SINARPAGINEWS.COM, BANDUNG BARAT – Forum Bela Negara Republik Indonesia ( FBN RI) Jawa Barat, hadiri acara diskusi budaya pertanian dan monitoring pelaksanaan bantuan program irigasi perpompaan (JIAT) yang digelar oleh kelompok tani dan ternak Barokah Sauyunan Bandung Barat.
Dengan tema “Membangun sinergitas kelompok pertanian bersama pemerintah dan lembaga swadaya masyarakat di Kabupaten Bandung Barat”, bertempat di Padepokan Meong Sempur Kampung Sempur Bajeg Desa Cicangkang Hilir Kecamatan Cipongkor Kabupaten Bandung Barat, Kamis, (30/1/2025).
Hadir sebagai narasumber diantaranya Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian, Dinas Koperasi dan UMKM Kabupaten Bandung Barat.
Adapun peserta Diskusi antara lain Tokoh Masyarakat Pertanian Bandung Barat, DPW Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Jawa Barat, DPW Tani Merdeka, FBN RI DPD Jawa Barat, Kelompok Tani dan Ternak Barokah Sauyunan yang diketuai oleh Agus Dadang Hermawan,SE. yang juga ketua Padepokan Meong Sempur serta tokoh masyarakat dan tamu undangan lainya.
Dalam sambutannya ketua FBN RI DPD Jabar, Drs.H.Darmawan, M.si. menyampaikan ” bawha selama ini Forum Bela Negara bukan diperuntukan untuk berperang, akan tetapi fungsinya adalah untuk menjembatani apa yang dibutuhkan masyarakat, termasuk juga dibidang Ideologi, Politik, Sosial, Budaya, Ekonomi , Pertahanan, Keamanan dan Digitalisasi.
Banyak sekali yang menjadi kewajiban dari kami, FBN DPD Jabar perlahan lahan akan bekerjasama dengan FBN yang berada dikabupaten kota, akan membina, mendidik, mengadakan Pendidikan Kesadaran Bela Negara ( PKBN) kepada masyarakat supaya lebih paham.FBN DPD Jabar sepakat bahwa petani di Indonesia harus melakukan sebuah inovasi ” ungkapnya.
Sementara Pembina pembina Yayasan Meong Sempur Saigel dan Formades DPW Jawa Barat Ir, Apung Hadiat Purwoko M.Si. yang biasa disapa Apih menyampaikan “bahwa bentuk keberhasilan pertanian dibutuhkan pertama penyuluhan yang cukup kedua adanya wadah yaitu Koperasi.
Dimana permasalahan kita adalah pasca panen dan market tidak akan masuk jika tidak ada wadah yaitu koperasi karena koperasi sebagai soko guru perekonomian rakyat, dari rakyat, untuk rakyat.
Petani juga harus berkolaburasi dengan pemerintah untuk hasil pertanian sendiri agar tercipta swasembada pangan adapun aspek yang harus dibenahi selain SDM, Pendidikan, ekonomi, infratuktur, dan terutama akhlak” ungka Apih.
Perwakilan DPW HKTI Jawa Barat Raka Wahyu, dalam sambutannya menyampaikan ” Kita harus bisa swasembada pangan dan sinergis agar sukses harus berbagi peran inovasi, kolaburasi, berekosistem berdaulat satu sama lain”.ungkapnya.
Adapun poin penting hasil daripada diskusi tersebut antara lain :
Kedaulatan pangan adalah salah satu concern FBN-RI, jadi mari kita se-Jawa Barat sama-sama berinovasi dan mencari solusi agar :
1.Petani Indonesia berkolaborasi dengan pemerintah untuk mendapat hasil pertanian sendiri, didukung oleh stakeholders untuk memperbaiki kebijakan dan aturan aturan supaya mau mengikuti keinginan petani.
Berkolaborasi dengan pemerintah, dan harus bersatu, petani tidak menjual gabah basah kepada tengkulak, Bulog turun ke lapangan pada setiap musim panen, harga Gabah Kering Giling (GKG) ditetapkan oleh negara seperti halnya UMR, KUD diaktfkan lagi, Bumdes ambil peran menyediakan permodalan untuk petani. Dimana presiden Prabowo baru saja menetapkan harga GKG Rp. 6.500,-/kg.
2.Warga Jawa Barat mampu menjaga lahan pertaniannya.
3.Petani adalah pemilik status dan tanah Indonesia sebagai negara agraris.
4.Untuk meningkatkan kemakmuran petani, mungkin bisa dipikirkan penanaman varietas padi khusus agar petani kita bisa ekspor.
5.Swasembada pangan adalah titik tolak Kedaulatan Pangan.(Lies)





