ODGJ Meningkat, Begini Solusi yang Tepat

ODGJ Meningkat, Begini Solusi yang Tepat Ahmad spn Opini oleh: N. Vera Khairunnisa. Foto: Ilustrasi.
SIAPA yang tidak pernah melihat Orang Dengan Gangguan Kejiwaan (ODGJ) berkeliaran di jalan-jalan? Siapapun pasti pernah menemukan mereka. Entah hanya sedang berdiam, jalan-jalan tak tentu arah, cari makanan di tempat sampah, atau melihat mereka komat-kamit tak jelas.
 
Miris sebetulnya, terlebih jumlah mereka meningkat di masa pandemi ini. Sepanjang 2021, Orang Dengan Gangguan Kejiwaan (ODGJ) di Jawa Barat (Jabar) mengalami peningkatan sebesar 20 persen. Hal itu diketahui berdasarkan data yang diterima Data Dinas Kesehatan (Dinkes) Jabar. (inewsjabar. id, 11/10/21)
 
Ironisnya, kabar tersebut muncul berbarengan dengan Hari Kesehatan Mental se-Dunia, yang diperingati setiap tanggal 10 Oktober. Peringatan ini diharapkan jadi momentum masyarakat untuk peduli terhadap kesehatan jiwa dan mental. 
 
Direktur RSJ Jabar dr. Elly Marliyani menuturkan, kondisi pandemi Covid-19 berdampak pada tekanan psikologis yang berat di berbagai sektor. Banyak masyarakat yang cemas dan khawatir dengan kondisi pandemi Covid-19.
 
Pasien ODGJ itu berasal dari beragam daerah, di antaranya kabupaten di Jabar yang memiliki sentra industri besar. Sehingga, sangat dimungkinkan ada hubungan antara kehilangan penghasilan dengan bertambahnya ODGJ di RSJ Cisarua, Bandung Barat. (pikiran-rakyat. com, 12/10/21)
 
Menghadapi fakta tersebut, Pusat Informasi dan Koordinasi COVID-19 Jawa Barat (Pikobar) kini terus dikembangkan oleh Jabar Digital Service untuk memfasilitasi ragam dampak pandemi di Jawa Barat, termasuk akses layanan kesehatan bagi warga yang menderita gangguan kesehatan mental selama isoman. 
 
Bekerja sama dengan RSJ Provinsi Jawa Barat, fitur Konsultasi Jiwa Online (KJOL) yang diintegrasikan dengan Pikobar kini resmi dirilis Pemda Provinsi Jawa Barat sebagai solusi dalam mengakomodasi kebutuhan masyarakat akan akses kesehatan jiwa secara daring dan gratis. Dapat diakses pada jam kerja petugas medis berupaya memberikan layanan maksimal. (jabarprov. go. id, 11/10/21)
 
Akankah KJOL ini mampu menjadi solusi bagi problem kesehatan mental masyarakat?
 
Pertama, kita lihat apakah semua masyarakat akan paham dan mampu menggunakan fitur ini atau tidak, terlebih bagi masyarakat kelas bawah. 
 
Dan ketika pun mereka paham dan mampu menggunakan fitur ini, apakah ketika mental mereka sakit atau terganggu, mereka akan menggunakan fitur ini? 
 
Kedua, apakah KJOL ini mampu memberi solusi untuk masyarakat atau tidak. Karena yang dihadapi oleh masyarakat bukan sekadar mental yang terganggu. Namun, apa yang menjadi penyebab alias asal-usul mentalnya terganggu, itulah yang harus dicari solusinya.
 
Berbicara mengenai penyebab meningkatnya jumlah ODGJ, sebetulnya bisa dari banyak faktor. Hanya kalau melihat data, yang menjadi pemicunya adalah karena permasalahan ekonomi yang sulit. Masyarakat tidak siap menghadapi masalah ini, sehingga berakibat pada gangguan mental.
 
Maka idealnya, langkah serius yang seharusnya dilakukan untuk menjaga kesehatan mental rakyat adalah dengan memperbaiki kondisi perekonomian rakyat. Namun agaknya, hal ini masih sulit diwujudkan.
 
Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan,Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) pada Februari 2021 mencapai 8,75 juta jiwa. (jabarprov.go.id,06/05/21)
 
Nilai realisasi investasi di Jawa Barat semester I tahun 2021 sebesar Rp72,46 triliun hanya menyerap sekitar 58.000 tenaga kerja. Tentu masih jauh dari jumlah pengangguran yang ada.
 
Pada Maret 2021, jumlah penduduk miskin (penduduk dengan pengeluaran per kapita per bulan di bawah garis kemiskinan) di Jawa Barat mengalami kenaikan yaitu sekitar 6,82 ribu jiwa, dari 4,19 juta jiwa (8,43 persen) pada September 2020 menjadi 4,20 juta jiwa (8,40 persen) pada Maret 2021. (jabar. bls. go. id, 15/07/21)
 
Selain faktor ekonomi, ada faktor lain yang tidak kalah penting yang lebih filosofis, yakni faktor ketidaksiapan masyarakat dalam menghadapi kesulitan hidup. Akibat dari kesalahan dalam memandang kehidupan, semisal dalam memandang sebuah kebahagiaan.
 
Tidak sedikit masyarakat hari ini yang memandang kebahagiaan dari aspek materi. Sehingga ketika dihadapkan pada kesulitan ekonomi, merasa akhir dari segalanya. Ditambah dengan pandangan yang salah tentang rezeki, membuat mereka sulit untuk bisa menikmati kehidupan.
 
Semua ini, yakni kondisi ekonomi yang sulit dan kondisi masyarakat yang tidak siap menghadapi kesulitan hidup merupakan akibat dari pengaruh sistem kapitalisme sekularisme. 
 
Sistem kapitalisme menjadikan kekayaan hanya berputar di segelintir pihak, dan memiskinkan pihak yang lain. Maka sesuai informasi media, kita mendapati bahwa di masa pandemi saja, berbarengan dengan bertambahnya angka kemiskinan, angka kekayaan orang terkaya justru malah bertambah.
 
Sistem sekularisme pun melahirkan manusia dengan kepribadian yang lemah. Terbukti, hanya karena masalah ekonomi, bisa menyebabkan mereka mengalami gangguan kejiwaan.
 
Karena persoalannya begitu sistemik, maka membatasi masalah maraknya gangguan kejiwaan hanya dengan membuat fitur KJOL, tentu ini ibarat jauh panggang dari api. Belum menyentuh akar permasalahan.
 
Sudah saatnya kita mencari sistem alternatif yang mampu menyelesaikan permasalahan ini hingga ke akar-akarnya. Dalam konteks ini, ada sistem kehidupan Islam, yang diturunkan oleh Zat Yang Maha Tahu apa yang terbaik untuk hamba-Nya.
 
Islam memiliki ajaran yang sangat sempurna, yang mampu menyelesaikan berbagai permasalahan, ketika seluruhnya diterapkan dalam kehidupan. Islam pun mampu menjaga kesehatan mental masyarakat, dengan seperangkat aturan yang saling menopang antara satu dengan lainnya.
 
Dengan penerapan sistem ekonomi Islam, maka negara akan sangat mampu untuk menjamin kesejahteraan bagi rakyatnya. Karena sistem ekonomi Islam mengatur masalah kepemilikan, meliputi kepemilikan umum, negara dan individu.
 
Pengaturan kepemilikan ini akan mencegah tangan-tangan individu atau korporasi yang bermaksud menguasai sumber daya alam yang melimpah, karena termasuk kepemilikan umum yang haram diprivatisasi.
 
Rasulullah Saw. bersabda (yang artinya): "Kaum Muslim berserikat dalam tiga perkara yaitu padang rumput, air dan api." (HR Abu Dawud dan Ahmad).
 
Maka keberadaan sumber daya alam yang melimpah, jika diatur oleh syariat Islam, tidak akan menjadi bahan monopoli para kapitalis yang membuat rakyat sulit mendapatkannya. Tapi SDA tersebut akan sangat mampu memberikan kesejahteraan bagi semuanya.
 
Kebutuhan mendasar wajib dijamin oleh negara, baik secara langsung maupun tidak langsung. Dengan memberikan pelayanan pendidikan, kesehatan dan keamanan secara gratis bagi seluruh rakyat, tanpa membeda-bedakan yang kaya dan yang miskin, muslim maupun non muslim. Semua diberikan hak yang sama.
 
Negara pun akan menyediakan lapangan kerja, untuk memudahkan mereka yang memiliki kewajiban mencari nafkah. Bahkan bisa saja dengan memberi bantuan modal, tanpa syarat rumit dan tanpa riba.
 
Semua itu dilakukan karena keberadaan pemimpin dalam Islam memang sebagai pengatur urusan rakyat, sebagaimana sabda Rasulullah Saw. (artinya): "Ketahuilah bahwa setiap dari kalian adalah pemimpin dan setiap dari kalian akan dimintai pertanggung jawaban atas kepemimpinannya, seorang amir (imam) atas manusia adalah pemimpin bagi mereka dan ia bertanggung jawab dengan kepemimpinannya." (HR. Bukhari)
 
Selain itu, dengan penerapan sistem pendidikan yang berasas akidah Islam, maka negara akan mampu melahirkan manusia-manusia unggul dengan kepribadian Islam yang tangguh. Sebab begitulah sejatinya tujuan pendidikan dalam Islam. Mereka memiliki visi hidup yang jelas dan terarah, bahwa hidup untuk ibadah. Apapun yang terjadi di dunia ini, tidak mungkin luput dari pengaturan-Nya. Mereka senantiasa memiliki sikap tawakal di setiap kondisi.
 
Ketika kaya, mereka bersyukur, ketika miskin mereka bersabar. Begitulah sikap yang seharusnya dimiliki oleh setiap muslim. Kekayaan akan semakin membuat mereka giat dalam beramal sholeh, sebagai tanda syukurnya. Kemiskinan pun akan semakin membuat mereka dekat dengan Allah, karena mereka yakin Dia lah sebaik-baik pemberi pertolongan. Mereka yang berkepribadian Islam, tidak akan pernah mengeluh meski diuji dengan kehidupan sesulit apapun. Sebab hati mereka yang begitu kuat, senantiasa mampu mensyukuri setiap napas kehidupan yang mereka hirup. 
 
Gambaran manusia dengan kepribadian Islam seperti itu bisa kita lihat pada masa Rasulullah Saw, sahabat dan generasi setelahnya. Mereka mampu menghadapi setiap kondisi, sesulit apapun. 
 
Bagi mereka, kesulitan hidup justru merupakan ladang pahala untuk meraih keridhaan Allah SWT. Allah Swt. berfirman, “ Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepada kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “ Innalillahi wainna ilaihi raji’uun.” Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhannya dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Q.S al-Baqarah: 155-157)
 
Begitulah sekilas bagaimana gambaran sistem Islam mampu menjaga mental atau jiwa masyarakat. Semua permasalahan hakikatnya datang dari Allah SWT, maka sudah selayaknya kita mengacu pada apa yang digariskan-Nya sebagai penyelesaian. Wallahua'lam.

Editor: Dimas Madia

Bagikan melalui:

Komentar