Krisis Air Bersih, 1.800 Warga Padaraang Sukabumi Terdampak Kemarau

SINARPAGINEWS.COM, KAB. SUKABUMI – Sebanyak 1.800 jiwa dari 700 kepala keluarga (KK) di Kedusunan Padaraang, Desa Kebonmanggu, Kecamatan Gunungguruh, Kabupaten Sukabumi, mengalami kesulitan air bersih akibat musim kemarau. Pemerintah desa pun terus mengajukan bantuan kepada berbagai instansi untuk memenuhi kebutuhan air warga.

Kepala Desa Kebonmanggu, Rasnita Diharja, mengatakan krisis air bersih menjadi persoalan serius karena wilayah Padaraang berada di kawasan perbukitan dengan ketinggian sekitar 700 meter di atas permukaan laut (mdpl). Kondisi tanah yang tandus menyebabkan sumber mata air warga mengering saat kemarau.

“Setiap minggu kami mengajukan permohonan bantuan armada tangki air bersih kepada berbagai instansi, mulai dari BPBD, Baznas, hingga PDAM Gunungguruh,” ujar Rasnita saat dikonfirmasi, Minggu (11/10/2026).

Bantuan juga datang dari pihak swasta, termasuk PT Seraya, serta elemen partai politik yang turut membantu menyuplai air bersih bagi warga.

Sebelumnya, pemerintah desa telah membangun sarana air bersih dari embung desa pada 2019 melalui alokasi dana P3K dari kecamatan. Pemerintah desa juga bekerja sama dengan Dinas Perumahan dan Permukiman (Perkim) Kabupaten Sukabumi untuk membangun sumur artesis.

Namun, debit air dari sarana tersebut belum mencukupi kebutuhan seluruh warga. Keterbatasan pasokan bahkan memicu persoalan dalam pemanfaatan jaringan pipanisasi.

“Pengeboran sumur sudah dilakukan, tetapi debit airnya tetap belum mencukupi seluruh warga Padaraang,” jelasnya.

Saat bantuan tangki belum tiba, warga terpaksa mencari sumber mata air alami di kawasan perbukitan yang lebih rendah. Mereka harus menempuh jarak sekitar satu kilometer melalui jalan menanjak dan curam, dengan menggunakan sepeda motor untuk mengangkut air dalam jeriken dan galon.

Kondisi tersebut mendorong warga berharap pemerintah daerah dan instansi terkait segera menghadirkan solusi permanen melalui pembangunan infrastruktur air bersih yang memadai, sehingga kebutuhan dasar masyarakat dapat terpenuhi meski musim kemarau melanda. (Deni Silalahi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *