Disharmoni Pengelola Ponpes dengan Yayasan Bikin Kisruh.

Disharmoni Pengelola Ponpes dengan Yayasan Bikin Kisruh. Dok SPN

SINARPAGINEWS.COM, SUKABUMI,- Kekisruhan yang jadi sorotan publik di Yayasan Arrohman  Rahmatan Nurul Hidayah Kota Sukabumi ternyata bukan soal yang amat besar. Hal itu terungkap saat wartawan berbincang dengan Taufik, Ketua Dewan Pembina yayasan tersebut Sabtu 24/12 di C’Kopi Gaud Jalan A. Yani Gunungparang Cikole Kota Sukabumi.

Menurut Taufik, memang sudah agak lama terjadi kekurang harmonisan dengan Abdul Hakim yang jadi pengelola pondok. Ketidak harmonisan itu, kata Taufik, terlihat jelas ketika Dewan Pembina memberikan teguran secara lisan kepada Abdul Hakim.

"Teguran diberikan karena yang bersangkutan sering membiarkan para santri  belajar tanpa didampingi ustadz", ucap Taufik.

Yang agak mengesalkan yayasan, tambah Taufik, sebagai pengelola Ponpes Abdul Hakim tidak pernah terbuka dalam pengelolaan pondok.

"Jangankan laporan keuangan. Laporan administrasi pun tak pernah ia sampaikan. Rekening yayasanpun kosong. Diduga ia menggunakan rekening pribadi atau rekening isterinya", tandas Taufik.

Ketua Dewan Pembina itu mengaku tak mengerti apa yang menjadi tuntutan Abdul Hakim. Taufik menegaskan apa yang menjadi tanggung jawab yayasan sudah ia penuhi.

"Termasuk gaji tiap bulan selalu rutin ditransfer ke rekeningnya", tegas Taufik.

Ketua Dewan Pembina itu juga menuturkan kebingungannya ketika tiba-tiba Abdul Hakim membubarkan para santri dan menyuruh mereka pulang. Taufik menegaskan keputusan Abdul Hakim itu tanpa persetujuan wali santri dan pihak yayasan.

Dalam kesempatan yang sama, Taufik menyeritakan pernah mengusahakan tabayun dengan Abdul Hakim. Sayangnya, tambah Taufik,  yang bersangkutan tidak berkenan hadir. Mediasi yang difasilitasi pengadilan pun, kata Taufik, tidak digubris yang bersangkutan.

"Sampai akhirnya Abdul Hakim mengundurkan diri dan berjanji akan mengkondisikan para santri yang dirumahkan kembali ke pondok. Janji itupun sampai kini tak ia tepati", katanya.

Selanjutnya Taufik berharap apa yang telah terjadi tidak merusak nama baik dan lembaga pendidikan Islam. Sebab, tegas Taufik, yayasan telah dan akan selalu bertanggungjawab atas pendidikan Islam yang diselenggarakan di pesantrennya.

Diujung pembicaraan, Taufik mengaku malah bersyukur  akhirnya Abdul Hakim mengundurkan diri. Sebab, kata Taufik, belakangan ia tahu ada perbedaan paham keagamaan antara ia dan Abdul Hakim.

"Perbedaan paham itu menyangkut fikih. Bagi dia, perempuan yang sedang haid boleh memegang Al-Quran. Tentu yayasan tidak ingin anak di Ponpes ini mendapat pengajaran fikih yang tidak sepaham", katanya.

Editor: Iyan Sopyan

Bagikan melalui:

Komentar