SINARPAGI NEWS.COM, TANGERANG – Menjadi santri bukan sekadar tentang siapa yang paling lama duduk di hadapan Qur’an atau paling tertib menjalani rutinitas, melainkan tentang bagaimana ilmu, adab, dan tanggung jawab benar-benar hidup dalam diri seseorang serta identitas tersebut harus diterapkan dikehidupan sehari-hari. Ada pertanyaan yang paling mendasar: sejauh mana proses belajar itu membentuk yang mampu memahami
zamannya dan dapat bermanfaat bagi orang sekitar ?.
Kehidupan pesantren mengajarkan banyak hal, mulai dari kedisiplinan, kesabaran, dan tanggung jawab hingga cara menghargai orang lain. Di tengah perkembangan teknologi dan derasnya arus informasi, santri juga dituntut untuk berani bertanya, berpikir kritis, dan terbuka terhadap pengetahuan baru. Menjaga nilai-nilai yang telah dipelajari tetap penting, tetapi mengembangkan ilmu agar bermanfaatbagi kehidupan juga tidak kalah berarti.
Semangat tersebut menjadi salah satu pesan dalam upacara peringatan Hari Santri Nasional 2026 di Pesantren Nurul Islam Tengaran pada Kamis (22/10/2026). Dalam amanatnya, Ustaz Dr. H. Muh. Haris, S.S., M.Si. memberikan nasihat tentang pentingnya empat modal bagi santri dalam menyongsong Indonesia Emas, yaitu Ilmu yang mendalam, karakter yang kuat, tradisi yang berakar serta keberanian untuk berinovasi.
Beliau menegaskan, bahwa usia santri di Pesantren Nurul Islam Tengaran adalah usia yang secara
intelektual tumbuh dengan maksimal sehingga penting untuk mengembangkan kemampuan intelektual
selama menempuh pendidikan di pesantren. Namun, kecakapan intelektual perlu berjalan beriringan
dengan karakter yang kuat, salah satunya melalui keteladanan uswatun hasanah kita yaitu Nabi
Muhammad SAW.
Selain itu, santri juga perlu menjaga tradisi keilmuan yang berakar kepada kiai seperti
budaya lama yang tercermin dalam kebiasaan salim tangan ustaz dan ustazah. Di tengah perubahan zaman
yang berlangsung cepat, santri diharapkan memiliki keberanian untuk berinovasi karena kita tumbuh di
era perubahan yang sangat cepat.
Semangat tersebut kemudian berlanjut dalam rangkaian acara melalui pengumuman Santri of The
Year 2026. Apresiasi ini menjadi salah satu bagian dari peringatan Hari Santri Nasional di Pesantren
Nurul Islam Tengaran sekaligus momen untuk mengumumkan santri-santri terpilih berdasarkan kategori
dan kriteria yang telah ditetapkan oleh asatidz. Berikut nama-nama santri dari unit SMP-SMA-MA:
1. Ahmad Husni Alfatih – SMP
2. Muhammad Afif Ubada – SMP
3. Muhammad Fatih Arrosyid – SMP
4. Candice Zafirah Dwi Wahyuni – SMP
5. Nadhifa Putri – SMP
6. Aida Muthmainah – SMP
7. Erland Brian Prayoga – SMA
8. Mohamad Akbar Al-Faqih – SMA
9. Alfarezel Wildan Purnomo – SMA
10. Clairin Anindya Riswara – SMA
11. Annisa Khansa Dewi – SMA
12. Hilwa Althafunnisa – SMA
13. Syafiq Arzaq Shidqi – MA
14. Althaf Nail Syauqi Merlyn – MA
15. Muhammad Hilmiy – MA
16. Mahira Sajwa Athiyya – MA
17. Adzra Yumna Salsabila – MA
18. Hanifa Larasati – MA
Kemarin, selama 1 minggu dimulai sejak Senin-Selasa (12-20/10/2026) telah terlaksana rangkaian
perlombaan untuk mewarnai Hari Santri Nasional. Kegiatan ini diwarnai dengan perlombaan seperti puisi
berantai, nasyid, tartil, drama dan Miss Knowledge bagi santriwati dan bagi santriwan ada perlombaan
futsal, pimpong, pidato bahasa Indonesia, LCCI dan badminton. Bagi para santri, kegiatan ini bukan
sekadar ajang mencari juara tetapi juga mencoba hal baru, menunjukkan kemampuan dan belajar bekerja sama. Dari perlombaan, ada banyak hal yang bisa didapat, mulai dari pengalaman hingga pelajaran tentang sportivitas. Sebab, menjadi santri yang terus bertumbuh juga berarti berani mencoba, belajar dari proses dan menghargai usaha diri sendiri maupun orang lain.
Pada akhirnya, apa yang dapat kita lakukan sebagai santri untuk Indonesia Emas? Mungkin kita
belum mampu melakukan langkah besar hari ini. Namun, kita bisa mulai dari hal sederhana: belajar
dengan sungguh-sungguh, mengembangkan kemampuan dan menggunakan ilmu untuk membantu
sesama. Sebab, kita yang di masa depan adalah kita yang telah mempersiapkan diri dari sekarang,bukan
tentang apa capaian kita tetapi apa yang kita persiapkan.
Kita santri, para pembelajar yang masih terus bertumbuh. Dengan ilmu yang mendalam, karakter yang
kuat, tradisi yang terjaga, keberanian untuk ikut menguatkan negeri dan berkontribusi bagi terwujudnya
Indonesia Emas, kita punya kesempatan untuk ikut membawa negeri ini menuju masa depan yang lebih
baik.
Oleh: Aisyah Aulia Mumtazah-Copywitter
Foto diambil oleh tim Nurista Media






