JAKARTA – Rumah produksi Imajinari menghadapi tantangan berbeda saat menggarap film musikal Batak Pulang Kampung. Selain menggabungkan drama keluarga, romansa, lagu, dan koreografi, film garapan Bene Dion Rajagukguk ini juga menuntut produksi berskala besar dengan sekitar 90 persen lokasi syuting berada di kawasan Danau Toba dan Pulau Samosir.
Produser Ernest Prakasa mengaku sempat pesimistis ketika Bene mengusulkan pembuatan film musikal. Keraguan itu muncul karena Bene dikenal bukan sebagai penyanyi maupun penari. Namun, Ernest percaya kemampuan Bene dalam menulis skenario dapat menjadi modal utama untuk mewujudkan gagasan tersebut.
“Pasti bisa sama Bene? Karena kita tahu sendiri dia tidak merdu dan tidak pandai menari. Tapi ketika mau bikin musikal yang harus ada tarian dan nyanyi-nyanyian, kita kayak, emang bisa?” ujar Ernest dalam konferensi pers peluncuran trailer resmi Pulang Kampung di Djakarta XXI, Rabu, (7/10/2026).
Meski sempat ragu, Ernest akhirnya menyetujui proyek tersebut. Ia menilai film musikal tetap bisa diwujudkan selama proses kreatifnya didukung orang-orang yang memiliki keahlian di bidang masing-masing.
Menurut Ernest, ide film ini berangkat dari keinginan memperlihatkan keindahan alam Danau Toba dan sekitarnya kepada masyarakat Indonesia. Keindahan tersebut dikemas melalui drama keluarga dan romansa dengan pendekatan musikal yang terinspirasi dari kebiasaan masyarakat Batak mengekspresikan perasaan melalui nyanyian.

Film Pulang Kampung dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia pada 26 November 2026. Film ini dibintangi Axelo Nababan dan Vanessa Simorangkir, serta menghadirkan Judika dan Lea Simanjuntak.
Bene Dion Gali Identitas Batak Lewat Musik
Bagi Bene Dion, Pulang Kampung menjadi kelanjutan dari ketertarikannya mengangkat budaya Batak melalui film. Namun, proses menuju proyek musikal ini tidak terlepas dari pengalaman pribadinya sebagai orang Batak yang tumbuh di Jakarta.

Bene mengungkapkan, saat masih bersekolah, ia pernah merasa tidak nyaman memperlihatkan identitas marganya karena khawatir menjadi sasaran ejekan teman-teman. Pengalaman tersebut menjadi bagian dari perjalanan hidup yang kemudian membawanya semakin dekat dengan budaya Batak.
Ia mengaku awalnya tidak langsung tertarik ketika diminta menggarap film musikal Batak. Namun, proses tersebut justru membuatnya semakin mendalami budaya yang menjadi bagian dari latar belakang keluarganya.
Dalam penggarapan Pulang Kampung, Bene ingin menjadikan musik bukan sekadar pelengkap adegan, melainkan bagian penting dalam bercerita.
Ia menilai kekuatan musikal terletak pada kemampuannya menyampaikan emosi dan membangun alur cerita. Lagu yang sudah dikenal masyarakat pun dapat memperoleh makna baru ketika ditempatkan dalam konteks cerita film.
Ernest juga mengapresiasi pendekatan Bene tersebut. Menurut dia, lagu-lagu yang telah populer dapat diolah menjadi bagian dari narasi sehingga terasa menyatu dengan perjalanan karakter, bukan sekadar disisipkan sebagai hiburan.
Viky Sianipar Olah Lagu Batak dengan Pendekatan Musikal
Untuk membangun dunia musikal film ini, Imajinari kembali bekerja sama dengan Viky Sianipar. Keduanya sebelumnya pernah berkolaborasi dalam film Ngeri-Ngeri Sedap, yang menjadi film pertama produksi Imajinari.
Ernest mengatakan, hubungan kerja yang telah terjalin sejak proyek tersebut menjadi modal untuk mengembangkan Pulang Kampung. Rencana membuat film musikal bahkan sudah sempat dibicarakan ketika mereka mengerjakan Ngeri-Ngeri Sedap.
Viky berperan mengaransemen ulang sejumlah lagu tradisional Batak dengan sentuhan baru. Tantangannya bukan hanya menghadirkan musik yang menarik, melainkan memastikan lagu-lagu tersebut tetap memiliki fungsi dramatik dalam cerita.
Pendekatan ini menjadi penting karena film musikal membutuhkan keterpaduan antara akting, musik, dan koreografi. Lagu harus mampu menggerakkan cerita sekaligus menyampaikan perasaan karakter yang tidak selalu dapat diungkapkan melalui dialog.
Bene sebelumnya menjelaskan bahwa masyarakat Batak memiliki kedekatan kuat dengan tradisi bernyanyi. Dalam film ini, karakter-karakternya menggunakan lagu untuk menyampaikan perasaan yang sulit diutarakan secara langsung.
Karena itu, musik menjadi salah satu elemen utama dalam Pulang Kampung, bukan sekadar pemanis adegan.
Syuting di Danau Toba Libatkan Warga Lokal
Tantangan produksi juga muncul dari skala pengerjaan film. Sekitar 90 persen proses syuting dilakukan di kawasan Danau Toba, Pulau Samosir, dan sejumlah kabupaten di sekitarnya.
Menurut Ernest, memindahkan kru dan ratusan orang ke lokasi yang jauh dari Jakarta membutuhkan perencanaan tersendiri. Tim produksi harus mengatur kebutuhan teknis sekaligus memastikan setiap adegan musikal dapat direalisasikan sesuai konsep.
Salah satu adegan bahkan membutuhkan waktu syuting sekitar empat hari untuk lagu berdurasi tiga hingga empat menit. Adegan tersebut memperlihatkan besarnya perhatian yang diberikan pada detail pertunjukan musikal.
Imajinari juga memilih melibatkan penari dari masyarakat setempat. Tim mengirimkan video untuk proses seleksi dan menurunkan tim guna mengawasi persiapan sebelum syuting.
Ketika jumlah penari yang tersedia belum memenuhi kebutuhan, tim melakukan perekrutan tambahan terhadap warga sekitar. Mereka berasal dari beragam profesi, mulai dari guru, pegawai negeri sipil, hingga pedagang.
Pendekatan tersebut sejalan dengan keinginan Bene untuk menghadirkan representasi budaya Batak yang autentik. Film ini tidak hanya menggunakan Danau Toba sebagai latar visual, tetapi juga melibatkan masyarakat yang hidup di lingkungan tersebut.
Imajinari Ingin Buka Ruang bagi Film Musikal Indonesia
Ernest mengakui, produksi Pulang Kampung memiliki skala lebih besar dibandingkan Ngeri-Ngeri Sedap. Pengalaman mengerjakan film sebelumnya menjadi bekal, tetapi tidak serta-merta menghilangkan tantangan dalam menggarap genre yang relatif jarang muncul di layar lebar Indonesia.
Ia berharap Pulang Kampung dapat membuka peluang bagi film musikal lain untuk diproduksi. Menurut dia, industri perfilman Indonesia perlu memberi ruang lebih besar kepada genre di luar drama dan horor.
“Kalau enggak nyoba, kita enggak pernah tahu. Jangan-jangan setelah kejadian ini akan ada musikal setiap tahun, musikal Batak atau musikal dari sub-suku lain,” ujar Ernest.
Ia juga berharap film tersebut dapat memberikan dampak positif bagi daerah yang menjadi lokasi syuting. Pengalaman Ngeri-Ngeri Sedap, kata Ernest, menunjukkan bahwa lokasi film berpotensi menarik perhatian wisatawan setelah tayang di bioskop.
Karena itu, ia berharap kawasan Danau Toba dan lokasi lain yang ditampilkan dalam Pulang Kampung dapat semakin dikenal masyarakat.
Film ini juga menjadi produksi pertama Imajinari yang menggunakan teknologi Dolby Atmos untuk tata suara, sebagaimana disampaikan dalam konferensi pers. Penggunaan teknologi tersebut menjadi bagian dari upaya meningkatkan pengalaman penonton, terutama dalam film yang mengandalkan musik dan pertunjukan.
Axelo Nababan dan Vanessa Simorangkir Debut Akting
Film Pulang Kampung dibintangi Axelo Nababan dan Vanessa Simorangkir, yang dikenal melalui ajang Indonesian Idol musim ke-13. Keduanya memerankan Daniel dan Uli, dua karakter utama yang kisahnya disampaikan melalui drama dan lagu.
Film ini sekaligus menjadi debut akting layar lebar bagi Axelo dan debut akting bagi Vanessa. Penyanyi Judika dan Lea Simanjuntak juga turut bergabung dalam jajaran pemain.

Sebelumnya, Imajinari telah memperkenalkan teaser poster Pulang Kampung pada 26 September 2026. Poster tersebut menampilkan Daniel dan Uli yang duduk berhadapan dengan lanskap Danau Toba sebagai latar, serta ornamen khas Batak yang mempertegas identitas budaya film.
Bene Dion mengatakan, musik dan lagu memiliki ruang penting dalam kehidupan masyarakat Batak. Melalui lagu, seseorang dapat mengungkapkan perasaan yang terkadang sulit disampaikan secara langsung.
“Lewat musik dan lagu, para karakter di film Pulang Kampung dapat menyampaikan perasaan yang mungkin sulit mereka ungkapkan. Saya ingin penonton ikut merasakan emosi itu,” ujar Bene.
Diproduseri Ernest Prakasa dan Dipa Andika, Pulang Kampung dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia mulai 26 November 2026. Film ini menjadi upaya Imajinari menghadirkan kisah musikal yang berakar pada budaya Batak sekaligus membuka ruang bagi genre musikal dalam perfilman nasional.
Diproduseri Ernest Prakasa dan Dipa Andika, Pulang Kampung dijadwalkan tayang pada 26 November 2026. Lewat film ini, Imajinari mencoba menggabungkan kekuatan cerita keluarga, musik Batak, dan keindahan alam Sumatera Utara sekaligus menguji penerimaan penonton terhadap film musikal etnis di Indonesia**






