Cut Nyak Dien Pahlawan Pejuang dari Tanah Rencong Aceh Wafat di Sumedang

Pemimpin umum sinarpaginews.com melakukan ziaroh ke makam Ibu Ratu Cut Nyak Dien di pemakaman Umum Gunung Puyuh Sumedang

SINARPAGINEWS.COM, KAB.SUMEDANG – Hingga kini, mengenai perjuangan Cut Nyak Dien menjadi tokoh pemberani dan Inspiratif dalam sejarah Indonesia bagi kaum perempuan.

Cut Nyak Dien seorang pahlawan perempuan Indonesia dari tanah Rencong Aceh yang terkenal karena perannya dalam perang Aceh melawan Belanda.

Beliau lahir pada tahun 1848 dan meninggal dunia pada tahun 1908 dimakamkan di Gunung Puyuh Kabupaten Sumedang yang berasal dari keturunan keluarga bangsawan agamis di Aceh Besar.

Ketika usianya menginjak 12 tahun, Cut Nyak Dien menikah dengan Teuku Cek Ibrahim Lamnga yang juga berasal dari keluarga bangsawan, suaminya  saat bertempur pada tanggal 29 Juni 1878 gugur melawan kompeni Belanda.

Kemudian pada tahun 1880, Cut Nyak Dien menikah dengan Teuku Umar dan mempersilahkan ikut bertempur di medan perang.

Bergabungnya Cut Nyak Dien dikancah perlawanan melawan Hindia Belanda  berhasil meningkatkan moral semangat perjuangan rakyat Aceh dalam melawan Belanda, kemudian perang dilanjutkan secara gerilya.

Bergerilya untuk mengusir Belanda dari hari ke hari membuat kekuatan fisik Cut Nyak Dien menurun sehingga dirinya tidak lagi gesit berlarian dari hutan ke hutan.

Gubernur Hindia Belanda kala itu dijabat oleh Willem Rooseboom (1899-1904). Sementara yang ditugasi dalam perang Aceh, yakni Johannes Benedictus van Heutsz selaku Gubernur Militer dan sipil akhirnya berhasil untuk menangkap dan mengasingkan Cut Nyak Dien ke tanah Jawa yaitu daerah Sumedang.

Saat usianya beliau genap 58 tahun dari Lampadang Aceh ke pulau jawa  Sumedang diangkut menuju ke Kota Batavia (Jakarta) dengan menggunakan kapal laut selanjutnya jalur darat.

Dalam pengasinganya di tanah Jawa, Beliau ditempatkan di rumah salah satu tokoh Sumedang di masa itu KH. Ilyas seorang imam masjid agung Sumedang di Kampung Kaum Kelurahan Regol Wetan  oleh warga setempat dirinya diberi julukan sebagai Ibu Perbhu atau Ratu.

Kabupaten Sumedang waktu itu bupatinya dijabat oleh Pangeran Suria Atmadja atau Pangeran Mekah yang menjabat dari 1883 sampai 1919 Bupati terakhir yang memiliki gelar pangeran.

Di Sumedang walau dalam keadaan matanya kurang melihat Cut Nyak Dien mengajar ilmu agama menggaji Al-Quran sampai akhir hayatnya  meninggal dunia tanggal 6 November 1908 dan makamnya baru ditemukan pada 1959.

Presiden Soekarno melalui SK Presiden RI Nomor 106 Tahun 1964 kemudian menetapkan Cut Nyak Dien sebagai pahlawan nasional pada 2 Mei 1962.

Rumah pengasingan Cut Nyak Dien di Sumedang sampai sekarang menjadi situs bersejarah yang menjadi saksi bisu perjuangan pahlawan perempuan asal  tanah Rencong Aceh yang gigih dan pemberani.

Oleh: Warya Sumirta Manggala. (Pemimpin Umum dan Redaksi sinarpaginews.com)

Sumber : Sejarah Pahlawan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *