Kutamaya, Merupakan Ibukota Terakhir Kerajaan Sumedang Larang

Kutamaya, Merupakan Ibukota Terakhir Kerajaan Sumedang Larang

SINARPAGINWS.COM, KAB.SUMEDNG – Kutamaya merupakan Ibukota terakhir kerajaan Sumedang Larang tidak ada kaitanya dengan Srimaganti yang merupakan rumah atau tempat istirahat seorang pemimpin atau Bupati pada masanya.

Menelusuri dari sejarah ibu kota Kerajaan Sumedang Larang sejak didirikan tahun 721 Masehi oleh Prabu Tajdjimalela, putra dari Prabu Aji Putih, putra dari Prabu Bimaraksa, putra dari Jantaka putra dari Prabu Sang Wreti Kandayun Maha Raja Kerajaan Sunda Galuh Pertama, sempat mengalami perpindahan ibu kota.

Adapun fenomena perpindahan itu disesuaikan dengan kondisi alam dan peristiwa sosial politik zaman yang terjadi pada saat itu. Berikut adalah nama nama daerah yang pernah menjadi ibukota Sumedang, era kerajaan

Tembong Ageung Girang - Tembong Ageung merupakan kabuyutan Prabu Guru Aji Putih, yang dianggap sebagai cikal bakal dari kerajaan Sumedang Larang. Tembong Ageung terletak di desa Ganeas kecamatan Ganeas.

Tembong Ageung - Merupakan ibukota di era Prabu Guru Aji Putih dan Prabu Tajimalela, sang pelopor kerajaan Sumedang Larang. Tempat ini terletak di dusun Muhara desa Leuwihideung kecamatan Darmaraja.

CiGuling - Ciguling merupakan ibukota kerajaan Sumedang larang di era Prabu Gajah Agung dan Ratu Nyi Mas Patuakan. Sekarang tempat ini dinamai situs Geger Sunten Ciguling yang terdapat di dusun Ciguling kelurahan Pasanggrahan kabupaten Sumedang Selatan. - Ciguling – Sumedang Selatan (980 – 1529), masa Prabu Gajah Agung s/d Ratu Nyi Mas

Kutamaya - Kutamaya merupakan ibukota era Pangeran Santri dan Ratu Pucuk Umun (Ratu Sumedang yang ke-8) berkuasa. Sekarang tempat ini disebut situs Kutamaya yang terletak di desa Padasuka Kecamatan Sumedang utara. Kutamaya – Sumedang Selatan (1529 – 1585), masa Ratu Pucuk Umun dan Prabu Geusan Ulun

Dayeuh LuhurDayeuh Luhur merupakan ibukota di era Prabu Geusan Ulun berkuasa ketika komplik dengan Cirebon. Dayeuh Luhur terletak di Dusun Dayeuh Luhur desa Ganeas.

Pada saat perpindahan ibu kota ke Kutamaya, terjadinya peristiwa penyerahan Mahkota Kerajaan Padjajaran, Bino Kasih Syanghyang Pake , ke Raja Sumedang Larang (saat itu) yakni Prabu Geusan Ulun pada tahun 1578 yang diantarkan dari Padjajaran diantaranya 4 Kandaga Lante. Ke 4 Kandaga Lante itu yaitu bernama Sanghyang Hawu atau Jaya Perkosa, Bayara Dipati Wiradidjaya ( Nangganan), Sanghyang Kondanghapa, dan Batara Pancar Buana Terong Peot.

Ke 4 nya diutus Prabu Seda Mulya Surya Kancana Raja Padjajaran terakhir untuk menyerahkan Mahkota Binokasih yang dibuat pada masa Prabu Bunisora Raja Galuh pada tahun 1375 – 1371 dan seluruh atribut kebesaran kerajaan pada Kerajaan Sumedang Larang.

Kerajaan Padjajaran pada saat itu mengalami desakan yang hebat dari serangan pasukan gabungan Banten, Cirebon, dan Demak dan sebelum terjadi puncak perang saudara, Padjajaran memutuskan ” burak” dan memasrahkan kekuasaan penuh ke Sumedang Larang dengan diserahkannya Mahkota Kerajaan Sunda Binokasih sebagai simbol legitimasi kekuasaan.

”Dan untuk Pangeran Angkawijaya atau dikenal Prabu Geusan Ulun itu sendiri merupakan putra dari Pangeran Soleh Abdurahman atau Pangeran Santri yang menikah dengan Ratu Pucuk Umum ratu Sumedang Larang.

Raja Kerajaan Sumedang Larang 

Prabu Guru Adji Putih 900 - Prabu Agung Resi Cakrabuana / Prabu Taji Malela 950 - Prabu Gajah Agung 980 - Sunan Guling 1000 - Sunan Tuakan 1200 - Nyi Mas Ratu Patuakan 1450 - Ratu Pucuk Umun / Nyi Mas Ratu Dewi Inten Dewata / Nyimas Setyasih 1529

Penguasa Sumedang Larang Islam di bawah Kesultanan Cirebon
Prabu Kusumadinata I atau Pangeran Santri (Pangeran Soleh cucu dari Pangeran Panjunan, Cirebon) suami dari Nyimas Setyasih 1530 - 1579
Pangeran Angkawijaya atau Geusan Ulun 1579 – 1585.(*)

Sumber : Sejarah Kerajaan Sumedang 

Penulis : W Sumirta Manggala, SE. (Ketua IPJI Kota Bandung)

 

Editor: Red

Bagikan melalui:

Komentar