SINARPAGINEWS.COM, BANDUNG – Artis sekaligus pendiri Titimangsa, Happy Salma, punya pesan penting di tengah maraknya tren media sosial. Menurut dia, sebuah karya seni dan tradisi tidak harus viral lebih dulu untuk bisa dianggap berharga.
Pesan itu disampaikan Happy saat menggelar Lestari Tradisi: Bandung 1990 bersama Bakti Budaya Djarum Foundation di Bumi Sangkuriang, Bandung, Sabtu (17/10/2026).
Happy menilai, masih banyak kesenian tradisional yang memiliki nilai luhur, tetapi kurang mendapat perhatian karena tidak populer di media sosial. Padahal, warisan budaya tersebut perlu terus dijaga agar tidak hilang ditelan zaman.
“Kadang-kadang kebenaran atau sesuatu yang bagus itu dianggap penting dan eksis berdasarkan dari dia viral atau tidak. Tetapi kita harus punya kepercayaan diri bahwa sesuatu yang bagus itu tidak selalu harus viral. Kita mau melakukan kegiatan ini karena kita meyakini ada nilai yang baik di sana,” ujar Happy.
Bagi Happy, pelestarian budaya bukan sekadar menggelar pertunjukan untuk menghibur masyarakat. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi cara untuk mengingatkan generasi sekarang agar tidak melupakan akar budaya mereka.
Dia berharap masyarakat tetap bangga terhadap tradisi sendiri, meski kehidupan modern terus bergerak cepat dan tren populer silih berganti.
“Acara ini menjadi ruang pengingat untuk menoleh kembali pada kompas kehidupan kita, dari mana kita berasal, agar kita tidak gagap dalam melangkah menghadapi masa depan,” tuturnya.
Melalui Lestari Tradisi: Bandung 1990, Happy ingin memberikan ruang bagi seniman dan kelompok kesenian untuk terus berkarya sekaligus mendekatkan tradisi kepada masyarakat luas.
Pemilihan Bandung juga memiliki alasan tersendiri. Kota ini pernah menjadi salah satu pusat perkembangan Pop Sunda pada akhir 1980-an hingga 1990-an, ketika musik berbahasa Sunda dan kesenian Jaipongan mendapat tempat di hati masyarakat.
Gerakan Lestari Tradisi sendiri bermula dari inisiatif Titimangsa pada masa pandemi melalui pertunjukan daring Taksu Ubud di Bali. Pada 2023, gerakan tersebut berlanjut melalui Lestari Tradisi: Sukabumi 1980, sebelum kini hadir di Bandung.
Tak berhenti pada pertunjukan langsung, Happy juga ikut mengangkat kisah para penjaga budaya lewat serial dokumenter tiga episode berjudul Di Bawah Langit Kita (Bertemu Para Penjaga Budaya).
Dokumenter yang dibuat bersama Puri Aksara dengan dukungan Bakti Budaya Djarum Foundation itu mengangkat tradisi masyarakat Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur, mulai dari tenun kain Futus, perhiasan tradisional, hingga musik daerah.
Serial tersebut dijadwalkan tayang melalui kanal YouTube Indonesia Kaya mulai Senin (19/10/2026).
Bagi Happy, menjaga tradisi berarti memastikan nilai-nilai budaya tetap dikenal dan diwariskan kepada generasi berikutnya. Sebab, budaya bukan hanya bagian dari masa lalu, melainkan juga bekal untuk menghadapi masa depan.**






