SINARPAGINEWS.COM, SUMEDANG – Senin pagi, 15 September 2025, halaman SMAN Tomo tampak lengang. Di sudut gerbang, seorang wartawan Poskota.TV, inisial E, berdiri dengan raut kecewa. Ia datang dengan niat sederhana: menepati janji silaturahmi dengan kepala sekolah. Janji itu sudah terucap sejak Kamis lewat pesan singkat. Namun, janji tetaplah janji. Sang kepala sekolah tak kunjung muncul.
“Yang menemui saya selalu humas. Kepala sekolahnya seolah tidak mau berhadapan,” kata E.
Perasaan itu kian menyesakkan karena hari itu E sengaja melewatkan agenda resmi Forkopimda hanya demi janji bertemu.
Bagi seorang jurnalis, waktu adalah komitmen, dan penghargaan sekecil apa pun punya arti. “Saya datang bukan untuk mencari keuntungan. Saya ingin menjaga komunikasi, memberi masukan kalau ada hal-hal yang mengganggu aktivitas sekolah,” ucapnya.
E mengaku heran dengan sikap kepala sekolah yang tak pernah bersedia diwawancara langsung. Setiap kali liputan ke SMAN 1 Tomo, pintu selalu berhenti di meja humas. Bahkan pesan singkat pun kerap tak berbalas. Padahal, menurut E, konfirmasi langsung dari kepala sekolah adalah bagian penting agar berita yang disampaikan sahih.
“Seolah-olah ada yang sengaja ditutup. Kalau memang bersih, kenapa sulit sekali ditemui?” ujar E, penuh tanda tanya.
Kekecewaan itu lalu berubah jadi kecurigaan. Apakah sikap tertutup ini hanya soal gaya kepemimpinan, atau justru cermin adanya masalah yang tak ingin terbuka ke publik? Terlebih, sejumlah media sebelumnya sempat memberitakan dugaan penyimpangan di SMAN 1 Tomo.(Yudhistira)






