SINARPAGINEWS.COM, GARUT – 28 Oktober 2025 – Langit siang itu mendung menggantung di atas halaman SMA Yayasan Baitul Hikmah (YBHM). Dari kejauhan terdengar suara lantang puluhan siswa yang memegang spanduk bertuliskan “Selamatkan Tanah Wakaf Sekolah Kami!” dan “Kami Ingin Belajar, Bukan Bertarung dengan Ketamakan!”
Di tengah barisan itu, seorang lelaki berpeci hitam berdiri terpaku — Enggah Yusup Khomis, Kepala Sekolah SMA YBHM. Wajahnya tampak lelah, matanya berkaca-kaca. Ia menatap sekolahnya sendiri yang kini terasa seperti medan perlawanan, bukan lagi tempat menanam ilmu dan akhlak.
“Saya tidak pernah membayangkan harus melihat murid-murid saya berdiri di jalan, berteriak menuntut keadilan untuk tanah tempat mereka belajar mengaji dan menuntut ilmu,” ujar Enggah dengan suara serak menahan tangis.
“Sekolah ini berdiri sejak tahun 1976, dibangun dari keringat masyarakat, dari niat tulus untuk ibadah. Tapi hari ini, tanah wakaf itu seolah hendak dirampas.”
Ia terdiam sejenak, memandang papan nama sekolah yang mulai pudar dimakan usia.
“Di sini ribuan anak pernah belajar tentang iman, tentang cinta tanah air, tentang arti hidup yang sederhana. Sekarang, semuanya seolah mau dihapus hanya karena selembar sertifikat.”
Tanah tempat berdirinya SMA YBHM sejak lama diketahui sebagai tanah wakaf yang diperuntukkan bagi pendidikan. Namun belakangan muncul kabar bahwa lahan itu telah beralih nama menjadi milik pribadi, dengan dugaan proses administrasi yang tidak sah.
Masyarakat sekitar dan pihak yayasan pun merasa dikhianati.
“Ini bukan sekadar pelanggaran hukum, ini pengkhianatan terhadap amanah para wakif dan terhadap nilai-nilai yang kami junjung selama puluhan tahun,” ucap Enggah tegas, suaranya bergetar menahan emosi.
Di halaman sekolah, siswa-siswa tampak berdiri dalam barisan rapi, beberapa di antaranya menangis. Mereka menatap gerbang sekolah yang kini dijaga aparat.
“Kami tidak ingin sekolah kami hilang, Pak. Ini rumah kami, ini tempat kami belajar mengenal Allah dan masa depan,” ujar seorang siswi dengan suara terbata, memegang tangan gurunya.
Enggah menatap mereka satu per satu — anak-anak dengan seragam putih abu-abu yang seharusnya sibuk mempersiapkan masa depan, bukan menuntut hak atas tempat mereka belajar.
“Saya hanya ingin mereka belajar dalam tenang. Tapi jika tanah ini diambil, apa yang tersisa untuk mereka?” katanya lirih.
Dalam suaranya ada keputusasaan yang tajam — seperti luka lama yang disayat kembali. Ia menengadah ke langit yang mulai gerimis, lalu menunduk dalam diam.
“Kami bukan melawan siapa-siapa, kami hanya mempertahankan amanah. Kalau tanah wakaf pun bisa dijual, lalu di mana lagi tempat anak-anak kami mencari cahaya ilmu?”
Hening sesaat, hanya terdengar suara azan dari masjid kecil di sudut sekolah. Enggah menatap kubah itu dengan mata basah.
“Sekolah ini lahir dari doa dan wakaf. Jika hari ini harus hilang karena keserakahan, maka itu bukan hanya kehilangan tanah — tapi kehilangan nurani.”






