SINARPAGINEWS.COM, TANGERANG SELATAN — Dewan Nasional Indonesia untuk Kesejahteraan Sosial (DNIKS) memperkuat kolaborasi dengan lebih dari 40 organisasi penyandang disabilitas untuk mendorong akses kesehatan, pemberdayaan ekonomi, dan fasilitas publik yang inklusif. Upaya ini diarahkan agar kebutuhan penyandang disabilitas tidak berhenti menjadi agenda kampanye, tetapi mendapat dukungan nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Ketua Bidang Disabilitas DNIKS, R.A. Loretta Kartikasari, mengatakan kerja sama tersebut menjadi bagian dari gerakan DNIKS Gerak Inklusi yang diluncurkan pada Oktober 2026. Program ini mencakup empat fokus, yakni kesehatan, pemberdayaan ekonomi, akses wisata, serta pengembangan talenta dan budaya bagi penyandang disabilitas.
“Harapannya, DNIKS bisa menyuarakan, membantu, mendukung, dan menerjemahkan apa saja yang menjadi kendala serta kebutuhan teman-teman penyandang disabilitas,” ujar Loretta saat ditemui di sela-sela peringatan World Cerebral Palsy Day 2026 di Teras Kota, Tangerang Selatan, Minggu, (25/10/2026).
Menurut Loretta, salah satu persoalan yang perlu mendapat perhatian adalah pemenuhan alat bantu bagi penyandang cerebral palsy (CP). Kebutuhan mereka beragam, mulai dari kursi roda khusus, sepatu ortopedi, hingga perangkat penyangga tubuh yang harus disesuaikan dengan kondisi masing-masing.
Ia menilai dukungan kesehatan bagi penyandang disabilitas semestinya tidak hanya berfokus pada obat-obatan, tetapi juga mempertimbangkan alat bantu yang menunjang mobilitas dan aktivitas sehari-hari.
“Bukan hanya sekadar menyiapkan panggung atau menonjolkan talenta, tetapi kami juga mendorong sektor kesehatan, perekonomian melalui UMKM untuk penyandang disabilitas, serta wisata inklusif,” kata Loretta.
Selain kesehatan, DNIKS mendorong pemberdayaan ekonomi melalui usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Penyandang disabilitas diharapkan memiliki kesempatan yang setara untuk bekerja di sektor swasta maupun pemerintahan, serta mengembangkan usaha secara mandiri.
Menurut Loretta, akses terhadap pekerjaan dan kegiatan ekonomi penting agar penyandang disabilitas dapat berpartisipasi dalam masyarakat sesuai dengan kemampuan dan potensi masing-masing.
Fasilitas publik belum cukup hanya menyediakan akses
Loretta juga menyoroti pentingnya fasilitas publik yang ramah disabilitas. Pusat perbelanjaan, tempat hiburan, dan destinasi wisata perlu menyediakan sarana yang memungkinkan penyandang disabilitas beraktivitas dengan aman dan nyaman bersama keluarga.
Aksesibilitas, menurut dia, tidak sebatas menyediakan jalur bagi pengguna kursi roda. Fasilitas yang tersedia juga perlu mempertimbangkan kebutuhan pengguna, termasuk mereka yang mengoperasikan kendaraan dengan modifikasi khusus.
Kesempatan menikmati wisata dan ruang publik merupakan bagian dari kehidupan sosial yang juga perlu dijamin bagi penyandang disabilitas. Karena itu, DNIKS mendorong keterlibatan sektor swasta dalam menciptakan lingkungan yang lebih inklusif.
Di bidang seni dan budaya, DNIKS ingin memperluas kesempatan bagi penyandang disabilitas untuk menampilkan bakat, mulai dari peragaan busana hingga tari. Loretta menegaskan bahwa ekspresi seni tidak harus dibatasi oleh kondisi fisik.
Menari, misalnya, tetap dapat dilakukan dengan kursi roda atau alat bantu lain sesuai kebutuhan individu. Ruang partisipasi semacam ini diharapkan membantu masyarakat melihat kemampuan penyandang disabilitas, bukan semata-mata keterbatasannya.
Mengubah stigma melalui kesempatan yang setara
Loretta mengakui stigma terhadap penyandang disabilitas masih melekat di masyarakat. Menurut dia, perubahan cara pandang perlu disertai pemberian kesempatan yang setara agar penyandang disabilitas dapat menunjukkan kemampuan dan kontribusinya.
Ia mengingatkan bahwa keluarga yang mendampingi anak dengan disabilitas juga membutuhkan dukungan. Perjalanan pengasuhan yang panjang tidak seharusnya ditanggung sendiri, melainkan menjadi perhatian bersama komunitas, pemerintah, tenaga profesional, dan masyarakat.
Loretta juga membagikan pengalamannya sebagai penyandang ADHD dan disleksia. Ia mengatakan dukungan serta pendampingan berperan dalam membantunya memahami potensi diri dan menyelesaikan pendidikan.
Pengalaman tersebut memperkuat pandangannya bahwa lingkungan yang mendukung dan akses terhadap fasilitas yang sesuai dapat membuka kesempatan bagi penyandang disabilitas untuk berkembang.
Dalam peringatan World Cerebral Palsy Day 2026, ia mengapresiasi keluarga dan komunitas yang terus mendampingi anak-anak dengan CP. Ia berharap kerja sama DNIKS dengan Rumah Cerebral Palsy dan organisasi disabilitas lainnya dapat diperluas agar kebutuhan mereka memperoleh perhatian berkelanjutan.
“Harapan saya, kita juga bisa mendukung bukan hanya sekadar perayaan, tetapi bukti kerja nyata, kolaborasi, dan partisipasi semua pihak,” ujar Loretta.
Ia menegaskan, gerakan inklusi membutuhkan keterlibatan pemerintah, sektor swasta, organisasi penyandang disabilitas, organisasi sosial, dan tenaga profesional. Dengan kolaborasi tersebut, akses kesehatan, kesempatan ekonomi, serta fasilitas publik yang inklusif diharapkan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, bukan sekadar agenda seremonial.**






