Stok Telur Ayam Nasional Aman hingga Lebaran, Bapanas Tegaskan Bukan Dampak Program MBG

SINARPAGINEWS.COM, JAKARTA — Ketersediaan telur ayam ras sebagai salah satu sumber protein hewani favorit masyarakat dipastikan dalam kondisi aman dan mencukupi hingga Lebaran 2025. Badan Pangan Nasional (Bapanas) menegaskan kebutuhan konsumsi telur secara nasional selama ini sepenuhnya dapat ditopang oleh produksi peternak dalam negeri.

Berdasarkan proyeksi Bapanas, pasokan telur ayam ras nasional masih berada dalam kondisi surplus. Produksi dalam negeri yang besar membuat pemerintah optimistis kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi, termasuk selama Ramadan hingga Lebaran mendatang.

Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa, mengatakan stok telur ayam ras nasional saat ini sangat mencukupi dan tidak mengalami kendala berarti.

“Stok telur kita secara nasional banyak dan sangat memenuhi kebutuhan nasional. Lewat Ramadan juga aman. Kita surplus, tidak ada masalah untuk telur,” ujar Ketut di Jakarta, Rabu (24/12/2024).

Ia menegaskan fluktuasi harga telur ayam ras yang terjadi belakangan lebih bersifat musiman, terutama dipicu meningkatnya permintaan menjelang Natal dan Tahun Baru (Nataru), bukan akibat program prioritas Presiden Prabowo Subianto, yakni Makan Bergizi Gratis (MBG).

“Kalau saya melihat program MBG, ada pengaruhnya, tapi kecil. Saat ini permintaan naik karena momentum Nataru,” katanya.

Dalam Proyeksi Neraca Pangan Nasional yang diperbarui setiap bulan, kebutuhan telur ayam ras nasional, termasuk untuk kebutuhan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dalam program MBG, sepenuhnya masih dapat dipenuhi dari produksi dalam negeri. Dari total kebutuhan konsumsi nasional, porsi kebutuhan untuk SPPG masih relatif kecil.

Total kebutuhan konsumsi telur ayam ras nasional per tahun diperkirakan mencapai 6,487 juta ton. Dari jumlah tersebut, kebutuhan telur untuk SPPG pada 2025 hanya sekitar 127,3 ribu ton atau 1,96 persen dari total konsumsi nasional. Sementara produksi telur ayam ras nasional diproyeksikan mencapai 6,561 juta ton per tahun.

Bapanas juga memproyeksikan stok akhir tahun 2025 telur ayam ras nasional mencapai 74,5 ribu ton. Angka ini melonjak hingga 154,2 persen dibandingkan stok akhir 2024 yang tercatat sebesar 29,3 ribu ton.

Meski pasokan dalam kondisi aman, pemerintah tetap memantau pergerakan harga telur ayam ras di pasaran agar tetap sesuai dengan Harga Acuan Penjualan (HAP) di tingkat konsumen sebesar Rp30.000 per kilogram.

Ketut menyebut peternak telah berkomitmen menjaga harga di tingkat produsen pada kisaran Rp22.000 hingga Rp25.000 per kilogram. Dengan demikian, harga jual di tingkat konsumen seharusnya masih dapat dijaga di kisaran HAP.

“Artinya, pedagang mestinya masih bisa menjual di angka Rp30.000,” ujarnya.

Mengacu pada Panel Harga Pangan Bapanas, rata-rata harga telur ayam ras di tingkat konsumen secara nasional per 24 Desember tercatat sebesar Rp31.595 per kilogram. Angka tersebut mulai mengalami penurunan dibandingkan sepekan sebelumnya.

Provinsi dengan rata-rata harga telur ayam ras terendah tercatat di Bali, yakni Rp27.635 per kilogram, atau sekitar 7,8 persen lebih rendah dari HAP.

Dalam kesempatan terpisah, Kepala Bapanas sekaligus Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan pemerintah tidak akan lengah dalam mengawal harga telur ayam ras, mengingat stok nasional dalam kondisi lebih dari cukup.

“Telur alhamdulillah baik, tapi kita tidak boleh lengah. Stok cukup. Saya katakan tidak boleh naik. Kalau naik, kita tindak. Telur ayam lebih dari cukup. Jadi aman,” kata Amran saat meninjau Pasar Wonokromo, Surabaya, Jawa Timur, Senin (23/12/2025). ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *