Bentuk Kecintaan Generasi pada Negeri

Bentuk Kecintaan Generasi pada Negeri Ilustrasi

SINARPAGINEWS.COM, MAJALENGKA - Ribuan anak peserta Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di Kabupaten Majalengka, Jawa Barat telah diberikan pengenalan tentang nilai-nilai kebangsaan melalui pendidikan kepramukaan dalam kegiatan Gebyar Prasiaga ke-11.

Gebyar Prasiaga ke-11 tingkat Kabupaten Majalengka ini diikuti sebanyak lima ribu peserta. Tema yang diangkat pada kegiatan sekarang yakni "membangun karakter cinta tanah air sejak dini", jelas Kepala Dinas Pendidikan Majalengka, Hj. Lilis Yuliasih, Kamis (15/12/2022) lalu.

Tanah air sebagaimana yang kita ketahui bersama adalah negeri tempat kelahiran. Ali bin Muhammad bin Ali Al-Jurjani (1984) mendefinisikan hal ini dengan istilah al-wathan al-ashli yaitu tempat kelahiran seseorang dan negeri di mana ia tinggal di dalamnya.

Dari definisi ini, maka dapat dipahami bahwa tanah air bukan sekadar tempat kelahiran tetapi juga termasuk di dalamnya adalah tempat di mana kita menetap. Dapat dipahami pula bahwa mencintai tanah air adalah berarti mencintai tanah kelahiran dan tempat di mana kita tinggal.

Pada asalnya, setiap manusia itu memiliki kecintaan kepada tanah airnya sehingga ia merasa nyaman menetap di dalamnya, selalu merindukannya ketika jauh, mempertahankannya ketika diserang dan akan marah ketika tanah airnya dicela. Mencintai tanah air sudah menjadi tabiat dasar manusia.

Cinta tanah air saat ini memang terus digaungkan. Program bela negara juga menjadi salah satu program yang cukup masif diaruskan pemerintah. Program ini menyasar semua kalangan, termasuk di antaranya adalah para pemuda.

Betapa banyak sekolah umum, madrasah, pesantren, juga perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan atau pelatihan bela negara. Namun, apa tujuannya? Dan apa sebenarnya bahaya yang mengancam negeri ini sehingga harus dilindungi dan dibela?

Tujuannya tentu supaya generasi mau membela dan menjaga wilayahnya dari segala bentuk penjajahan. Tentu ini sebuah tujuan yang sangat mulia. Membela negara juga adalah aktivitas alamiah yang dilakukan di negara mana pun. Wajar jika pemerintah Indonesia pun berharap seluruh warga negara termasuk para pemudanya membela negaranya.

Namun, kalau kita lihat dalam sistem kehidupan saat ini yang kapitalis sekuler, adanya penjajahan gaya baru adalah seiring dibukanya kran investasi. Paham sekularisme, menjauhkan agama dari pengaturan kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Negara pun makin liberal. Kebebasan menjadi spirit dalam aturan dan undang-undang yang dibuat.

Lahirlah tatanan ekonomi yang kapitalistik dan liberal. Aktivitas ekonomi digerakkan sekadar demi meraih perolehan materi dan demi kepentingan pemilik modal. Memunculkan perilaku politik yang oportunis-machiavelis.

Kegiatan politik dilakukan sekadar untuk jabatan dan kepentingan sempit lainnya. Berbagai cara ditempuh untuk meraih dan mempertahankan kekuasaan. Ini yang menjadi salah satu faktor utama makin tingginya korupsi di negeri ini.

Dalam lingkup budaya, lahir budaya hedonistik yang berkembang sebagai bentuk ekspresi pemuas nafsu jasmani. Barat menjadi kiblat ke arah mana “kemajuan” budaya harus diraih. Musik, mode, makanan, film, bahkan gaya hidup ala Barat, orang-orang mengacu.

Kemajuan dan kebebasan ala Barat inilah yang menghancurkan sendi-sendi kehidupan umat Islam. Menjadikan generasi muda rapuh, masa depan bangsa dan negara pun turut terancam.

Bela negara semestinya diarahkan untuk melindungi negara dari sekularisme dan liberalisme karena itulah musuh nyata yang harus dilawan.

Bela negara yang hendaknya dilakukan pemuda muslim adalah dengan peduli akan nasib negeri ini yang berada dalam ancaman sekularisme dan liberalisme.

Kepedulian itu bisa diwujudkan dengan aksi nyata bela negara, yaitu ikut serta dalam perjuangan penerapan syariat Islam kafah. Hanya dengan itulah kita akan bisa menyelamatkan negeri ini dari kerusakan yang makin parah.

Perjuangan penegakan syariat Islam kafah sejatinya adalah bentuk kecintaan yang amat dalam terhadap negeri ini. Inilah bela negara yang sesungguhnya, yakni semangat untuk membawa negeri ini pada penghambaan yang sebenar-benarnya kepada Allah SWT melalui penerapan syariat Islam dalam seluruh aspek kehidupan.

Negeri kita Indonesia adalah bagian dari bumi Allah, milik Allah. Oleh karenanya, semestinya Indonesia ditata dengan aturan Allah. Niscaya Allah bukakan pintu-pintu keberkahan dari langit dan bumi sebagaimana firman-Nya:

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS. Al-A’raf: 96)

Wallahu a'lam bishshawab.


Oleh : Tawati (Aktivis Muslimah dan Revowriter Majalengka)

Editor: Red

Bagikan melalui:

Komentar