Goeriang Toenggal Dangiang Padjadjaran Kabupaten Sumedang

Goeriang Toenggal Dangiang Padjadjaran Kabupaten Sumedang Ustad Yono atau lebih di kenal Abah Guriang

SINARPAGINEWS.COM, KAB SUMEDANG - Sunda merupakan etnis terbesar kedua setelah Jawa dengan segala kebesarannya, Sunda yang meliputi orangnya, wilayahnya, kulturnya dan budayanya telah memberikan kontribusi besar bagi bangsa dan negara ini.

Seiring dengan berjalanya waktu dan laju globalisasi sebagai konsekuensi lagis dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, selain berpengaruh positif bagi kemajuan juga pada saat yang sama membawa dampak negatif.

Bukan sekedar itu, perubahan yang dikhawatirkan adalah perubahan yang sama sekali bertentangan dengan nilai-nilai kultur kesundaan.

Oleh karena itu kami yang peduli dengan nilai-nilai kultur kesundaan tidak anti-perubahan karena perubahan itu sendiri adalah suatu keniscayaan sebagai konsekuensi logis dari kehidupan yang dinamis dan interaktif.

Akan tetapi, perubahan yang terjadi itu hendaknya perubahan yang terkendali dan terarah sehingga berefek konstruktif secara moral dan material ke sundaan.

Sebagai pemilik dan pendukung kebudayaan secara alamiah melakukan proses seleksi mengenai unsur kebudayaan mana yang harus dipertahankan dan mana yang harus ditinggalkan.

Hal senada disampaikan Ustad Yono atau lebih di kenal Abah Goeriang Toenggal Dangiang Padjadjaran saat di temui awak media sinarpaginews.com di padepokanya Jalan Padasuka Kecamatan Sumedang Utara Provinsi Jawa Barat. Sabtu 2/10/2021.

Abah Guring Juga menjelaskan awal berdirinya padepokan Guriang Tunggal Dangiang Padjadjaran, sudah berdiri sejak tahun 1996 silam dengan jumlah yang sangat banyak yang tersebar di wilayah Sumedang namun yang mengenakan atau memakai pakaian berpenampilan sunda dulu atau buhun hanya Sembilan Orang.

Sembilan Orang. Ini mengandung nilai Filosopi para wali dan simbul dari komunitas, apa bila senbilan orang itu keluar dari komunitas baik itu meninggal atau lain lain maka akan digantikan oleh anggota yang lainya.

Abah juga menambahkan bahwa orang Sunda harus berkaca kepada sejarah tempo doeloe, bagaimana sikap dan watak para karuhun kita dalam ngaheuyeuk dayeuh ngolah nagara (melaksanakan tugas sebagai pemimpin).

Dengan harapan agar kita tidak pareumeun robor (kehilangan jejak). Atau paling tidak bahwa karuhun kita pun memiliki watak terpuji yang patut dibanggakan dan dapat dikatakan jati diri urang Sunda seutuhnya.”pungkas Abah Guriang.

Editor: Red

Bagikan melalui:

Komentar