SINARPAGINEWS.COM, GUNUNGSITOLI- Tri-Komisi (Kitab Suci, Liturgi, Kateketik) Dekanat Nias Keuskupan Sibolga melaksanakan pelatihan Musik Liturgi Gereja Katolik di Aula Ruper Laverna St. Leopoldo Kota Gunungsitoli Sumatera Utara. Kamis (12/03/2026).
Peserta pelatihan yang mengikuti berjumlah 42 orang perwakilan dari 21 Paroki se-Dekanat Nias Keuskupan Sibolga dengan waktu tiga (3) hari, Kamis – Sabtu.
Di hari pertama pelatihan musik liturgi gereja diawali dengan suasana yang penuh sukacita.
Sesuai dengan rencana, registrasi peserta dimulai pada pukul 09.00 WIB. Proses registrasi berjalan dengan baik hingga sekitar pukul 10.30 WIB, yang kemudian dilanjutkan dengan minum bersama.
Pada momen ini, suasana di setiap sudut meja terasa sangat hidup. Tawa dan canda mengalir dengan alami, seolah menjadi tanda kerinduan lama yang akhirnya terjawab. Banyak peserta yang sudah lama tidak bertemu kembali saling menyapa, sementara beberapa wajah baru dengan cepat menyesuaikan diri. Dalam waktu singkat, suasana persaudaraan sudah terasa begitu hangat.
Acara pembukaan yang dijadwalkan pada pukul 10.00 WIB dapat terlaksana dengan baik dan tepat waktu. Seluruh rangkaian kegiatan dipandu oleh Stefanus Hulu, S.Pd., M.Fil. sebagai pembawa acara.
Pertemuan hari pertama ini diawali dengan ibadat pembukaan yang dipimpin oleh Kat. Ingatan Sihura, S.Ag. Dalam suasana doa yang khusyuk dan hening, para peserta diajak untuk menata hati, menyadari bahwa musik liturgi bukan sekadar keterampilan teknis, tetapi terlebih merupakan pelayanan iman bagi umat Allah.
Dalam arahan pembukaannya, Ketua Tim, oleh Pastor RD. Marthin L. Halawa, S.Ag., M.Fil., menekankan bahwa kehadiran para peserta dalam pelatihan ini bukanlah sebuah kebetulan. Kehadiran ini merupakan jawaban konkret atas hasil Sinode III, khususnya yang berkaitan dengan pembinaan lagu dan musik liturgi Gereja. Ujar Pastor Marthin L. Halawa S.Ag.
Ia menambahkan peserta diharapkan mengikuti seluruh proses pelatihan ini dengan hati yang terbuka, semangat belajar, serta kerelaan untuk terus berlatih dan memperdalam pelayanan.
Setelah itu, suasana menjadi semakin akrab melalui sesi perkenalan per paroki.
Melalui perkenalan ini, peserta dapat saling mengenal latar belakang pelayanan masing-masing, sekaligus menyadari bahwa walaupun datang dari tempat yang berbeda, mereka dipersatukan oleh semangat yang sama untuk melayani Tuhan melalui musik liturgi. katanya.
Memasuki Sesi I, materi pertama disampaikan oleh Kat. Sudiaman Harefa, S.Ag. dengan tema “Istilah dan Makna Musik Liturgi hingga Sejarah dan Martabatnya.” Materi ini membantu peserta memahami bahwa musik dalam liturgi bukan sekadar hiasan atau pelengkap, melainkan bagian integral dari perayaan iman Gereja.
Dalam tradisi Gereja Katolik, musik liturgi memiliki martabat yang luhur karena membantu umat berdoa dan mengungkapkan iman secara lebih mendalam.
Masih dalam sesi yang sama Pastor RD. Marthin L. Halawa, S.Ag., M.Fil. melanjutkan dengan penjelasan mengenai Tujuan, Fungsi, dan Hirarki Musik Liturgi.
Penjelasan ini membuka wawasan peserta bahwa dalam liturgi terdapat susunan peran yang jelas—mulai dari imam, pemazmur, dirigen, organis, hingga umat—yang semuanya bekerja sama untuk mendukung perayaan liturgi yang hidup dan bermakna. Antusiasme peserta terlihat semakin meningkat, bahkan waktu sesi sedikit melewati jadwal yang direncanakan. Pertanyaan-pertanyaan yang muncul menunjukkan kerinduan peserta untuk semakin memahami musik liturgi sebagai bagian dari penghayatan iman yang hidup.
Selanjutnya, saat memasuki ruang makan, suasana kembali menjadi hangat dan penuh energi. Percakapan yang mengalir membuat para peserta semakin mengenal satu sama lain. Relasi persaudaraan yang terbangun ini menjadi kekuatan tersendiri bagi perjalanan pelatihan selama beberapa hari ke depan.
Sesi II yang dimulai pada pukul 15.00 WIB diisi oleh Bapak Amonius Halawa, S.Ag., MM dengan tema “Teori Musik.” Materi ini memperkenalkan berbagai istilah dasar dalam musik yang bagi sebagian peserta terasa cukup menantang. Tidak sedikit peserta yang menggelengkan kepala ketika mendengar istilah-istilah yang selama ini jarang, bahkan hampir tidak pernah mereka dengar. Namun demikian, diskusi singkat yang terjadi menunjukkan semangat peserta untuk tidak berhenti pada teori saja, melainkan segera berharap dapat mencoba praktek langsung dalam pelayanan musik liturgi.
Setelah turun minum yang berlangsung singkat namun penuh canda dan tawa, pelatihan dilanjutkan dengan Sesi III yang dibawakan oleh Br. Medard Sihura, OFMCap. dengan tema “Pedoman bagi Para Dirigen.” Sesi ini justru menjadi salah satu sesi yang paling hidup. Diskusi berkembang dengan sangat dinamis hingga hampir melupakan waktu.
Percakapan banyak mengarah pada realitas pelayanan musik di lapangan, di mana lagu-lagu gereja sering kali memiliki variasi yang berbeda dari satu tempat ke tempat lain. Hal ini disadari sebagai bagian dari perjalanan sejarah pelayanan musik di Gereja, di mana para pelatih pada masa lalu sering bekerja dengan keterbatasan pengetahuan musik, bahkan dengan berbagai kebiasaan khas yang mewarnai proses latihan. Semua pengalaman ini menjadi refleksi bersama bahwa pelayanan musik liturgi terus berkembang dan membutuhkan pembinaan yang berkelanjutan. Katanya.
Karena diskusi berlangsung begitu hidup, pertemuan sore hari akhirnya sedikit melewati waktu yang telah direncanakan. Penutup pertemuan dilakukan dengan doa singkat, sebagai ungkapan syukur atas proses belajar bersama yang telah berlangsung.
Pada saat makan malam, suasana menjadi semakin hangat. Hidangan daging saksang yang tersaji memberikan kegembiraan tersendiri, terlebih di tengah suasana masa puasa. Dalam suasana santai ini, percakapan persaudaraan kembali mengalir dengan penuh cerita dan tawa.
Pada pukul 20.00 WIB, para peserta kembali berkumpul untuk mengikuti Sesi IV yang kembali dibawakan oleh Br. Medard Sihura, OFMCap. dengan tema “Pedoman bagi Pemazmur dan Organis.” Berbeda dengan sesi sebelumnya yang sangat ramai, suasana kali ini terasa lebih tenang, khusyuk, dan penuh perhatian. Para peserta mengikuti penjelasan dengan serius hingga sesi berakhir tanpa banyak pertanyaan, seolah setiap orang sedang mencerna dengan mendalam apa yang telah dipelajari.
Akhirnya, seluruh rangkaian kegiatan hari pertama ditutup oleh Kat. Ingatan Sihura, S.Ag. dengan beberapa pengumuman penting, terutama mengenai petugas untuk ibadat pagi dan misa keesokan hari. Penekanan diberikan agar para peserta mulai mencoba menerapkan materi yang telah dipelajari dalam pelaksanaan ibadat dan misa pagi. Lagu pembuka ibadat akan dipimpin oleh Bapak Ama Maria, doa oleh Sr. Claren, dan berkat oleh RD. Yusuf N. Lase, S.Fil., Lic.Th.
Hari pertama pelatihan pun ditutup dengan hati yang penuh syukur. Dalam perjumpaan, pembelajaran, dan kebersamaan hari ini, para peserta semakin disadarkan bahwa musik liturgi bukan hanya soal teknik bernyanyi atau memainkan alat musik, tetapi terutama merupakan pelayanan iman yang membantu umat berjumpa dengan Tuhan dalam perayaan liturgi. ujarnya mengakhiri. (AL)





