Andi Purnomo, Perjalanannya dari Lemah Duwur Hingga Menjadi Imam Masjid di Uni Emirat Arab

Andi Purnomo, Perjalanannya dari Lemah Duwur Hingga Menjadi Imam Masjid di Uni Emirat Arab Dok SPN Andi Purnomo

SINARPAGINEWS.COM, TEGAL- Keputusan Andi Purnomo (32), putra daerah asal Desa Lemah Duwur, Kecamatan Adiwerna mengikuti seleksi imam masjid di Uni Emirat Arab (UEA) telah mengubah kehidupannya. Andi, penghafal 30 juz Alquran ini pun terpilih dari ratusan peserta seleksi yang diuji langsung oleh sejumlah syeikh dari Kementerian Urusan Islam dan Wakaf Abu Dhabi UEA.

Sejak 2017, Andi bermukim di Fujairah, Uni Emirat Arab (UEA) hingga sekarang. Oleh pemerintah setempat, Andi ditugaskan menjadi imam masjid dan penyampai khotbah salat Jumat berbahasa Inggris. Pengalaman selama bermukim dan bergaul di UEA membuatnya kaya akan wawasan, mampu memahami keragaman budaya dan pola pikir masyarakatnya yang berasal dari banyak negara. Hal tersebut pula yang membuatnya semakin bijak dalam menerima setiap perbedaan di tengah kehidupan warganya yang majemuk.

Sekilas Uni Emirat Arab

Uni Emirat Arab (UEA) dalam bahasa Inggrisnya United Arab Emirates merupakan negara federasi dari tujuh emirat yang dikenal kaya akan sumber daya alam minyak bumi. Tujuh emirat ini adalah Abu Dhabi sebagai ibu kota UEA, Dubai, Sharjah, Ajman, Fujairah, Ras Al-Khaimah dan Umm Al-Quwain.

UEA memiliki Burj Khalifa sebagai ikon bangunan tertinggi di dunia. Dalam catatan sejarahnya, tepatnya di Masjidil Haram, Kota Makkah di kurun waktu 1980-an ada empat ulama besar asal Indonesia yang pernah menjadi imam masjid di Timur Tengah, antara lain Syekh Muhammad Nawawi al-Jawi al-Bantani, Syeikh Yasin al-Fadani, Syekh Junaid al-Batawi, Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi.

Putra-putra Indonesia di era sekarang pun ada yang berkesempatan menjadi imam masjid di Timur Tengah, meskipun bukan di dua masjid suci umat Islam, tepatnya di negara yang bertetangga dengan Arab Saudi, yaitu negara Uni Emirat Arab.

*Andi Purnomo, Asal Lemah Duwur, Adiwerna*

Andi Purnomo, lahir pada tanggal 06 Juli 1989 di Desa Lemah Duwur RT10/RW02 No. 18, Kecamatan Adiwerna, Kabupaten Tegal. Andi adalah anak kesembilan dari sebelas bersaudara dari pasangan H. Rodja dan Hj. Jamilah. Masa kecil Andi hingga remaja dilalui di kampung halaman.

Dan layaknya usia sebaya, Andi pun sering bermain bersama teman-teman di masa kecilnya. Andi menikah dengan Afina Dina Kamila yang merupakan cucu dari Pengasuh Pondok Pesantren Al-Muayyad, Surakarta.

Pendidikan

Andi menempuh pendidikan sekolah dasar ditempuh di SD Negeri 01 Lemah Duwur dengan tambahan mengikuti pendidikan agama di Madrasah Diniyah Salafiyah, Pekuncen, Pesarean usai pulang sekolah di siang harinya.

Setelah lulus dari pendidikan SD di tahun 2000, Andi kecil mengikuti jejak kakak-kakaknya dengan melanjutkan pendidikan di Madrasah Tsanawiyah Pondok Pesantren Madrasatul Qur’an, Tebuireng, Jombang selama tiga tahun. Selesai menempuh pendidikan madrasah tsanawiyah, ia melanjutkan pendidikannya di SMA NU Wahid Hasyim di Kecamatan Talang, Kabupaten Tegal.

Semasa SMA, Andi rajin mengikuti program menghafal Alquran di Yayasan Madrasatul Qur’an, Desa Langgen, Kecamatan Talang dan di Pondok Pesantren Darussakinah, Desa Kalimati, Kecamatan Adiwerna. Kemudian melanjutkan pendidikan pesantren selama satu tahun di Pondok Pesantren Rahmatillah, Kudus.

Setelah dari Kudus, Andi melanjutkan pendidikan tinggi berikutnya di Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur’an (PTIQ) Jakarta. Momen yang berkesan ketika mengikuti safari dakwah Ramadlan tahun 2014 di Kota Biak Papua Barat yang merupakan utusan dari kampusnya, PTIQ bekerjasama dengan Kedutaan Saudi Arabia.

Mengikuti Seleksi Imam Masjid UEA

Saat sedang menyelesaikan tugas tesisnya di Program Magister Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, pada pertengahan tahun 2017, Andi mendapatkan informasi dari salah satu dosen di PTIQ Jakarta tentang informasi seleksi imam masjid di Uni Emirat Arab.
Informasi tersebut tak ia sia-siakan dengan segera mendaftar. Tak tanggung-tanggung, pengujian seleksi imam masjid yang diselenggarakan di Hotel Grand Cempaka, Jakarta Pusat ini dilakukan langsung oleh beberapa Syeikh dari tim Kementerian Urusan Islam dan Wakaf Abu Dhabi UEA.

Awalnya ia agak pesimis dan grogi karena peserta seleksi saat itu lebih dari 100 orang yang datang dari berbagai penjuru tanah air dan dengan beragam latar pendidikan. Terlebih, karena urut abjad, namanya selalu yang dipanggil pertama kali oleh tim penguji.

Materi tes yang diujikan meliputi hafalan Alquran 30 juz yang disampaikan secara random atau acak, menyampaikan khutbah berbahasa arab hingga keilmuan di bidang fiqh. Seluruh proses interview dilakukan dengan bahasa Arab dan memastikan mereka yang terseleksi berpaham Islam moderat.

Tangis haru dan bahagia menjadi momen yang tak pernah ia lupakan saat namanya disebut sebagai salah satu dari 14 peserta yang lulus seleksi imam masjid UEA. Seakan seperti mimpi, putra kelahiran Tegal bisa terpilih menjadi imam masjid di Timur Tengah. Seketika terbayang wajah bapak dan ibu serta para kyai yang selama ini membimbingnya menempuh pendidikan ilmu agama.

“Saya seakan tak percaya ketika diumumkan lulus seleksi imam masjid di UEA dan harus berangkat ke Timur Tengah dengan segala tantangan kehidupan baru. Inilah anugerah dari Allah, dukungan doa dari orang tua dan para kyai,” kata Andi.

Pada saatnya tiba di Abu Dhabi pada Agustus 2017, Andi diantar oleh salah satu staf Kementerian Urusan Islam dan Wakaf Abu Dhabi UEA ke kota yang akan menjadi tempat penugasannya, tepatnya di Kota Fujairah. Seluruh imam masjid yang berasal dari berbagai negara diharuskan mengikuti training selama beberapa bulan sebelum ditempatkan di salah satu masjid tempatnya ditugaskan.

Kehidupan Islam di Uni Emirat Arab

UEA berpenduduk kurang lebih 10 juta jiwa, di mana penduduk asli UEA sendiri terbilang sangat sedikit dibandingkan warga pendatang (ekspatriat) yang mencapai 85 persen. Penduduk ekspatriat ini rata-rata berasal dari negara seperti India, Pakistan, Bangladesh, Maroko dan Mesir. Adapun gaya hidup orang UEA pada umumnya sudah seperti masyarakat Eropa dan Amerika. Penduduknya dimanjakan oleh berbagai fasilitas dari negara, dari mulai subsidi untuk kebutuhan hidup sehari-hari sejak lahir hingga jaminan pendidikan dan huniannya, semuanya dijamin oleh negara.

Penduduk UEA sendiri sangat sedikit yang menjadi imam masjid. Kebanyakan dari mereka lebih memilih berbisnis dan berdagang. Sehingga keterbatasan jumlah imam masjid di UEA diisi oleh orang-orang dari berbagai negara seperti Maroko, Mesir, Pakistan dan juga Indonesia.

Penduduk UEA terbilang moderat, tidak mempertentangkan salah satu dari empat madzhab tata cara sholat umat muslim, meskipun madzhab resmi yang dipedomani negara adalah Madzhab Imam Malik. Pada praktiknya, negara menyerahkan sepenuhnya pada masing-masing individu warganya. Segala perbedaan tersebut tidak sampai menimbulkan persoalan konflik apalagi perpecahan diantara sesama muslim.

Sebagai informasi, kumandang adzan di Uni Emirat Arab pada umumnya dilakukan secara integral atau via jaringan satelit dan terpusat di Masjid Utama, kecuali untuk Kota Dubai dan Sharjah.

Tidak berbeda dengan Indonesia, UEA sangat moderat dalam menyikapi keberadaan beberapa agama. Di UEA terdapat tempat ibadah beberapa agama seperti Kristen, Budha, Shikh dan Yahudi. Sikap moderat masyarakatnya juga berlaku untuk semua sendi-sendi kehidupan, termasuk dari cara berpakaiannya.

Andi, Imam Masjid di Fujairah

Saat ini Andi ditempatkan di Masjid Malik bin Abi Salim, Kota Fujairah, tepatnya satu setengah jam dari Kota Dubai mulai tahun 2017 hingga sekarang. Tidak hanya menjadi imam masjid, Andi juga ditugaskan sebagai khatib salat Jumat.

Berbeda dengan di Indonesia, teks khotbah di seluruh masjid UEA diseragamkan dan ditentukan oleh Kementerian Urusan Islam dan Wakaf Abu Dhabi. Selain wajib menggunakan teks khotbah yang sama, ketika berkhotbah semuanya harus direkam dan hasil dari rekamannya dilaporkan kepada Kementerian Urusan Islam dan Wakaf. Tujuannya adalah untuk menghindari, mencegah dan mengawasi paham-paham ekstrim yang dapat merusak dan memecah belah umat.

Adapun khotbah Jum’at di negara ini memakai beberapa bahasa, diantaranya bahasa Arab, Inggris, Urdu, Spanyol dan bahasa isyarat, meski hampir 90 persen dalam bahasa Arab dan ada beberapa masjid yang telah ditentukan menggunakan bahasa selain arab.

Di awal kedatangannya, Andi diberikan tugas berkhotbah dalam bahasa Arab. Namun beberapa bulan kemudian, oleh salah satu atasan kantor ia dites untuk membackan teks khotbah berbahasa Inggris. Dari hasil tes tersebut ia dinyatakan baik dan hingga sekarang tugasnya beralih menyampaikan khotbah dalam bahasa Inggris.
Penyampaian khotbah dalam bahasa Inggris biasanya dilaksanakan di masjid-masjid yang berdekatan dengan kawasan permukiman orang Eropa dan Amerika. Hal ini merupakan strategi dakwah dari pemerintahan otoritas setempat. Pemerintah UEA sendiri memberikan fasilitas dan kebutuhan yang memadai bagi setiap imam masjidnya berupa pendapatan bulanan, tempat tinggal, asuransi kesehatan dan asuransi pendidikan.

Menurut Andi, hidup bersama istri dan satu orang anak di negeri orang membuatnya kaya akan pengalaman, memperluas wawasan, memahami ragam pola pikir, cerita, dan budaya, serta meningkatkan konektivitas global karena bisa berkawan dengan orang-orang dari berbagai belahan dunia.

Kesemuanya semakin menambah bijak pemikirannya dalam menerima setiap perbedaan dalam keragaman. Andi berharap, kisah pengalamannya ini bisa menjadi penyemangat generasi muda di Kabupaten Tegal untuk belajar lebih tekun, bekerja lebih giat dan berkarya lebih hebat.

“Berpikiran terbuka dan selalu optimis menjalani hidup, insyaAllah akan menjadi bekal kuat kita untuk tampil berkompetisi di kancah international,” pungkas Andi Purnomo.(hid/har).

Editor: Red

Bagikan melalui:

Komentar