IWPG Sukses Menyelenggarakan International Women"s Peace Conference 2021

IWPG Sukses Menyelenggarakan International Women"s Peace Conference 2021

SINARPAGINEWS.COM, IWPG - Era Normal Baru, Peran dari 3,9 Miliar Perempuan untuk Perdamaian Berkelanjutan dan Peningkatan Status Perempuan

Dihadiri oleh sekitar 800 pemimpin perempuan di seluruh dunia
Pemimpin perempuan harus membangun fondasi untuk menyebarkan budaya perdamaian dengan 3,9 miliar perempuan IWPG
Mendesak dukungan untuk penetapan “Deklarasi Perdamaian dan Penghentian Perang” (Declaration of Peace and Cessation of War/DPCW) oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa

International Women’s Peace Conference 2021 yang diselenggarakan oleh International Women's Peace Group/ IWPG (Ketua Hyun Sook Yoon) untuk merayakan Peringatan Tahunan ke-7 World Peace Conference 18 September, ditutup dengan sukses besar.

Konferensi diadakan secara online pada pukul 14.00 (waktu setempat) di Korea Selatan pada tanggal 19 September 2021 dan diselenggarakan dengan tema “Peran 3,9 Miliar Perempuan untuk Perdamaian Berkelanjutan dan Peningkatan Status Perempuan”. Sekitar 800 pemimpin perempuan baik dari dalam maupun luar negeri menghadiri acara ini.

Dalam konferensi tersebut telah berpartisipasi H.E. Peace Regis Mutuuzo (Direktorat Gender dan Pengembangan Masyarakat di Kementerian Tenaga Kerja Gender dan Pembangunan Sosial Uganda), Hyang Ran Lee (Presiden Dewan Orientasi Penyatuan Republik Korea), Evelyn Letooani (mantan Komisaris Tinggi Lesotho untuk Afrika Selatan), Agatha Susila Anthony Dias (Pendiri dan Direktur Amcha Ghar, India) dan H.E. Nasseneba Toure (Menteri Perempuan, Keluarga, dan Anak Pantai Gading) untuk berbagi pengalaman praktis dan berbagai ide .

Selain itu, turut memberikan ucapan selamat untuk Peringatan ke-7 World Peace Conference dan konferensi ini, Ivana Zemanova, Ibu Negara Republik Ceko; Thereza Siricio Iro, Ketua Women Peace Monitoring & Advocacy Group Sudan Selatan; Nicoline Wazeh, pendiri Pathways for Women's Empowerment and Development di Kamerun; Luis Otis, anggota Dewan Kehakiman PBB, dan banyak lainnya mengirim pesan ucapan selamat.

IWPG menekankan nilai intrinsik peran 3,9 miliar perempuan dalam kegiatan perdamaian dan pentingnya menyebarkan budaya perdamaian untuk mengakhiri konflik, terorisme, dan perang yang terjadi di berbagai belahan dunia di era normal baru pasca pandemi COVID-19. Untuk mewujudkan perdamaian dunia, 3,9 miliar perempuan dan IWPG harus membangun fondasi untuk menyebarkan budaya perdamaian.

Acara tersebut juga menekankan penyebaran gerakan perdamaian perempuan berbasis jaringan perempuan termasuk mendesak dukungan agar Declaration of Peace and Cessation of War (DPCW) ditetapkan sebagai hukum internasional untuk menghentikan perang.

Dalam sambutannya, Ketua IWPG Hyun Sook Yoon mengatakan, “IWPG telah menjadi sayap perdamaian dan telah berjalan bersama HWPL untuk mewujudkan perdamaian dunia. Kami masih terus melakukan yang terbaik dengan mengubah semua aktivitas kami menjadi aktivitas online tanpa tatap muka dan berkomunikasi dengan anggota IWPG di seluruh dunia untuk perdamaian berkelanjutan. Sebanyak 3,9 miliar perempuan dan IWPG akan mewujudkan perdamaian dunia bersama-sama dengan HWPL dengan satu hati dan satu pikiran.”

Pada acara tersebut, H.E. Peace Regis Mutuuzo, Direktorat Gender dan Pengembangan Masyarakat di Kementerian Tenaga Kerja Gender dan Pembangunan Sosial Uganda, dalam pidato ucapan selamatnya mengatakan bahwa, "Kita harus merasakan peran global 3,9 miliar perempuan dalam perdamaian berkelanjutan dan kemajuan status perempuan."

Hyang Ran Lee, Presiden Dewan Orientasi Penyatuan Republik Korea, menyatakan dukungannya dan berkata, “Orang-orang yang menghadiri acara ini adalah kekuatan kemerdekaan perdamaian, dan mereka seperti cahaya, hujan, dan udara, yang memberi kehidupan bagi umat manusia. Mereka tidak menyerah pada pandemi dan bekerja untuk mengakhiri perang global.”

Pada konferensi hari itu, pembicara pertama, Evelyn Letooani, mantan Komisaris Tinggi Lesotho untuk Afrika Selatan, berbicara dengan tema “kebutuhan dan nilai kegiatan perdamaian berkelanjutan sejalan dengan situasi saat ini (era normal baru)”. “Perdamaian dimulai dari saya dan mempengaruhi keluarga saya, tetangga saya, masyarakat saya, dan negara saya. Perdamaian ini dapat ditularkan ke negara-negara tetangga dan seluruh dunia,” katanya dan lalu menambahkan, “3,9 miliar perempuan di seluruh dunia harus bersatu dan bekerja sama dengan IWPG untuk perdamaian dunia dan kemanusiaan.”

Pembicara kedua adalah Agatha Susila Anthony Dias, Pendiri dan Direktur Amcha Ghar, India, berbicara tentang “Jaringan 3,9 Miliar Perempuan” dan H.E. Nasseneba Toure, Menteri Perempuan, Keluarga, dan Anak Pantai Gading berbicara tentang “peran aktif perempuan untuk peningkatan status perempuan”.

Agatha Susila Anthony Dias mengatakan, “Menjadi pengajar perdamaian IWPG merupakan suatu kehormatan yang akan diwariskan untuk generasi yang akan datang. Kami mendorong 3,9 miliar perempuan untuk mengikuti Pendidikan Pelatihan Pengajar Perdamaian (Peace Lecturer Training Education/ PLTE) untuk menjadi pengajar yang dapat menabur benih perdamaian ini kepada anak-anak muda. Melalui ini, dalam beberapa tahun, kita akan mengalami dunia damai yang akan dicapai oleh DPCW.”

H.E. Nasseneba Toure berkata, "Kata 'Perdamaian' bukanlah hanya sebuah kata mutiara saja tetapi sebuah tindakan. Ini terukir dalam ingatan semua generasi Pantai Gading. Kita harus mendengarkan semua suara masyarakat dan yang menjadi tantangan bagi kita. Saya salut kepada IWPG karena menyediakan platform untuk menjadi saksi terhadap setiap aksi organisasi perempuan yang berdedikasi."

Pada acara tersebut, setelah pidato tentang topik tersebut, diadakan upacara pelantikan Duta Besar Publisitas IWPG. Dr. Maha Alsakban, Pendiri dan Direktur Pusat Hak Asasi Manusia Perempuan di Irak; Profesor Han Yeon-ju dari Akademi Nasional Provinsi Heilongjiang China; dan Erlinda Olivia Tiu, Sekretaris Nasional Klub Perempuan Filipina Federasi Nasional, yang ditunjuk sebagai Duta Publisitas.

IWPG adalah LSM perempuan internasional yang terdaftar di United Nations Department of Global Communications (UN DGC) dan United Nations Economic and Social Council (UN ECOSOC).



Editor: Red

Bagikan melalui:

Komentar