SINARPAGINEWS.COM, TEGAL – Program Prioritas Bupati Tegal di bidang penguatan ekonomi kerakyatan terus diwujudkan melalui pembenahan pasar tradisional secara bertahap dan berkelanjutan. Melalui Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah (UKM) dan Perdagangan Kabupaten Tegal, pemerintah daerah terus meningkatkan kualitas sarana dan prasarana pasar agar aktivitas perdagangan semakin nyaman, aman, serta mampu menggerakkan roda perekonomian masyarakat.
Hal tersebut disampaikan Kepala Dinas Koperasi, UKM dan Perdagangan Kabupaten Tegal, Imam Rudy Kurnianto, saat wawancara publikasi capaian Program Prioritas Bupati Tegal yang berlangsung di Gedung Slawi Pusat Oleh-Oleh dan Usaha Terpadu (SPOT) Lantai 2, Taman Rakyat Slawi, Kamis (9/7/2026).
Rudy mengatakan, Kabupaten Tegal memiliki 25 pasar tradisional yang menjadi kewenangan Pemerintah Kabupaten Tegal. Seluruh pasar tersebut menjadi perhatian pemerintah untuk terus dibenahi sesuai tingkat kebutuhan dan kondisi bangunan agar mampu memberikan pelayanan yang lebih baik kepada pedagang maupun masyarakat.
“Pasar tradisional merupakan pusat perputaran ekonomi masyarakat. Karena itu, pemerintah terus melakukan intervensi melalui perbaikan sarana dan prasarana secara bertahap agar pedagang maupun pembeli merasa lebih nyaman saat beraktivitas di pasar,” ujar Rudy.
Pada Tahun Anggaran (TA) 2025, Pemerintah Kabupaten Tegal mengalokasikan anggaran sebesar Rp3,74 miliar untuk pembenahan sarana dan prasarana di 16 pasar tradisional. Alokasi anggaran tersebut dimanfaatkan untuk memperbaiki berbagai fasilitas penting, seperti atap, talang air, drainase, jalan lingkungan, tempat pembuangan sampah (TPS), toilet, instalasi air bersih, hingga rehabilitasi los dan kios pedagang.
Pasar yang mendapatkan pembenahan meliputi Pasar Adiwerna, Banjaran, Cerih, Kedungsukun, Trayeman, Margasari, Pangkah, Bumijawa, Bojong, Jatilaba, Balapulang, Jatinegara, Balamoa, Mejasem, Pepedan, dan Suradadi.
Program tersebut berlanjut pada TA 2026 dengan alokasi anggaran sebesar Rp2,74 miliar yang difokuskan pada pembenahan tujuh pasar prioritas. Salah satu alokasi terbesar diarahkan untuk Pasar Kesambi sebesar Rp993 juta. Anggaran tersebut digunakan untuk memperbaiki deretan kios bagian depan, pembaruan atap, serta instalasi kelistrikan sehingga kondisi pasar menjadi lebih aman, nyaman, dan representatif bagi pedagang maupun pengunjung.
“Pasar Kesambi menjadi salah satu prioritas karena memang membutuhkan penanganan yang lebih menyeluruh. Dengan pembenahan ini kami berharap tampilan pasar menjadi lebih baik dan aktivitas perdagangan semakin nyaman,” jelas Rudy.
Selain Pasar Kesambi, pembenahan juga dilakukan melalui pengaspalan jalan lingkungan di Pasar Trayeman, pembangunan dan penataan fasilitas pendukung di Pasar Bojong, serta perbaikan sarana dan prasarana di Pasar Banjaran, Margasari, Balapulang, dan Kupu sesuai kebutuhan masing-masing pasar.
Menurut Rudy, pola pembenahan pasar dilakukan berdasarkan tingkat urgensi kerusakan. Pemerintah memprioritaskan perbaikan fasilitas yang paling banyak digunakan pedagang, seperti atap, lantai, drainase, dan akses jalan sebelum melanjutkan pembenahan fasilitas pendukung lainnya.
“Kalau atap masih bocor atau lantainya masih rusak tentu itu yang kami dahulukan. Setelah kebutuhan dasar terpenuhi, baru kami lanjutkan pembenahan fasilitas lain seperti TPS, MCK maupun sarana pendukung lainnya,” katanya.
Komitmen Pemerintah Kabupaten Tegal untuk meningkatkan kualitas pasar tradisional akan semakin diperkuat pada TA 2027. Diskop UKM dan Perdagangan telah menyusun rencana pembenahan terhadap 13 pasar dengan total alokasi anggaran sekitar Rp7,8 miliar.
Alokasi terbesar direncanakan untuk Pasar Balamoa sebesar Rp3 miliar. Anggaran tersebut diharapkan mampu mengubah wajah pasar secara signifikan melalui pembangunan ulang puluhan kios, pembenahan atap, drainase, serta fasilitas pendukung lainnya sehingga pasar menjadi lebih tertata dan representatif.
“Kalau anggaran dua ratus atau tiga ratus juta itu sifatnya lebih pada memperbaiki kerusakan yang ada. Tetapi kalau sampai tiga miliar seperti rencana di Pasar Balamoa, harapannya sudah bisa mengubah wajah pasar sehingga lebih nyaman bagi pedagang maupun masyarakat,” ungkap Rudy.
Selain Balamoa, pemerintah juga merencanakan pembenahan di Pasar Trayeman, Pangkah, Adiwerna, Simpar, Jatinegara, Cerih, Kedungsukun, Pesayangan, Suradadi, Banjaran, dan Banjaranyar. Pemerintah juga menyiapkan alokasi anggaran sekitar Rp2 miliar sebagai cadangan untuk mengantisipasi kebutuhan rehabilitasi akibat bencana maupun kerusakan bangunan yang bersifat mendesak.
Di samping mengoptimalkan APBD, Pemerintah Kabupaten Tegal juga terus mengupayakan dukungan pendanaan dari pemerintah pusat. Saat ini usulan revitalisasi Pasar Adiwerna sedang diproses melalui APBN. Apabila terealisasi, pembangunan tidak lagi sebatas rehabilitasi, melainkan revitalisasi secara menyeluruh sehingga pasar memiliki fasilitas yang lebih modern dan representatif.
Rudy menegaskan bahwa pembenahan pasar tidak berkaitan dengan kenaikan tarif retribusi. Besaran retribusi tetap mengacu pada ketentuan yang berlaku berdasarkan luas tempat usaha, bukan pada kualitas bangunan pasar.
“Yang kami bangun adalah kualitas pelayanannya. Harapannya ketika pedagang merasakan manfaat dari pasar yang lebih nyaman dan tertata, kesadaran untuk membayar retribusi juga akan meningkat. Jadi bukan tarifnya yang dinaikkan, tetapi kualitas layanannya yang terus kami tingkatkan,” tegasnya.
Saat ini target pendapatan retribusi dari 25 pasar tradisional yang dikelola Pemerintah Kabupaten Tegal mencapai sekitar Rp8,5 miliar per tahun. Pemerintah optimistis peningkatan kualitas sarana dan prasarana pasar akan berdampak pada meningkatnya kenyamanan pedagang dan masyarakat, sekaligus mendorong optimalisasi pengelolaan pasar secara berkelanjutan.
Ke depan, pemerintah juga merencanakan peningkatan layanan kebersihan pasar melalui penyediaan petugas kebersihan sehingga lingkungan pasar menjadi lebih bersih, sehat, dan nyaman.
Rudy berharap Program Prioritas Bupati Tegal di sektor pasar dapat terus berlanjut sehingga pasar tradisional tetap menjadi pusat pertumbuhan ekonomi masyarakat.
“Kami ingin pasar tradisional di Kabupaten Tegal menjadi tempat yang bersih, aman, nyaman, dan mampu menggerakkan ekonomi kerakyatan. Ketika pedagang nyaman berjualan dan masyarakat nyaman berbelanja, maka aktivitas ekonomi daerah juga akan semakin tumbuh,” pungkasnya. (Hid/hms)





