Kyai Wahab Chasbullah Foundation Gelar Webinar Nasional Aktualisasi NahdlatutuTujjar di Era Digital

Kyai Wahab Chasbullah Foundation Gelar Webinar Nasional Aktualisasi NahdlatutuTujjar di Era Digital

SINARPAGINEWS.COM, BOGOR - Pembina Kyai Wahab Chasbullah Foundation (KWF) Ny Hj Hizbiyah Rochim Wahab secara resmi membuka Webinar Nasional Aktualisasi Nahdlatutu Tujjar dalam Era Digitalisasi, yang menghadirkan nara sumber dari berbagai kalangan. Kegiatan ini terlaksana hasil kolaborasi bersama Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Republik Indonesia dan Badan Pengkajian Investasi dan Dana Sosial Institute Pertanian Bogor, Senin (23/08/2021).

Kegiatan yang dilaksanakan secara daring melalui aplikasi Zoom dan Live Youtube ini dihadiri oleh ratusan peserta dari Kemenko PMK RI, IPB dan jaringan alumni Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang se-Indonesia.

Nahdlatut Tujjar, merupakan salah satu embrio Nahdlatul Ulama yang bertujuan untuk mengangkat perekonomian Muslim. Lemahnya kemampuan ekonomi ulama kurang mendukung suksesnya dakwah yang dijalankan, sehingga mau tidak mau harus dibentuk sebuah lembaga ekonomi yang mendukungnya. Alasan lain pendirian adalah pendidikan yang didominasi sekolah Belanda yang bertentangan dengan ajaran Islam dan tidak memberi nilai apa-apa bagi ibadah syariah sehingga perlu dibentuk lembaga pendidikan Islam yang mampu dibiayai sendiri oleh kalangan pribumi.

Nyai Hj Hizbiyah Rochim Wahab dalam sambutannya memaparkan bahwa spirit pendirian Nahdlatut Tujjar tahun 1918 oleh KH Abdul Wahab Chasbullah bisa diaktualisasikan dan diimplementasikan di era digital sekarang. Semangat kebangsaan dalam kemandirian ekonomi yang digagas dulu bisa digunakan untuk mengangkat kembali perekonomian negara yang sedang terpuruk sejak dilanda pandemi satu tahun setengah.

“Nahdlatut Tujjar tidak sekedar semangat kemandirian ekonomi tetapi juga ada nilai-nilai spiritualitas yang dijunjung tinggi dalam pelaksanaan sehari-harinya. Mengais rejeki, meningkatkan perekonomian dan perdagangan tapi kejujuran diatas segalanya”. Ujar Hizbiyah.

Sedangkan, mewakili Kemenko PMK RI, Aris Darmansyah Edisaputra menyatakan jalinan kerjasama dalam webinar ini diharapkan menghasilkan rumusan-rumusan dari khazanah kalangan pesantren dalam menjawab perolan bangsa terutama hal ekonomi. Pengalaman baik yang pernah dilakukan tokoh-tokoh pesantren bisa dielaborasi era digital ini.

Direktur Eksekutif Kepala Departemen Ekonomi dan Keuangan Syariah Bank Indonesia, Dr. Muh. Anwar Basori dalam pemaparannya menyatakan Bank Indonesia telah bekerjasama dengan banyak pesantren untuk menggerakkan dan mengembangkan ekonomi pesantren. Diantaranya yang telah dilakukan, membuat pelatihan-pelatihan di bidang pertanian, peternakan, budidaya ikan dsbnya. Tetapi kerjasama ini jangan memberatkan pesantren dan jangan mengesampingkan fungsi inti pesantren. Jadi harus ada lembaga pendamping. Pemerintah selalu mendorong pemberdayaan ekonomi umat. Sekolah, berdagang, rapat semua sekarang melalui platform digital. Spirit Nahdlatut Tujjar harus terus ditegakkan dalam kondis apapun.

Sedangkan, pengusaha yang juga mantan Bupati Tuban, KH Fathul Huda menceritakan peran Nabi Muhammad sebagai pedagang. Pedagang tidak hanya harus mempunyai ilmu tetapi juga karakter yang mendukung. Karakter-karakter tersebut adalah
karakter entrepreneur, karakter santri dan karakter disiplin.

Menurutnya, di Indonesia jiiwa entrepreneur masih minim sekali. Negara maju adalah negara yang banyak entrepreneurnya. Nahdlatut Tujjar lahir karena adanya jiwa entrepreneur. Hal ini yang harus dikembangkan, pemberian modal harus diikuti pendampingan mengelola manajemen dan pemasarannya, jadi tidak sekedar modal saja.

Nara sumber lain, Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Prof. Dr. H. Zainuddin, MA menyatakan Nahdlatut Tujjar adalah embrio etos kerja dan pemberdayaan ekonomi umat. Spirit Nahdlatut Tujjar juga membangun kemandirian, berbagi dengan orang lain. Spirit ini tidak boleh pudar dan harus dikembangkan di era industri 4.0. NU harus menjadi garda terdepan dalam mewujudkannya. SDM Indonesia khususnya generasi penerus dan para santri harus dibekali ilmu ekonomi, manajemen, keterampilan bahasa dan IT.

Pemaparan terakhir disampaikan Kepala Badan Pengkajian dan Dana Sosial Institut Pertanian Bogor, Jaenal Effendi. Menurutnya, peran santri bagi bangsa ini tidak bisa dianggap remeh, keterlibatannya sejak pra kemerdekaan telah memberi warna bagi peradaban bangsa. Bila santri dipercaya pada sektor-sektor ekonomi tentu siap dan akan melaksanakannya dengan semangat kebangsiaan dan nilai-nilai relijiusitas. Negara ini terlalu lama kehilangan teladan, maka santri harus siap menjadi jawaban di tengah keringnya idola dan panutan yang sesuai nilai-nilai luhur bangsa ini.

Kegiatan ini diakhiri dengan doa yang dipimpin pengasuh Pondok Pesantren Al-Lathifiyyah Tambakberas Jombang, Ny. Hj. Machfudhoh Ali Ubaid.

Editor: Red

Bagikan melalui:

Komentar