Bappeda Kota Sukabumi Perkuat Inovasi Genting, Dorong Percepatan Penurunan Stunting

SINARPAGINEWS.COM KOTA SUKABUMI – Upaya mempercepat penurunan angka stunting di Kota Sukabumi terus diperkuat melalui inovasi program dan kolaborasi lintas sektor. Salah satu langkah yang dikembangkan adalah Gerakan Nutrisi Telur untuk Keluarga Berisiko Stunting (Genting), yang diarahkan untuk membantu memenuhi kebutuhan gizi keluarga sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya nutrisi bagi tumbuh kembang anak.

Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Sukabumi mendorong agar penanganan stunting dilakukan secara terpadu, dengan menghubungkan intervensi gizi, pendampingan keluarga, perbaikan lingkungan, serta edukasi pola pengasuhan. Pendekatan ini diperlukan karena persoalan stunting tidak hanya berkaitan dengan aspek kesehatan, tetapi juga dipengaruhi oleh kondisi sosial dan pemenuhan kebutuhan dasar keluarga.

Kepala Bidang Pemerintahan dan Pembangunan Manusia Bappeda Kota Sukabumi, Nenden Eviyanti, menegaskan bahwa percepatan penurunan stunting memerlukan perencanaan yang terarah dan keterlibatan berbagai pemangku kepentingan.

“Penanganan stunting harus dilakukan secara bersama-sama dan berkelanjutan. Karena itu, kami terus mendorong inovasi dan penguatan kolaborasi lintas sektor agar intervensi yang diberikan benar-benar menyentuh keluarga yang membutuhkan,” ujar Nenden, Senin (12/10).

Menurutnya, keberhasilan program tidak cukup hanya mengandalkan pemberian bantuan. Keluarga juga perlu mendapatkan pemahaman mengenai kebutuhan gizi, sehingga mampu menerapkan pola konsumsi yang lebih baik dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam konteks tersebut, Program Genting menjadi salah satu bentuk intervensi yang menyasar keluarga berisiko stunting melalui dukungan pemenuhan nutrisi, termasuk asupan protein. Pelaksanaannya diharapkan dapat berjalan beriringan dengan edukasi dan pendampingan agar manfaat program tidak berhenti pada bantuan yang diterima, tetapi berlanjut menjadi kebiasaan positif di lingkungan keluarga.

“Yang paling penting bukan hanya pemberiannya, tetapi bagaimana keluarga memahami kebutuhan gizi dan mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Ini yang terus kami dorong melalui berbagai program dan inovasi,” jelasnya.

Nenden menjelaskan, intervensi yang tepat sasaran perlu disertai koordinasi antarpihak agar keluarga yang membutuhkan dapat memperoleh dukungan sesuai kondisi dan kebutuhannya. Upaya tersebut diharapkan turut memperkuat pencegahan kasus baru serta mendukung percepatan penurunan stunting di Kota Sukabumi.

Dalam pelaksanaan pembangunan manusia, Bappeda berperan mengoordinasikan perencanaan agar berbagai program dan kegiatan perangkat daerah saling terhubung serta memiliki sasaran yang jelas. Dengan demikian, penanganan stunting dapat menjadi bagian dari agenda pembangunan yang berkelanjutan, bukan sekadar kegiatan sektoral.

“Bappeda terus berupaya melakukan inovasi. Setiap program harus memiliki dampak dan manfaat yang bisa dirasakan masyarakat, terutama dalam mendukung peningkatan kualitas sumber daya manusia,” ungkap Nenden.

Ia berharap sinergi antara pemerintah daerah, perangkat daerah, tenaga kesehatan, kader, masyarakat, dan pemangku kepentingan lainnya semakin kuat. Kolaborasi tersebut diperlukan untuk memastikan intervensi berjalan efektif, sekaligus mendorong perubahan perilaku keluarga dalam memenuhi kebutuhan gizi dan menjaga kesehatan anak.

Percepatan penurunan stunting pada akhirnya membutuhkan kesinambungan antara perencanaan, pelaksanaan program, pendampingan, dan evaluasi. Melalui inovasi yang berorientasi pada kebutuhan masyarakat, Bappeda Kota Sukabumi berupaya mendukung terbentuknya generasi yang sehat, cerdas, dan berkualitas sebagai fondasi pembangunan daerah.

“Upaya ini menjadi bagian penting dalam membangun kualitas sumber daya manusia sekaligus mewujudkan masa depan Kota Sukabumi yang lebih baik,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *