STRATEGI: Politik Nabi Yusuf

Ketika Nabi Yusuf Meminta Jabatan Kepada Raja Mesir

Ketika Nabi Yusuf Meminta Jabatan Kepada Raja Mesir Dok Oleh Obi Ismail, Founder Of Nahltech, rubrikasi opini. Foto: Istimewa.
SALAHSATU kisah yang paling menarik untuk dibahas dari keteladanan Nabi Yusuf ialah keberaniannya dalam mengajukan diri sebagai pejabat pemerintah kerajaan Mesir saat itu.
 
Saat keluar dari penjara dalam keadaan bebas dari tuduhan yang selama ini dialamatkan kepadanya, beliau langsung didatangi oleh para utusan raja untuk menjemputnya.
 
Sebelum keluar, beliau sempat berdoa bagi penghuni penjara dan menuliskan di balik pintunya, “Ini adalah kuburan orang hidup, rumah keprihatinan, ujian orang-orang yang jujur, dan kesenangan musuh atas bencana yang menimpa orang lain.” Kemudian beliau bersegara menghadap sang raja untuk mengajaknya dialog yang pada akhirnya Nabi Yusuf diangkat sebagai pejabat Mesir.
 
Allah berfirman dalam Surat Yusuf ayat 54: Dan raja berkata: "Bawalah dia (Yusuf) kepadaku, agar aku memilih dia sebagai orang yang dekat kepadaku". Maka tatkala raja telah bercakap-cakap dengan dia, dia berkata: "Sesungguhnya kamu (mulai) hari ini menjadi seorang yang berkedudukan tinggi lagi dipercayai pada sisi kami".
 
Raja telah membuktikan kebersihan serta keamanahan Nabi Yusuf, sehingga raja tertarik untuk memberikannya sebuah posisi paling tinggi dilingkaran kerajaan Mesir saat itu. Rupanya sang raja sudah melihat potensi yang ada pada diri beliau.
 
Selain Amanah, Nabi Yusuf juga ahli dalam hal perekonomian. Sadar terhadap potensi yang ada pada dirinya, beliau kemudian meminta agar dirinya dijadikan sebagai bendahara kerajaan.
 
Allah SWT berfirman dalam Surat Yusuf ayat 54: Berkata Yusuf: "Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir); sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan".
 
Setahun kemudian raja mengangkatnya sebagai bendahara negara. Setelah itu, beliau mendapatkan kewenangan dan kekuasaan penuh untuk memberi putusan-putusan dan hukum-hukum yang sudah biasa dijalankan.
 
Selain itu diserahkan pula jabatan kementerian Aziz setelah tuannya itu meninggal dunia. Walaupun sudah berada dilingkungan kekuasaan dan menguasai pembendaharaan kerajaan Mesir, Nabi Yusuf tidak lupa akan tugas utamanya, yaitu berdakwah.
 
Beliau mengajak Raja Rayyan untuk beriman. Sang Raja pun beriman kemudian meninggal dunia. Setelah itu kerajaan Mesir dipegang oleh Qabus bin Mus’ab. Nabi Yusuf as mengajaknya beriman, tetapi ia menolaknya. (lbnul ASir Al-Jazar, Al-Kmil fit Trikhi, Jilid 1:111-117).
 
Beliau memahami betul apa yang akan terjadi dan apa yang mesti dilakukan setelah berlalu tujuh tahun dari musim subur. Hal itu untuk mengantisipasi kondisi masyarakat pada waktu itu dengan ridha Allah SWT.
 
Beliau menyampaikan kepada sang raja bahwasannya beliau pandai menjaga sesuatu, amanah, serta mengetahui dan menguasai segala kemaslahatan negara. Maha Suci Allah, yang telah memberikan rahmat kepada hambanya yang senantiasa bersabar di jalan-Nya.
 
Dalam Surat Yusuf ayat 55, Allah SWT berfirman: Dan demikianlah Kami memberi kedudukan kepada Yusuf di negeri Mesir; (dia berkuasa penuh) pergi menuju kemana saja ia kehendaki di bumi Mesir itu. Kami melimpahkan rahmat Kami kepada siapa yang Kami kehendaki dan Kami tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.
 
Lantas, apakah dibenarkan tindakan Nabi Yusuf meminta jabatan kepada Raja Mesir? Ini yang menjadi pertanyaan besar, karena terkesan seperti negosiasi politik. Apalagi praktik ini sering dijadikan dalil bagi orang-orang yang mempunyai kepentingan politik dengan para penguasa. 
 
Imam Al-Qurthubi secara tegas memberi pernyataan terhadap tindakan yang dilakukan Nabi Yusuf, bahwa Nabi Yusuf meminta jabatan tersebut sebab tahu tidak ada satupun orang yang bisa bertindak adil, jujur serta dapat menyalurkan harta shadaqah kepada yang berhak, kecuali dirinya.
 
Pada intinya diperbolehkan meminta jabatan asal ia meyakini mampu menjalankannya dan memiliki keahlian yang berkaitan dengan jabatan tersebut. Namun, jika dirasa tidak ada keahlian yang cukup untuk menjalankannya, meminta jabatan hukumnya menjadi terlarang.
 
Ini juga menjadi pelajaran bagi para pemimpin agar lebih peka dan selalu membuka ruang dialog untuk melihat potensi-potensi yang ada dalam diri setiap yang dipimpinnya.
 
 

Editor: Dimas Madia

Bagikan melalui:

Komentar