Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan Indonesia (HAKLI)

HAKLI Paparkan Hasil Pemetaan Masyarakat Isolasi Mandiri di Pulau Jawa dan Bali

HAKLI Paparkan Hasil Pemetaan Masyarakat Isolasi Mandiri di Pulau Jawa dan Bali Asep Ruslan Ketua Umum HAKLI, Prof. Dr. H. Arif Sumantri, SKM., M.Kes saat menyampaikan hasil pemetaan kesehatan lingkungan pada masyarakat isolasi mandiri di Pulau Jawa dan Bali, Sabtu (11/9/2021). (SINARPAGINEWS/HAKLI)

SINARPAGINEWS.COM, JAKARTA - Dalam rangka penyampaian hasil pemetaan kesehatan lingkungan pada masa Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) untuk penanggulangan COVID-19, maka dilakukan pemetaan dan analisis data pada masyarakat isolasi mandiri di Pulau Jawa dan Bali sebagai refleksi pandemik COVID-19 fase ketiga.

Hingga tanggal 10 September 2021, dalam situs Satuan Tugas Penanganan COVID-19 Republik Indonesia, masih menunjukkan penambahan kasus harian terkonfirmasi maupun kasus meninggal akibat COVID-19. Dengan ini belum dapat diperkirakan lama waktu berakhirnya pandemik COVID-19 dengan munculnya varian baru dan kasus tanpa gejala yang tetap dapat menularkan COVID-19 di lingkungan masyarakat. Keterbatasan fasilitas pelayanan kesehatan dan tenaga kesehatan memicu kebutuhan upaya isolasi mandiri bagi masyarakat dalam rangka pengelolaan kasus dan pencegahan penularan COVID-19. Limbah infeksius dari isolasi mandiri perlu menjadi perhatian khusus yang erat kaitannya dengan potensi penularan.

Prof. Dr. H. Arif Sumantri, SKM., M.Kes selaku Ketua Umum Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan Indonesia (HAKLI) bersama kontribusi tim ahli menggulirkan pemetaan kesehatan lingkungan pada masyarakat isolasi mandiri di Pulau Jawa dan Bali. Sebagai bentuk kepedulian pada pandemik COVID-19, pemetaan tersebut bertujuan untuk menganalisis potret kesiapan satuan tugas COVID-19, pengelolaan kesehatan lingkungan oleh lintas sektor, pemberdayaan masyarakat, dan penyelenggaraan pelatihan terkait dalam penanggulangan penyebarluasan COVID-19. Pemetaan melalui penyebarluasan kuesioner yang diisi oleh Tenaga Sanitasi Lingkungan di Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) di Pulau Jawa dan Bali dalam kurun waktu 2 (dua) minggu dari tanggal 2 Agustus 2021 hingga 15 Agustus 2021. Kuesioner diisi oleh 2.095 Tenaga Sanitasi Lingkungan dari 3.730 Puskesmas yang tersebar di Pulau Jawa dan Bali.

Dalam pemetaan yang terselenggara, Ketua Umum HAKLI memperoleh beberapa fakta upaya kesehatan lingkungan pada masyarakat isolasi mandiri dalam penanggulangan penyebarluasan COVID-19 sebagai beriku :

  1. Sebesar 32% isolasi mandiri menggunakan rumah sendiri dengan 21% masih tidak terpisah ruangan dengan keluarga yang negatif. Bahkan 29% diketahui terdapat penolakan masyarakat sekitar terhadap pelaksanaan isolasi mandiri. Meskipun demikian lebih dari 90% isolasi mandiri mendapatkan layanan konsultasi/call center, paket obat-obatan, dan ketersediaan satuan tugasCOVID-19 dalam melaksanakan monitoring.
  2. Terkait pengelolaan limbah, sebesar 64% menyatakan limbah telah dikelola dengan 72% dilakukan pemisahan limbah dan 77% melakukan desinfeksi pada limbah isolasi mandiri. Namun sebesar 61% tidak dilakukan penandaan kantong limbah isolasi mandiri. Pengelola dan pengangkut limbah didominasi secara mandiri yaitu sebesar 53% oleh mandiri dengan bimbingan sedangkan pengangkutan limbah sebesar 63% juga secara mandiri. Selain itu, dalam pengangkutan diketahui 21% dilakukan oleh petugas kebersihan, 8% oleh dinas lingkungan hidup, dan 8% oleh pihak ketiga/swasta. Dalam pembuangan akhir limbah 58% mengarah untuk ditimbun/dibakar, sedangkan 40% limbah akan mengarah ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA).
  3. Sinergisitas ditunjukkan dalam upaya desinfeksi yang menjadi tanggungjawab satgas desa, RT/RW setempat, Puskesmas, maupun secara mandiri. Oleh karena itu, sebesar 93% telah dilakukan desinfeksi pada tempat isolasi mandiri.
  4. Ditemukan sebesar 17% masih belum ada program pelatihan/pemberdayaan masyarakat dalam penanggulangan COVID-19 di wilayahnya. Didapatkan juga informasi bahwa 38% menyatakan tidak ada pelatihan pemulasaraan jenazah pada warga/kader. Bahkan sebesar 47% tidak ada pelatihan dalam penanganan limbah dari isolasi mandiri untuk warga/kader.
  5. Secara distribusi proporsi pelaksana pemulasaraan jenazah isolasi mandiri menunjukkan adanya kontribusi diantara petugas yaitu relawan terlatih, petugas rumah sakit, petugas puskesmas, dan petugas BPBD. Sebesar 98% juga menyatakan bahwa petugas tersebut telah menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) yang sesuai. Namun demikian, tercatat 61% mengungkapkan tidak ada pengamanan limbah cair hasil dari pemulasaraan jenazah isolasi mandiri.
  6. Dari data yang diperoleh juga tergambarkan kepatuhan/ketaatan protokol kesehatan yaitu 85% patuh untuk mengurangi mobilitas, 82% taat mencuci tangan, 67% taat penggunaan masker, 67% patuh dalam social distancing, dan hanya 57% patuh untuk menghindari kerumunan.
  7. HAKLI melalui kepengurusan di tingkat Pusat, Provinsi, maupun Kabupaten/Kota berusaha turut berperan dalam penanggulangan penyebarluasan COVID-19 diantaranya melalui pembagian masker, pemberdayaan masyarakat, desinfeksi ruangan, pelatihan, dan penyuluhan protokol kesehatan.

Oleh karena itu, Prof. Dr. H. Arif Sumantri, SKM., M.Kes melalui HAKLI menyatakan perlunya langkah-langkah konkrit dan strategis dalam mengoptimalkan upaya penanggulangan penularan COVID-19 sebagai bentuk pencegahan lonjakan kasus berikutnya.

Berikut diantaranya :

  1. Monitoring dan evaluasi setiap kasus terkonfirmasi COVID-19 dalam melaksanakan isolasi mandiri sesuai dengan aspek-aspek isolasi dan tidak lengah dengan penurunan kasus
  2. Pemberdayaan masyarakat berupa pelatihan pengelolaan limbah isoman dan pemulasaraan jenazah isolasi mandiri pada seluruh satuan tugas COVID-19 di lini masyarakat serta penyediaan sarana yang dibutuhkan.
  3. Menumbuhkan New Normal Paradigm dalam penerapan protokol kesehatan serta perilaku hidup bersih dan sehat pada setiap kebijakan, peraturan, produk hukum, operasional dari penyelenggaraan pelayanan oleh pemerintah pada masyarakat.
  4. Adanya pedoman yang memberikan arah dan panduan dalam penerapan kesehatan lingkungan untuk penanggulangan COVID-19 pada isolasi mandiri.
  5. Akselerasi pemenuhan kebutuhan Tenaga Sanitasi Lingkungan dalam upaya inisiasi sektor hulu yaitu promotif dan preventif pada pelayanan kesehatan primer untuk menguatkan kegiatan kultur  terstruktur kesehatan lingkungan.

Editor: Asep Ruslan

Bagikan melalui:

Komentar