Mengangkat Isu Stunting, USK Raih Top 6 Hult Prize Internationla Manila

Mengangkat Isu Stunting, USK Raih Top 6 Hult Prize Internationla Manila Dok

SINAR PAGI NEWS,BANDA ACEH - Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh berhasil meraih Top 6 dalam Hult Prize Regional International Manila yang diselenggarakan secara daring pada 7-9 April 2021. Ajang Kompetisi Tahunan berskala Internasional itu, menantang puluhan ribu mahasiswa dari berbagai Universitas seluruh dunia untuk mencari solusi terbaik dari masalah kesejahteraan sosila dunia.

Berdasarkan tema tahun ini, tim yang beranggotakan empat mahasiswa dari fakultas yang berbeda-beda dari USK memperkenalkan sebuah start up yang mengangkat permasalahan tentang stunting bernama Nutrisep.

USK menerjunkan Saidatul Wulya sebagai Chief Executive Officer (CEO) dari Fakultas Pertanian, Intan Qanita sebagai Chief Financial Officer (CFO) dari Fakultas Kedokteran, Sri Muliani sebagai Chief Product Officer (CPO) dari Fakultas Pertanian, dan Syakirullah SM sebagai Chief Marketing Officer (CMO) dari Fakultas Ekonomi.

Saidatul Wulya selaku CEO menjelaskan, selain mendukung poin nomor 2 SDG, Nutrisep juga mempunyai visi untuk mendukung poin 1 yaitu “Tanpa Kemiskinan” dan poin delapan yaitu “Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi” dengan menciptakan lapangan pekerjaan yang baik bagi masyarakat sekitar, poin nomor 12 yaitu “Memastikan Pola Konsumsi dan Produksi yang Berkelanjutan”, dan poin nomor 3 yaitu “Kehidupan Sehat dan Sejahtera” dengan mengatasi permasalahan stunting, Senin (19/4/2021).

Lebih rinci, ia menjelaskan, stunting merupakan masalah gizi kronis pada lansia yang dapat diidentifikasi dengan tinggi badan yang lebih pendek dibandingkan dengan anak seusianya. Pengukuran stunting dapat dilakukan dengan mengukur kurva Child Growth Standard median WHO. Anak yang menderita stunting akan lebih mudah untuk mengidap penyakit infeksi dan penyakit degenerative di masa dewasa.

“Sebanyak 149 juta anak di dunia mengalami stunting dan 50% nya berasal dari Asia. Di Indonesia sendiri, 1 dari 3 anak Indonesia mengalami stunting. Aceh merupakan salah satu provinsi dengan prevalensi stunting tertinggi di Indonesia,”imbuh mahasiswa USK ini.

Pihaknya mengaku, prihatin terhadap stunting, yang efeknya dapat mempengaruhi tumbuh kembang anak dan mempengaruhi masa depan bangsa di berbagai aspek kehidupan termasuk kesehatan, ekonomi, politik, sosial, dan lain sebagainya. Pencegahan stunting dapat dilakukan dengan pemenuhan gizi yang cukup bagi ibu hamil dan bayi.

“Hal ini dapat dilakukan dengan mencukup asupan gizi dan zat besi ibu, pemberian ASI eksklusif selama enam bulan dan dilanjutkan dengan pemberian MPASI. Selain itu, pemeriksaan rutin kesehatan ibu dan bayi, serta meningkatkan akses air bersih, fasilitas sanitasi yang memadai, dan menjaga kebersihan lingkungan juga sangat dibutuhkan,”urai Intan Qanita sebagai selaku CFO.

Mahasiswa Fakultas Kedokteran ini mengatakan, Tim Nutrisep mengolah bahan utama yaitu tepung tulang ikan dan daun kelor (Moringa leaves) yang memiliki kandungan gizi tinggi yang dapat membantu memenuhi gizi anak serta dapat berperan sebagai MPASI (Makanan Pendamping ASI).

“Dengan Nutrisep diharapkan dapat membantu meningkatkan gizi anak pada usia golden age dengan produknya yaitu biskuit MPASI sebagai pemenuhan gizi disamping ASI yang bermanfaat dan dapat mencegah stunting pada bayi dan anak,”imbuhnya.

Berdasarkan penelitian, nutrisi 100 gram tepung tulang ikan mengandung 17 kali kalsium lebih tinggi dibandingkan susu, dengan protein yang tinggi, fosfor, dan zat besi yang mampu mendukung tumbuh kembang anak.

Nutrisi dalam 100 gram daun kelor memiliki kandungan zat besi 25 kali lebih banyak dibandingkan dengan bayam, vitamin C 7 kali lebih tinggi dibandingkan jeruk, vitamin A 10 kali lebih tinggi dari wortel, dan memiliki potassium 10 kali lebih tinggi dibandingkan dengan pisang.(spn/hms)

Editor: wry

Bagikan melalui:

Komentar