu:
 
1Kerusakan Alam
 
Kerusakan alam yang disebabkan oleh ulah tangan manusia yang tidak bertanggungjawab, menjadi salah satu penyumbang terjadinya bencana. Daerah yang seharusnya menjadi daerah resapan air kini berubah menjadi bangunan-bangunan permanen sehingga lahan untuk resapan air tidak ada.
 
2. Tata Ruang
 
Pengelolaan tata ruang yang disesuaikan dengan kondisi lingkungan akan membantu mengurangi potensi bahaya, mana daerah untuk pemukiman yang boleh berdiri bangunan-bangunan permanen dilengkapi dengan sistem drainase yang baik. Tak hanya itu tata ruang untuk ruang hijau (taman) pun dikelola dengan tepat.
 
Itu semua tak lepas dari peran seorang pemimpin sang pembuat kebijakan, bila kita lihat faktanya dalam sistem kapitalisme kebijakan yang dikelurkan oleh seorang pemimpin lebih memihak kepada korporasi. Lebih mementingkan para pebisnis kapitalis hanya demi merauk keuntungan materi, namun abai kepada keselamatn rakyat. Padahal pemimpin adalah seseorang yang bertanggungjawab dalam kepengurusan rakyatnya.
 
"Imam (pemimpin) adalah raa’in (pengurus rakyat) dan ia bertanggung jawab atas pengurusan rakyatnya.” (HR al-Bukhari)
 
Berbeda jauh dengan kebijakan yang dikeluarkan oleh seorang pemimpin dalam sistem Islam yang selalu berlandaskan syariatNya. Islam adalah agama yang sempurna aturan hidup manusia semua ada. Lengkap. Termasuk bagaimana mengantisipasi bencana agar bencana tersebut tidak terjadi. 
 
Sebelum terjadinya bencana para ahli yang kompeten dibidangnya akan menganalisis dampak yang menyebabkan potensi bahaya. Mempetakan daerah mana saja yang rawan bencana dan yang tidak, termasuk menentukan daerah mana saja yang termasuk ke dalam daerah resapan air. 
 
Daerah yang termasuk ke dalam daerah resapan air, maka seorang pemimpin akan dengan tegas melarang siapa pun menggunakan lahan tersbut sedangkan lahan yang tidak termasuk resapan air dipersilakan mendirikan bangunan dengan syarat ada manfaatnya bagi rakyat dan sesuai ketentuanNya.
 
“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Al-Rûm [30]: 41)
 
Adapun setelah potensinya dihilangkan namun bencana tetap saja terjadi, maka bencana tersebut sudah ketetapan dariNya bahwa Allah Yang Maha Berkuasa atas segala sesuatu. Walupun bencana tersebut sudah ketetapannNya pemerintah tetap akan menjalankan perannya yaitu melindungi, menjaga dan mecukupi kebutuhan rakyat disaat terjadi bencana maupun tidak terjadi bencana. 
 
Maka hanya sistem Islam yang mampu menjaga lingkungan alam dari segala kerusakan.
 
 
 
Rubrik : Opini 
Oleh    : Yuyun Suminah, A. Md
(Seorang guru di Karawang dan Pegiat Literasi)
 

Editor: Dimas Madia

Bagikan melalui:

Komentar