Rumor Pulau Jawa Akan Terbelah, Joko Saputra: Jangan Bikin Masyarakat Takut

SINARPAGINEWS.COM, JAKARTA – Rumor mengenai Pulau Jawa yang disebut bakal “terbelah” kembali ramai diperbincangkan. Narasi tersebut belakangan dikaitkan dengan potensi gempa besar atau megathrust di wilayah selatan Jawa.

Praktisi supranatural Joko Saputra meminta masyarakat tidak langsung mempercayai narasi tersebut. Menurutnya, catatan sejarah mengenai perpecahan di Jawa tidak bisa disamakan dengan prediksi bahwa Pulau Jawa akan terbelah secara fisik akibat bencana.

Joko bahkan mengaku dirinya bukan orang yang mudah percaya terhadap ramalan. Ia menilai ramalan lebih banyak berkaitan dengan cara seseorang membaca atau menafsirkan suatu fenomena.

“Saya kebetulan praktisi yang tidak pernah percaya dengan ramalan. Buat saya, ramalan itu adalah pengembangan kalimat dari seseorang yang mungkin bisa merasakan atau menafsirkan sesuatu,” ujar Joko saat ditemui di Jakarta Barat, Minggu (13/9/2026).

Menurut Joko, sebelum mempercayai kabar mengenai Jawa yang disebut akan terbelah, masyarakat perlu melihat sejarah terbentuknya wilayah Indonesia dari perspektif geologi.

Ia mengatakan, bentuk wilayah Indonesia yang terdiri dari banyak pulau terbentuk melalui proses alam yang berlangsung sangat panjang.

“Kalau ada ramalan yang mengatakan Pulau Jawa bakal terbelah, kita harus flashback terlebih dahulu. Dulu Jawa atau Indonesia ini kan belum ada, artinya masih lautan. Kemudian pulau-pulau yang memang membesar itu pernah terjadi. Pembelahan-pembelahan dari benua juga pernah terjadi,” katanya.

Namun, Joko menegaskan bahwa kemungkinan terjadinya suatu fenomena tidak bisa dijadikan bukti bahwa sebuah ramalan pasti benar.

Menurutnya, sebuah ramalan bisa saja terlihat sesuai dengan peristiwa yang kemudian terjadi. Tetapi, kesamaan tersebut belum tentu membuktikan bahwa peristiwa tersebut terjadi karena ramalan.

“Bisa saja ramalan tersebut mengaitkan dengan fenomena yang memang sudah ada. Kemudian karena kita percaya bahwa ramalan itu akan terjadi, hal tersebut bisa menjadi sebuah dorongan mindset atau harapan dari orang yang mengatakan ramalan tersebut,” ujarnya.

Sejarah Jawa Pernah Terpecah Secara Politik

Joko juga menyoroti istilah “Jawa terpecah” yang selama ini kerap dikaitkan dengan sejarah.

Menurutnya, Jawa memang pernah mengalami berbagai bentuk perpecahan, tetapi konteksnya lebih banyak berkaitan dengan politik dan perebutan kekuasaan.

Ia mencontohkan sejarah Mataram dan Perjanjian Giyanti pada 1755. Perjanjian tersebut menjadi salah satu tonggak penting dalam perubahan kekuasaan Mataram yang kemudian berkaitan dengan munculnya Kesultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta.

Perkembangan politik berikutnya juga melahirkan Kadipaten Mangkunegaran.

“Pulau Jawa itu kan pernah mengalami perpecahan internal. Kalau melihat sejarah Mataram, misalnya, ada Perjanjian Giyanti yang kemudian menyebabkan wilayah Mataram terpecah,” tuturnya.

Berbagai perubahan politik, perpindahan pusat kekuasaan hingga masuknya kekuatan kolonial kemudian turut mengubah peta kekuasaan di Pulau Jawa.

Namun, Joko mengingatkan bahwa sejarah perpecahan politik tersebut tidak dapat dijadikan dasar untuk menyimpulkan Pulau Jawa akan terbelah secara geografis di masa mendatang.

Prediksi Megathrust Jangan Jadi Sumber Kepanikan

Terkait informasi mengenai potensi gempa dan megathrust, Joko menilai masyarakat tetap perlu waspada. Namun, informasi tersebut sebaiknya dijadikan sebagai bahan untuk meningkatkan kesiapsiagaan.

Menurutnya, prediksi tidak sama dengan kepastian.

“Tidak ada satu alat canggih mana pun yang bisa mendahului kehendak Tuhan,” katanya.

Ia mencontohkan prediksi cuaca yang dibuat berdasarkan teknologi. Meski dapat memperkirakan kemungkinan hujan atau cuaca berawan, hasil prediksi tersebut tetap memiliki kemungkinan berbeda dengan kondisi yang terjadi.

Karena itu, Joko meminta masyarakat tidak mengubah informasi mengenai potensi bencana menjadi ketakutan berlebihan.

“Artinya, prediksi itu kita jadikan sebagai acuan agar kita lebih berhati-hati, bukan sesuatu yang harus membuat kita takut,” ujarnya.

Joko juga mengingatkan adanya perbedaan antara menyampaikan potensi bencana dengan memastikan bahwa bencana tertentu pasti terjadi pada waktu dan bentuk tertentu.

“Yang belum diramalkan saja bisa terjadi, sedangkan yang diramalkan belum tentu terjadi. Artinya, prediksi bisa ada kemungkinan benar dan bisa ada kemungkinan salah,” ucapnya.

Jangan Sampai Ramalan Bikin Masyarakat Hopeless

Joko mengaku khawatir narasi mengenai ramalan bencana yang disampaikan tanpa konteks justru menimbulkan kecemasan di tengah masyarakat.

Menurut dia, masyarakat seharusnya tidak hidup dalam ketakutan hanya karena mendengar kabar mengenai bencana yang belum tentu terjadi.

“Kita jangan masuk ke ranah ketakutan itu, karena sama saja kita memberikan celah kepada diri sendiri untuk merasa takut dan hopeless,” katanya.

Ia menilai kewaspadaan lebih baik diwujudkan melalui tindakan nyata, seperti mengetahui potensi risiko bencana, mengikuti informasi dari sumber resmi dan mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan bencana.

Joko Ingatkan Pentingnya Menjaga Alam

Selain soal ramalan dan megathrust, Joko mengingatkan masyarakat agar lebih peduli terhadap lingkungan.

Ia meminta masyarakat tidak melakukan tindakan yang dapat merusak alam, termasuk membuang sampah sembarangan di kawasan gunung, hutan maupun pesisir.

“Jangan buang sampah sembarangan. Ingat, segala sesuatu yang terjadi karena alam bukan hanya karena alam itu sendiri, tetapi juga karena tangan-tangan manusia yang tidak mampu menjaga stabilitas muka bumi serta alam itu sendiri,” tuturnya.

Menurut Joko, manusia memiliki tanggung jawab untuk menjaga lingkungan. Kepedulian tersebut penting agar kerusakan alam tidak semakin memperbesar berbagai risiko yang dihadapi masyarakat.

Pada akhirnya, Joko meminta masyarakat tidak menjadikan ramalan sebagai sebuah kepastian.

“Ramalan tinggal ramalan. Kalau memang tidak terjadi, jangan kemudian kita menyalahkan ramalan. Yang penting, kita sebagai makhluk ciptaan Allah, mau agama apa pun, paling tidak harus bisa melihat secara persuasif dan secara bijaksana,” katanya.

Ia menegaskan, informasi mengenai Pulau Jawa yang disebut akan terbelah tidak perlu disikapi dengan kepanikan.

“Bukan maksudnya kita percaya dengan ramalan tersebut, tetapi jadikan itu hanya sebagai acuan agar kita bisa lebih berhati-hati. Itu saja,” tutup Joko.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *