Jajaran Direksi dan Redaksi sinarpaginews.com Berkunjung ke Keraton Sumedang Larang

Jajaran Direksi dan Redaksi sinarpaginews.com Berkunjung ke Keraton Sumedang Larang Dok SPN

SINAR PAGI NEWS.COM,KAB SUMEDANG - Dalam rangka mempererat hubungan silaturahmi segenap jajaran Direksi dan Redaksi sinarpaginews.com berkunjung ke Keraton Sumedang Larang yang beralamat di jalan Prabu Geusan Ulun depan alun – alun Kota Sumedang. Ahad (25/9/2021).

Dalam kesempatan tersebut terjalin suasana ke akraban dan kekeluargaan dimana kedatangan jajaran Direksi dan Redaksi sinarpaginews.com (PT.Sinar Pagi Media Daring) yang beralamat di Jalan Terusan Buah Batu 96A Bandung) disambut baik oleh Wirayuda Keraton dan dipersilahkan untuk menemui Pradyan Anom Karaton Sumedang Larang, Rd. Luky Djohari Soemawilaga.

        Kedatangan jajaran Direksi dan Redaksi sinarpaginews.com disambut baik oleh Wirayuda Keraton Sumedang Larang. 

Dalam perbincangan dengan sinarpaginews.com Rd. Luky Djohari Soemawilaga, yang biasa di sapa Raden Luky, menyampaikan bagaimana bedirinya Karaton Sumedang Larang selama ini.

"Bedirinya Karaton Sumedang Larang adalah Ciri Identitas Budaya Sunda, sementara sebuah budaya harus memiliki sentrum atau wadah dalam hal ini karaton yang berfungsi sebagai pusat pengembangan pelestarian, dan pusat edukasi kesejarahan budaya. Karaton Sumedang Larang ini untuk menjalankan fungsinya, di antaranya menggali lagi nilai-nilai kefakuman budaya kearifan lokal yang perlu kita kembangkan. Misalnya, bagaimana budaya Sunda yang memiliki basis kearifan local, seperti dalam berperilaku dan bersikap.

“Sekarang Sumedang Puser Budaya Sunda (SPBS) sudah dideklarasikan, jadi Sumedang menjadi puser budaya Sunda sesuai dengan Perda No. 1 tahun 2020 tentang Sumedang Puser Budaya Sunda.

Tahun 2017 kami memiliki program kerja, urai Luky, bagaimana melihat sebuah potensi kekuatan budaya Sunda ini yang harus kita jaga dan kembangkan, maka lahirlah program kerja rekontruksi dan revitalisasi Karaton Sumedang Larang. Jadi bicara rekontruksi itu bukan bicara tempat tinggal raja, dan membuat sebuah istana yang mewah, bukan itu. Tetapi karaton itu harus memiliki sistem, panata, aturan-aturan dan struktural serta memiliki pakem.

“Jadi karaton ini harus hadir setiap saat, mejalankan sebuah fungsi sebagai pusat pengembangan pelestarian budaya, sehingga kedudukan karaton ini bukan lagi bersifat serimoni atau insidentil,” tandas Rd Luky.

Mungkin sebelum tahun 2017, menurut Luky, kedudukan karaton itu hanya sebatas serimonial atau insidentil. Dimaksud serimonial atau insidentil itu, apabila ada ivent budaya baru karatonnya hadir, tetapi begitu eventnya selesai, keratonnya hilang lagi, sehingga tidak memiliki daya ungkit untuk menegakan sebuah dangiang. Karena keraton itu sfatnya hanya sebatas tontonan, atraktif. Padahal karaton itu fungsinya harus menjadi sebuah tuntunan, bagaimana karaton itu bisa menegakan, mengamalkan dan menjabarkan sebuah aspek nilai-nilai budaya luhur.

“Hal, ini yang dibutuhkan bangsa Sunda ini. Orang Sunda butuh ciri, identitas, sehingga menjadikan sebuah kebanggaan punya identitas. Orang Sunda memiliki nilai-nilai yang harus kita jalankan di dalam tatanan kehidupan sehari-hari, seperti ajen inajen, sikap dan perilaku yang berbudi luhur. Itu kan ajaran nilai-nilai budi, budaya,” ungkap Rd Luky.

 Jajaran Direksi dan Redaksi sinarpaginews.com disambut oleh Pradyan Anom Karaton Sumedang ,Rd. Luky Djohari Soemawilaga.

Karaton Sumedang Larang ini tidak hanya sebagai simbol, jelasnya, tetapi ada nilai edukasi tentang budaya bagi masyarakat. Hadirnya Karaton Sumedang Larang sebagai simbol pusat budaya Sunda, itu seluruh pihak, baik itu masyarakat, pemerintah baik tingkat kabupaten, provinsi, pusat merespon positif, mendukung bagaimana dengan kehadirannnya karaton Sumedang Larang itu bisa menciptakan, mewujudkan daya saing daerah berbasis budaya.

Menurut Luky, kami berharap ke depan dengan kehadiran Karaton Sumedang Larang ini bisa meningkatkan sektor kemajuan kebudayaan itu sendiri dan meningkatkan bidang kepariwisataan. Karena nantinya ada efek domino akan meningkatkan kesejahteraan, karena akan terbangun ekonomi kerakyatan, UMKM akan tumbuh seiring pelestarian budaya. Sebab cakupan budaya itu luas, bukan sebatas seni dan tradisi, tetapi bagaimana nilai-nilai budaya itu berkembang dan tumbuh di dalam kehidupan masyarakat, ada nilai kemandirian.“Nilai kemandian juga budaya, dan nilai tata kehidupan yang harus kita jadikan sebuah pegangan,” jelas Rd Luky.

 

Terkait kesiapan Festival Keraton Nusantara 2021 yang akan digelar di Sumedang tanggal 28-30 September 2021, Rd Luky menyampaikan.
"Ini untuk pertama kalinya Keraton Sumedang Larang mendapat kesempatan menjadi tuan rumah. Sungguh menjadi suatu kebanggan bagi Keraton Sumedang Larang dan Kami bersyukur mendapat kepercayaan ini setelah sekian lama kami perjuangkan, karena sebelumnya oleh Forum Silaturahmi Keraton Nusantara, Keraton Sumedang Larang dianggap belum layak menjadi tuan rumah karena kekurangan beberapa faktor, diantaranya keraton Sumedang Larang dikelola oleh sebuah Yayasan, dan rajanya berganti-ganti seiring pergantian kepengurusan yayasan, bukan lagi berdasarkan dinasti.

Sejak 2017 kita lakukan revitalisasi penataan keraton termasuk masalah status raja dan fungsi keraton Sumedang Larang.Alhasil sejak saat itulah Keraton Sumedang difungsikan kembali sebagai layaknya kerajaan yang memiliki raja dari keturunan raja-raja sebelumnya, dan funsi keraton sebagai pelestari budaya sesuai undang-undang ditingkatkan perannya" jelasnya Rd Luky.

Dalam Festival Keraton tanggal 28-30 September, Luky menjelaskan ada beberapa agenda di dalamnya, diantaranya adalah pertemuan agung ,kirab budaya dan ada diantaranya  terjadi perubahan seiring Kota Sumedang masih menyandang level 3 Covid-19.”pungkas Rd Luky.

Editor: Red

Bagikan melalui:

Komentar